THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Jalan-Jalan»Lima Hal Ini Cuma Ada di Singapura


Lima Hal Ini Cuma Ada di Singapura
Kamis, 27 September 2012 10:53 WIB

Singapura - Sebagai negara yang lebih muda ketimbang Indonesia, Singapura mengalami kemajuan pesat. Banyak inovasi yang dilakukan pemerintah Singapura untuk menata kehidupan penduduknya. Ketika bertandang ke Negeri Singa itu, seorang pemandu wisata, Jean, berseloroh soal lima hal yang cuma ada di Singapura.

1. ERP
ERP adalah sistem jalan berbayar bagi kendaraan yang melintasinya. Secara sistem, ERP tak berbeda jauh dengan jalan tol di Indonesia. Namun ERP tak memiliki loket penarik tarif dari pengemudi. Pemerintah Singapura memiliki alat yang menarik langsung uang pengemudi dari rekening mereka. Dan perangkat itu tersebar di muka jalan yang banyak dilalui kendaraan.

"ERP bukan electronic road pricing, tapi everyday robe people. Karena tarifnya sungguh mahal," kata Jean, Jumat, 21 September 2012.

2. Sudut berbicara atau speak corner
Sama seperti Indonesia yang mengusung asas demokrasi, pemerintah Singapura mengizinkan masyarakatnya untuk mengemukakan pendapat di muka umum. Tapi mereka tak boleh berunjuk rasa di sembarang tempat. Untuk itu, pemerintah Singapura menyediakan speak corner atau pojok berbicara. Untuk mengeluarkan uneg-unegnya di muka umum, demonstran harus mendaftar dulu ke instansi pemerintah.

"Tapi tak ada juga yang berbicara di sana karena setiap orang sibuk. Dan tidak ada yang mendengarkan karena mereka malas berpanas-panasan," kata Jean.

3. Kincir raksasa
Flyer, sebuah kincir raksasa yang berada di selatan Singapura. Tepatnya dekat dengan Marina Bay. Kata Jean, tiap penumpang Flyer bisa melihat seluruh Singapura dari atas, dan sebagian Pulau Sumatera. Dan untuk itu, diperlukan waktu 30 menit setiap satu putaran. "Kincir ini pun lebih besar daripada yang ada di London," ujar Jean.

4. Mobil akhir pekan
Guna menekan jumlah kendaraan di jalanan, pemerintah Singapura menerapkan dua sistem kendaraan pribadi: mobil hari kerja dan mobil akhir pekan. Secara umum, tak ada yang beda dengan dua kendaraan roda empat itu. Pelat nomornya saja tidak sama. Mobil akhir pekan berpelat merah dan mobil hari kerja berpelat hitam.

Kata Jean, mobil akhir pekan hanya bisa dipakai pada Sabtu, Ahad, hari libur nasional, dan setiap hari di atas pukul 19.00. Sedangkan mobil hari kerja bisa dipakai kapan pun. "Mobil akhir pekan boleh dipakai di jam kerja, tapi harus izin dulu dan akan ditarik bayaran tinggi," ujarnya.

5. Rumah kuli
Di kawasan China Town, kata Jean, terdapat rumah kuli atau coolie house. Bangunan itu berlantai tiga dengan luas ruangan sekitar 60 meter persegi. Dinamakan rumah kuli karena di zaman dulu memang digunakan sebagai tempat tinggal pekerja bangunan asal Cina.

"Satu ruangan bisa dihuni 223 kuli, tanpa sekat kamar dan toilet. Tapi sekarang bangunan itu sudah berubah jadi restoran," kata dia.

[004-tempo]






Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close