Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Jalan-Jalan»Puasa 16 Jam dan Menu Berbuka Gratis di Negeri Tiongkok


Puasa 16 Jam dan Menu Berbuka Gratis di Negeri Tiongkok
Baihaki M Yahya*
Sabtu, 11 Agustus 2012 13:53 WIB

Butuh 16 jam berpuasa di Negeri tirai bambu,  disini siang hari lebih panjang.  Pukul 3.00 pagi adalah waktu sahur dan berbuka pukul 8.00 malam. Suasana ramadhan di Provinsi Jiangxi  sama seperti hari hari biasa, karena tidak seluruh warga disini memeluk agama Islam. Ada sekitar 4000 umat muslim di kota Nanchang. Kebanyakan dari mereka bukan penduduk asli provinsi Jiangxi dan kota Nanchang.

Hanya ada dua mesjid di kota ini, yang satunya belum bisa difungsikan secara maksimal, mesjid yang lama ini terletak di pusat kota Nachang. Ukuran mesjid lama tidak begitu besar, bangunannya seperti ruko. Memiliki dua lantai, hari jum’at mesjid ini selalu penuh.  Jarak  tempuh dari kampus ke mesjid berkisar satu atau dua jam perjlanan dan 3/2 kali berganti bus untuk menjangkaunya. Belum lagi macet dan menunggu kedatangan bus di halte.

Lain halnya jika sudah melewati jam 7 malam, hanya tersisa satu bus yang menuju ke arah kampus, itu pun kami harus bergerak menuju halte pertama yang jaraknya lebih jauh dari mesjid. Ujung-ujungnya taxi sebagai pilihan akhir dengan biaya 40-50 yuan berkisar 60-70 ribu rupiah. Hal demikianlah yang mengharuskan kami ke mesjid seminggu sekali itupun pada hari Jum’at saja.

Dalam khutbahnya hari itu (Jum’at 10 Agustus 2012) ia lebih menyeru para jamaah untuk lebih giat dalam beribadah pada bulan puasa, dan menghidupkan malam hari dengan beribadah. “hari demi hari ramadhan pun akan pergi, namun belum ada kata terlambat, marilah kita bersegera mengambil seluruh waktu yang tersisa untuk beribadah” ucap Muhammad Musa selaku khatib Jum’at di Mesjid dengan bahasa Chinese.

Seusai shalat jum’at saya dan teman teman lainnya memilih untuk beristirahat sejenak di mesjid, sehabis menempuh perjalanan panjang untuk menuju mesjid. Beberapa jama’ah juga tidak lagi kembali ke rumah mereka memilih duduk di mesjid.

Di shaf terdepan ada ahong Musa dan bilal yang sedang membaca qur’an, dengan beberapa jamaah lainnya yang duduk melingkar, hanya sang imam dan bilal saja yang membaca al-quran, selebihnya menyimak saja, karena tidak semuanya mampu membaca Alqur’an.

Disisi lain ada 7 anak kecil yang sibuk bermain sambil menghafal, mulut mereka terus berkomat kami, namun saya tidak mengerti mereka sedang menghafal apa. Sedangkan saya dan teman teman yang tidak mudik ke Indonesia duduk di shaf paling belakang.

Tiba-tiba seorang nenek yang berumur 80 tahun menghampiri kami,  Dia membawa sesuatu dalam kresek hitam dan memperlihatkannya “Lihat saya pernah ke Ka’bah,” tuturnya dalam bahasa Mandarin sambil menyodorkan album foto miliknya. “Ini foto-foto kenangan saya, kalian boleh melihat saya mau menyimak ahong membaca Alquran,” lanjutnya lalu pergi. Imam mesjid dalam bahasa China disebut “ahong”, ahong Muhammad Musa adalah imam tunggal di mesjid Nanchang provinsi Jiangxi.

Berbalut jilbab putih, keriput di wajah tidak begitu kentara dari kejauhan, giginya masih rapi dan lengkap, jalannya juga masih kuat, dan masih mampu berjalan jauh Ayi sapaan akrab kami kepadanya, ia berangkat umrah tahun 2007 silam.  Ia pula yang tidak mengizinkan kami untuk meninggalkan mesjid kala itu. “Kalian jangan pulang, buka puasa disini ya,” suruhnya. Kami pun mengangguk dengan semangat. Di China sangat sulit mencari jajanan yang berlabel halal. Jika sudah ada tawaran yang demikian, ini pasti halal karena yang menawarkan juga orang muslim.

