THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Varia»Hidup di Aceh Tak Aman, Selalu Harus Siaga Bencana


Hidup di Aceh Tak Aman, Selalu Harus Siaga Bencana
Kamis, 09 Agustus 2012 17:41 WIB

Banda Aceh - Kepulauan Simeuleu, Aceh memang menjadi langganan gempa. Bahkan masyarakat yang tinggal di sana memiliki kearifan lokal, ketika gempa besar terjadi.

Mereka akan lari ke perbukitan karena diyakini akan disusul dengan gelombang tsunami atau dalam bahasa Simeulue disebut smong. Kenapa gempa sering melanda kawasan ini?

Secara geologis Kepulauan Simeuleu berada di atas persimpangan tiga palung laut besar pada pertemuan lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. 

"Munculnya Pulau Simeuleu itu memang dari hasil tabrakan lempeng. Jadi kalau ada gempa di laut, imbasnya pertamanya memang ke Simeulu karena itu paling dekat," terang Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Faizal Adriansyah disela peluncuran bukunya berjudul "Aceh Labroratorium Bencana" di Gedung Hyogo, Darussalam, Banda Aceh, Rabu (8/8/2012).

Gugusan Kepulauan Simeuleu terdiri dari lebih kurang 40 pulau kecil dan besar. Simeuleu posisinya sama dengan segmen Nias dan Mentawai karena sama-sama terbentuk dari hasil tabrakan lempeng, serta menjadi kawasan langganan gempa atau dalam bahasa lokal Simeuleu disebut lindu. 

Dari posisi garis subduksi, pulau ini diketahui berada pada titik pertemuan segmen Nicobar-Andaman dan Nias-Simeuleu. Di bagian tengah pulau terdapat sistem tektonik seperti pelana. Dimana kalau gempa terjadi di salah satu segmen itu, maka sisi yang berlawanan dengan segmen akan terangkat.

Menurut Faizal, penghujaman Pulau Simeuleu posisinya berbeda dengan penghujaman di Pulau Jawa. "Di Jawa sebenarnya ada juga cuma berada di bawah laut, tidak muncul ke permukaan laut," ujarnya.

Begitu pula halnya dengan penghujaman Pulau Sumatera yang lebih keras dibanding penghujaman Pulau Jawa, sehingga letak Sumatera bengkok, tak sejajar dengan Pulau Jawa.

"Secara pemahaman geologi Sumatera itu sejajar sama Jawa, karena ditambah lempeng keras jadi dia terangkat," jelas Faizal.

Wilayah Indonesia, khususnya Aceh dan Pulau Simeuleu, lanjut dia, tidak bisa dipisahkan dengan bencana, karena kawasan ini berada pada daerah cincin api. Hal yang harus dilakukan adalah menyiapkan diri menghadapi bencana dengan memahami pengurangan risiko dari bencana, untuk meminimalisasi korban jiwa saat bencana.

Di sisi lain, Faizal Adriansyah mengatakan, buku "Aceh Laboratorium Bencana" sebagain besar adalah kumpulan tulisannya tentang kebencanaan sejak tahun 90-an yang pernah di muat media massa. 

Dalam sebuah tulisan berjudul 'Mengapa Tanahku Terjadi Bencana' yang pernah dimuat koran lokal di Aceh pada 1992, Faizal menulis tentang potensi tsunami sangat besar akan terjadi di Aceh. Artikel ini terkait tsunami Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 12 Desember 1992 yang menimbulkan sekira 2.000 korban jiwa dan menenggelamkan Pulau Babi.

Sayangnya tak ada kesiagaan dari pemerintah dan masyarakat di Aceh dalam menghadapi bencana saat itu, sehingga saat tsunami melanda pada 26 Desember 2004, lebih 200 ribu orang meninggal dunia. 

"Saat itu tidak banyak penulis yang menekuni tema bencana alam geologi, khususnya di Aceh. Ini bisa dimaklumi karena disiplin ilmu geologi masih dianggap asing oleh sebagian masyarakat. Orang mengenal geologi biasanya lebih ke soal-soal bahan tambang," katanya. 

 

Hidup Di Aceh Tak Aman, Rawan Bencana

“Kita tidak bisa mengatakan Aceh bebas dari bencana, karena  Aceh daerah rawan bencana dan hidup di daerah bencana tentu tidak aman. Dengan ketidakamanan tersebut perlu pemahaman yang baik terhadap pengurangan risiko bencana agar menjadi aman,” kata Faizal yang juga Kabid Kajian Aparatur PKP2A IV LAN Aceh.

Karena itu ia menyarankan agar pemerintah pusat, provinsi dan  kabupaten/kota terutama Simeulue perlu mendapat perhatian serius terhadap peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pengurangan risiko bencana, karena Aceh daerah rawan bencana.

Ia menambahkan, banyak negara seperti Jepang belajar dari bencana alam yang terjadi di penghujung tahun 2004 di Provinsi Aceh sehingga ketika musibah itu datang mereka dapat meminimalkan jatuhnya korban jiwa.

Masyarakat yang tinggal di provinsi berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa itu juga diimbau untuk dapat memahai karakterisktik bencana sebab dengan memahami bencana tersebut akan menjadi salah satu upaya meminimalkan jatuhnya korban jiwa yang ditimbulkan akibat bencana tersebut.

 

[001-Okezone, Antara, BeritaSore, MetroTV]







Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close