THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Teknologi»Thailand Jadi Negara Pertama Dukung Sensor Twitter


Thailand Jadi Negara Pertama Dukung Sensor Twitter
Selasa, 31 Januari 2012 00:00 WIB
Bangkok - Langkah Twitter untuk melakukan sensor konten lokal menuai protes dari banyak pihak. Di tengah kontroversi itu, Twitter akhirnya mendapat dukungan internasional pertama dari Pemerintah Thailand, Senin (30/1).

Sekretaris Permanen Kementerian Teknologi dan Informasi Thailand, Jeerawan Boonperm, mengatakan, langkah Twitter ini adalah "perkembangan yang harus disambut baik".

Pihaknya akan menghubungi Twitter untuk memulai kerja sama pada fitur sensor konten lokal tersebut.

Tak hanya dari pihak pemerintah, kelompok oposisi pun mendukung langkah tersebut. Mallika Boonmetrakul dari Partai Demokrat, sejak akhir 2011, berupaya mengumpulkan dukungan untuk memblokir situs media sosial dari barat.

Menurut Boonmetrakul, Thailand patut mencontoh sepak terjang China dalam usaha memblokir layanan internet yang dianggap mengganggu stabilitas negara.

Sikap yang diambil oleh Pemerintah Thailand ini merujuk dari Undang-Undang Lese Majeste, sebuah aturan yang melarang warga Thailand mengejek keluarga kerajaan.

Para aktivis Thailand mengatakan, Lese Majeste semakin dipolitisasi dan digunakan sebagai alat represi, bukan sebagai cara untuk melindungi monarki.

Sebelumnya, Pemerintah Thailand pernah meminta Facebook untuk menghapus lebih dari 10.000 halaman yang dianggap melanggar Lese Majeste. YouTube juga pernah kena komplain pada 2006 silam.

Thailand berhasil memaksa YouTube menghapus 225 video yang menyinggung keluarga kerajaan. Tak hanya itu, Thailand pun membatasi warganya dalam mengakses YouTube.

Sejumlah warga Thailand telah dipenjarakan karena telah menyinggung kerajaan dalam posting-posting di Facebook dan internet.

Tahun 2011 lalu, seorang pria berusia 61 tahun mendapat hukuman penjara 20 tahun karena mengirim pesan singkat yang isinya menghina keluarga kerajaan.

Sementara seorang warga negara AS yang lahir di Thailand dihukum 2,5 tahun penjara karena menulis buku biografi salah seorang Raja Thailand.

Sejauh ini, belum ada penangkapan atau hukuman yang dijatuhkan kepada warga Thailand yang berkicau di Twitter.(MNA-KOMPAS)





Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close