Saya dan Tono sedang sibuk melihat lihat foto kenangan Ayi saat berumrah, di samping kami ada gadis kecil. Ia yang mengenalkan siapa saja yang berada dalam foto ayi. Umurnya beranjak sembilan tahun, rambutnya hitam dan panjang, kulit kuning langsat dan mata sipit, sangat kentara kalau dia adalah orang China, Fa Dong Mai namanya. Orang tuanya berasal dari Guangdong, sebuah provinsi pesisir terletak di selatan China. Ia terlahir di Nanchang. Ia dan adik laki lakinya menemani kami dan sambil bercanda.

Fa dong mai, panggilku, “ni hui du gu lan jing  ma? (apakah kamu mampu membaca qur’an? Tanyaku. Lalu sahutnya “wo haimei xue guoyoude hui youde bu hui saya belum belajar membaca qur’an, ada yang bisa ada yang tidak)jawabnya dengan senyum. Lalu saya pun menyuruh adiknya untuk mengambil Qur’an yang berada di shaf depan.

Su Lai Man adik nya  Fa Dong Mai pun mengambil iqra’ dan membawanya kepada saya. saya mulai membuka perlembarnya, ia mengenal seluruh huruf  hijaiyah, ia membaca dengan lancar tanpa salah, sangat cepat. saya pun membuka lembar berikutnya, disini huruf–huruf hijaiya sudah tersambung-sambung tidak lagi tunggal, ia mulai kewalahan membacanya. “zhege hai meixue guo (ini belum saya pelajari)ujarnya. “Haode meiguanxi ba” (ya sudah tidak masalah) sahutku menyemangatinya.

xianzai wo wen ni huida (sekarang anda jawab pertanyaan saya), tanya Fa dong Mai pada saya, “el islamu shi shenma? at tauhid shi shenme? as syahadah shi shenme? (apa definisi dari Islam, tauhid dan syahadah) tanyanya.  Saya dan Tono hanya bisa tertawa, “wo buhui huida gen zhong wen (saya tidak bisa menjawab dalam bahasa China) sahutku.

Lalu ia menjawab sendiri pertanyaanya dengan lancar tanpa terputus-putus. Wow saya tercengang melihatnya. ia menghafal seluruh definisi tadi dalam mandarin begitu lancar. “nanti sore kita akan menghafalnya didepan jama’ah shalat ashar,” sambungnya.

Kumandang azan ashar pun tiba, kami bergegas mengambil wudhu dan shalat berjama’ah. Seusai shalat Ahong mengintruksikan jamaah untuk duduk melingkar, satu persatu teman-teman Fa Dong Mai menyetor hafalan mereka dan yang lain ikut melafazkannya. Di sudut kiri ada seorang guru yang bersurban putih duduk memerhatikan dan menyimak hafalan anak-anak  dengan sebilah bambu berukuran kecil ditangannya. Mang Laoshi namanya. Bila si anak lupa hafalanya maka bambu itu  pun menghampiri tangan mereka, sekali salah sekali pukul.

Ternyata tak hanya anak  seumuran Fa Dong Mai saja yang menjadi santri Mang laoshi. Bahkan ayah Fa Dong Mai dan seumurannya, juga menjadi murid saat itu, anak anak dan orang dewasa pun satu persatu menyetor hafalan mereka, hukumannya juga sama. Sekali salah sekali pukul.

Menurut Mang laoshi “tidak banyak yang mampu membaca quran disini tapi mereka tidak buta huruf  hijaiyah, kalau anak anak ya maklum lah, nah kalau orang dewasa bagaimana, hal yang demikian tak hanya di Nanchang saja, ditempat lain juga seperti itu” ujarnya.

Waktu berbuka pun tiba, seluruh jamaah turun ke lantai satu untuk menyatapi ta’jil berbuka. Diatas meja sudah terhidang ta’jil yang sangat sederhana, tak ada kolak, cendol, es teller, air tebu dan penganan ramadhan seperti di Indonesia, apalagi timphan dan lemang yang menjadi makanan khas Aceh. Yang ada hanyalah teh China tanpa gula, semangka, dan kurma, disisi lain ada bubur sup buatan ayi-ayi namun sup itu tidak boleh disantap sekarang, nanti setelah shalat tarawih usai.

