Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Jalan-Jalan»Yan Keudah Pasok Senjata ke Aceh


Yan Keudah Pasok Senjata ke Aceh
Oleh H Harun Keuchik Leumiek
Senin, 18 Februari 2013 23:41 WIB

PERTENGAHAN November 2012, pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh beserta ibu-ibu Bidang Putroe Phang MAA mengadakan kunjungan muhibah ke beberapa negara bagian Malaysia. Kunjungan pertama ke Kampung Aceh Yan Keudah Darul Aman Malaysia. Rombongan yang dipimpin Kepala Sekretariat MAA Aceh, Drs Yusri Yusuf MPd dan Dra Hj Zulhaffah Luthfi MBA dari Putroe Phang. Setiba di Kampung Yan, rombongan disambut pengurus Ikatan Masyarakat Aceh Malaysia (IMAM), antara lain oleh H Abdurahamnan Yasin (Setia Usaha IMAM), H Muhammad Noor Ibrahim (Ketua Koperasi Sabena), dan beberapa pengurus IMAM lainnya, yaitu Mohd Ilias Nyak Saad, Abd Malik Taib, Yusof Oerip, Abd Aziz dan kaum ibu keturunan Aceh lainnya di kampung ini.

 

Sementara dari MAA yang turut ikut dalam pertemuan silaturahmi penuh keakraban itu antara lain Drs HM Ali Latief, Drs Marzuki, Fazil Fadhil, dan Drs H Arifin Ibrahim MBA, dari Biro Perjalanan Atrabu.

Pertemuan yang dipusatkan di Kampung Aceh Management Centre (KMKC) itu, merupakan suatu tempat yang lumayan luas, teduh dan asri yang dikelilingi pegunungan dan sungai serta pepohonan rindang yang terpelihara baik. Di tempat itu dibangun berbagai fasilitas di antaranya tempat pertemuan yang diberi nama Bale Teungku Haji Muhammad Dahan.

Di KMKC ini juga disediakan berbagai kelengkapan fasilitas lainnya, seperti pemondokan untuk pejabat, serta beberapa rumah penginapan yang lengkap dengan kamar mandi, TV dan AC, kemah, dewan terbuka, kantin, surau, gimnasium, kolam renang mini, dan tempat pemandian di sungai, serta pondok istirahat, landskap dan lain-lain.

Kampung Aceh di Yan Keudah Malaysia ini adalah perkampungan yang khusus dihuni orang Aceh. Mereka kebanyakan keturunan keempat dan masih menguasi bahasa Aceh dengan fasih.

Hal itu terlihat dalam acara pertemuan yang dipandu Cek Gu H Ilias Nyak Saad, salah seorang keturuan Aceh dan pengurus IMAM. Dia menggunakan bahasa Aceh secara fasih ketika menyampaikan sambutannya dalam pertemuan antara rombongan MAA dengan masyarakat Aceh di Yan Keudah Malaysia.

Dari MAA, yang turut menyampaikan kata sambutannya adalah Yusri Yusuf, penulis, yang dilanjutkan Ketua Koperasi Sabena H Mohd Noor Ibrahim (IMAM).

Sejarah kedatangan

Sejarah awal kedatangan orang Aceh ke Yan Keudah yaitu pada saat perang Aceh melawan Belanda. Kala itu banyak ulama Aceh yang mendapat tekanan dari Belanda terpaksa memilih merantau ke negeri orang. Karena saat perang melawan Belanda, ulama-ulama Aceh sangat berpengaruh dan ditakuti Belanda, sehingga para ulama Aceh banyak yang dicari-cari Belanda, mereka banyak yang hijrah ke semenanjung Malaysia.

Namun bukan mereka ingin menyelamatkan diri, tetapi justru sebagai usaha penentangan terhadap Belanda dari jauh. Para ulama yang merantau ke Keudah, terutama ke sekitar Yan Malaysia kala itu, berusaha mencari dana untuk membeli senjata dan mengirimkan ke Aceh guna membantu peperangan di Aceh melawan Belanda.

Boleh dikatakan, pada periode awal kedatangan orang Aceh Ke Yan Keudah yang terdiri dari beberapa orang ulama, sebagaimana tradisinya di Aceh, mereka juga membangun sarana pendidikan keagamaan, seperti surau dan dayah. Sehingga, kemunculan beberapa ulama Aceh di Yan Keudah mengangkat dan membuat nama orang Aceh semakin disegani penduduk setempat.

Pada periode awal, ulama Aceh yang datang ke sini antara lain Tengku Di Bale, Sheikh Omar (ayah Tengku Md Dahan) dan Teungku Lam Suro yang membangun surau berhampiran rumah masing-masing. Sheikh Omar kemudian lebih dikenal dengan nama Teungku Umar Diyan. Anak-anaknya kemudian juga dikenal sebagai ulama berpengaruh baik di Aceh maupun di Yan Keudah. Tgk H Hasballah Indrapuri, Tgk Md Dahan,dan Tgk Abd Hamid, yang ketiganya meninggal di Yan Keudah. Selain itu, juga ada beberapa ulama Aceh lainnya yang tinggal di sini, tapi kemudian kembali ke Aceh, seperti Tgk Syeikh H Hasan Krueng Kalee dan Tgk Hasballah Lambhuk.

Pendirian madrasah

Di antara orang Aceh yang mula-mula memajukan pengajian dan pendidikan di Yan Keudah adalah Teuku Abdul Jalil yang sebelumnya belajar di Lamno, Aceh Barat. Dia meneruskan pendidikannya di Montasik bersama Ali Hasjmy. Setelah itu Abdul Jalil meneruskan ke pengajiannya ke Perguruan Tawalib di Padang Panjang (Sumbar). Setelah itu, Abdul Jalil melanjutkan pendidikannya ke India.

Dalam perjalanan itu Abdul Jalil singgah di Pulau Pinang dan berjumpa dengan banyak orang Aceh di sana. Dia lalu bergabung dengan para santri dan ulama di Madrasah Irsyadiah Kampong Aceh di Yan Keudah.

Madrasah Irsyadiah yang dikenal di pelosok Nusantara kala itu didirikan seorang ulama warak, Tgk Muhammad Arsyad (Tgk Di Bale) sekitar 1900. Selama tinggal di Yan Keudah, Abdul Jalil melihat perlunya sekolah agama untuk pendidikan anak-anak kampung ini, terutama untuk anak-anak Aceh. Maka sebagian dana yang akan dikirim ke Aceh untuk biaya perang menentang Belanda saat itu digunakan bagi mendirikan sekolah agama di Yan Keudah.

Dengan dana itu, termasuk zakat, wakaf, dan pengumpulan beras segenggam, maka Abdul Jalill dapat mendirikan sekolah anak-anak di Yan Keudah.

Setelah itu, dia meneruskan niatnya menuntut ilmu ke India di bidang doktor filsafat dalam bidang humanisme. Dia menguasai beberapa bahasa seperti Urdu, Arab, Inggris, Belanda, Rusia dan lain-lain. Pada 1952, Abdul Jalil kembali ke Lamno bersama keluarganya, dan meninggal dunia 23 Juni 1963 dalam usia 46 tahun, dikebumikan di kampung halamannya di Lamno.

Menjaga adat

Orang Aceh yang merantau ke Yan Keudah antara 1888-1925 banyak yang berasal dari Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara (Samalanga), Aceh Timur dan Aceh Barat. Semula mereka saat itu menetap di tiga daerah, antaranya di Merbok, yang kemudian bergerak ke Ruat sebelum akhirnya menetap di Yan Keudah sampai sekarang.

Dalam periode selanjutnya, yaitu antara 1890-1900-an, banyak orang Aceh yang merantau ke Penang untuk berniaga. Mereka ada yang terus datang ke Kampung Yan Keudah untuk membuka perkebunan karet, lada dan cengkeh, bahkan ada yang mendirikan kilang asap.

Ketika Jepang menguasai Tanah Melayu pada Perang Dunia II, semua kilang ini lumpuh tak bisa beroperasi lagi sehingga orang Aceh yang ada di Yan Keudah banyak yang beralih usaha ke perniagaan dan industri seperti kilang padi, kilang papan, gudang asap, pengangkutan (transportasi) dan lain sebagainya.

Meski mereka sudah menjadi penduduk di negeri orang, namun mereka tetap menjaga adat-istiadat Aceh, seperti adat perkawinan, cara berpakaian, struktur bangunan rumah. Semuanya mengikuti sistem adat istiadat Aceh. Bahkan sampai kebiasaan kanduri (kenduri), seperti memasak kanji rumbi saat bulan puasa dan gulai kambing nangka.

Meski sekarang banyak di antara mereka yang meninggalkan Yan Keudah untuk merantau guna membuka usahanya, seperti berdagang, kontraktor, dan bahkan ada yang menjadi pejabat kerajaan di beberapa tempat seperti di Pulau Pinang, Alor Setar, Kuala Lumpur, Sungai Petani dan tempat-tempat lainnya di Malaysia, namun mereka tetap pulang ke Yan Keudah bila ada acara khanduri Maulid Nabi Muhammad SAW dan pada setiap menjelang Hariraya Idulfirti dan Idul Adha.

Demikian pula bila ada acara perkawinan sanak saudaranya, kedatangan tamu dan acara musyawarah lainnya, mereka semua yang di rantau, tetap menyempatkan diri pulang ke Yan Keudah untuk bersama dalam berbagai acara di kampung halamannya.

Sekarang, jumlah penduduk Aceh di Kampung Yan Keudah sekitar 30-40 kepala keluarga (KK). Mereka yang masih tetap sebagai pengurus IMAM dan Koperasi Sabena adalah H Abdul Rahman Yasin, H Abdul Malik Taib,Yusuf Oerib dan beberapa orang lainnya.

Ketua IMAM sendiri dijabat oleh Tansri Sanusi Junid. Dia tetap tinggal di Kuala Lumpur yang kini tengah merencanakan mendirikan sebuah rumah sakit yang diberi nama Jeumpa Hospital.

Untuk menjaga kelestarian bahasa Aceh bagi masyarakat Aceh yang ada di Malaysia, terutama di Yan Keudah, IMAM menerbitkan sebuah buletin bulanan berbahasa Aceh bernama "Narit Geutanyo" dengan pengarang antara lain Merza Abbas, Mohd.Noor Ibrahim, Abdul Rahman Yasin, Yusof Oerip, Nazariah Karim, Jazni Gani, Syamsuddin Usman, Cut Farhah A.Rahman, Mohd. Ilias Nyak Saad dan Abd,Malik Taib, Buletin ini diedarkan ke seluruh masyarakat Aceh yang ada di Malaysia. [005]

Sebelumnya tulisan ini sudah dimuat di Harian Analisa.




    ERROR Query: 190


Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close