Sang imam langsung bergegas kelantai dua setelah menyantap kurma dan semangka, beberapa jama’ah juga bergerak ke arah yang sama, kami pun begitu. Shalat magrib pun usai dilaksanakan, karena mereka bermazhab Hanafi, usai shalat wajib tidak membaca wirid tapi segera melakasanakan shalat sunnah ba’diyah. 

Saya masih larut dalam wirid, 10 menit kemudian Fa Dong Mai dari shaf belakang menghampiri saya dan berbisik, “da ge ni wan le ma” (kakak apa sudah selesai wiridnya) saya mengangguk pertanda iya. Lalu, tambahnya “lai wo men chi ba (mari kita makan untuk berbuka) ajaknya. Saya dan teman teman lainya pun bergerak untuk makan.

Tadinya saya tidak melihat ada hidangan makan nasi dan lauk pauk lainnya, juga tidak ada aktivitas apapun di dapur mesjid. “Kita makan di luar, kalian ikut saja dengan yang lainnya, jangan takut semuanya halal kok” canda ahong Musa. Beberapa muslim telah tiba lebih dulu ditempat yang dimaksud, kami pun dipersilahkan duduk, lalu menyantap sepuasnya.

Di meja makan sudah terhidang, roti tawar, semur daging ayam, daging sapi, ikan goreng kremes, jamur hitam, mie hun dan beberapa menu lainnya, tak ada nasi memang, namun jika ingin nasi kami bisa memesannya, juga bisa memesan “la mian” (mie besar khas China).  Menariknya lagi, seluruh makanan diatas meja boleh di dabao (alias bungkus bawa pulang) bungkusannya pun disediakan.

Harga makanan permejannya berkisar 250 yuan atau setara dengan 400 ribu rupiah. Total seluruhnya berkisar 1000 yuan.  Kami tidak perlu merogoh kocek karena ini semuanya gratis alias ditanggung oleh pemilik kantin muslim, kegiatan ini berlangsung selama bulan ramadhan. Kantinnya pun berganti ganti, moment ini disambut baik oleh pemilik kantin muslim di China, bahkan mereka menunggu giliran kapan kantinnya didatangi oleh jama’ah muslim yang ingin berbuka. Mereka menyakini sebuah pepatah lama “semakin banyak berbagi dan memberi maka semakin banyak pula yang akan kembali”

Sama seperti ummat muslim lainnya, di China shalat trawih juga dilaksanakan berjamah setelah shalat isya, shalat tarawih berjumlah 23 rakat plus witir, disini tidak ada yang mengerjakan delapan rakaat seperti di Indonesia.  Mereka bermazhab Imam Hanafi.

Shalat isya dan tarawih pun segera tiba, waktunya kami berbegas untuk kembali ke mesjid menunaikan kewajiban, malam itu ada sekitar 40an orang yang ikut shalat isya dan tawarih serta witir, jumlah ini tetap sama hingga shalat berakhir. Sup bubur buatan ayi sudah menunggu dibawah. Sup bubur ini berisi buah buahan, saya dan teman teman tidak tau sup ini berisi buah apa walaupun ayi sudah menjelaskan dalam bahasa China proses pembuatanya.

Fa dong Mai dan adiknya pulang lebih awal, “da ge, wo xian zou bye bye” ucapnya, zaijian jawabku. Jam sudah menunjukan pukul  22.30. saatnya kami pamit, diakhir pembicaraan Ayi meminta kami untuk selalu berbuka di mesjid. “Besok kalian kembali dan berbuka lagi disini” pintanya. Namun apa hendak dikata perjalan yang jauh, dan keuangan perantau yang terbatas menghambat kami untuk selalu datang kerumah Allah di China.

Suatu pengalaman, pelayanan dan jamuan berbuka puasa terbaik di negri yang minoritas muslim, walaupun berbeda negara, budaya dan bahasa.  Hal ini menjadi kenikmatan dan kemudahan bagi kami para pelajar di Negri dongeng kungfu panda. Mencari jajanan halal memang gampang gampang susah, namun oleh_Nya. selalu di permudah, Terimakasih untuk ummat muslim di China. [005]

*Penulis merupakan alumni Fak Dakwah IAIN Ar-Raniry. Saat ini sedang mengikuti studi di Nanchang University, China. 






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close