Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Sosok»Taufik Al Mubarak, Penulis Aceh Pungo Menuju ke Kursi Dewan


Taufik Al Mubarak, Penulis Aceh Pungo Menuju ke Kursi Dewan
Sabtu, 22 Februari 2014 07:51 WIB

Lelaki itu menyeruput teh hangat di sebuah kedai kopi di dekat Museum Tsunami, Banda Aceh, Sabtu, 22 Februari 2014 pagi. Dia tampak sederhana dengan kaos biru dan jins hitam. Sesekali dia tertawa lepas tatkala berkelakar dengan beberapa temannya.

Dialah Taufik Al Mubarak. Pria yang lahir di Trueng Campli, Kabupaten Pidie, pada 9 November 1981 ini memiliki segudang pengalaman mengharu-biru saat Aceh sedang bergejolak—konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Republik Indonesia. Bagi para aktifis di Aceh, namanya sama sekali tidak asing. Mulai aktif menyuarakan Hak Asasi Manusia sejak duduk di semester pertama pada jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Ar Raniry (sekarang Universitas Negeri Islam).

“Awalnya, kami menghidupkan kembali Unit Kegiatan Mahasiswa Solidaritas Aksi Layanan Masyarakat (Salam) setelah sekian lamanya UKM ini vakum. Saat itu saya dan kawan-kawan mahasiswa lainnya menggalang dana di beberapa tempat di Banda Aceh. Kemudian dana yang terkumpul tersebut kami kirim kepada para pengungsi korban pembakaran keude di Tiro, Pidie; warga Matang Kuli, Aceh Utara dan beberapa titik pengungsian lainnya saat itu,” kata ayah satu anak ini.

Selama kuliah, Taufik bersama teman-temannya juga ikut mendirikan beberapa buffer aksi, seperti Aksi Aneuk 2000, Penyambung Aspirasi untuk Keadilan (PERAK) dan Himpunan Aktivis Antimiliterisme (HANTAM). Melalui lembaga ini, Taufik dan kawan-kawan sangat aktif melakukan demo menentang kebijakan militeristik dalam penyelesaian konflik Aceh. Terakhir, bergabung dengan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA).

Tak pelak, aktivitas tersebut membuatnya dua kali harus keluar masuk sel karena dituduh terlibat dengan GAM. Padahal, katanya, apa yang dilakukan mereka adalah bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa terhadap penghentian kekerasan terhadap masyarakat.

Pada 5 Mei 2002, misalnya, Taufik bersama kawan-kawan HANTAM menggelar demo meminta penghentian perang antara TNI/Polri dan GAM. Menurut para aktivis HANTAM ini, konflik antara TNI dan GAM telah membuat banyak masyarakat Aceh jadi korban. Demo tersebut hanya berlangsung beberapa menit, dan langsung dibubarkan oleh aparat keamanan. Para peserta demo ditangkap. Taufik yang membawa bendera GAM digelandang ke Mapolres Banda Aceh, sementara kawan-kawannya diangkut ke Mapolda.

“Wajahnya bonyok. Makan pun harus pakai selang,” tutur Imam Juwaini, awal Februari lalu, mengisahkan penyiksaan yang dialami Taufik di Mapolres.

Imam adalah salah seorang teman Taufik yang pernah ditangkap karena melakukan demo menuntut ‘ceasefire’ (gencatan senjata) antara RI dan GAM. Dalam demo tersebut, aktivis HANTAM membawa 4 bendera: bendera RI, GAM, Referendum dan bendera PBB.

“Dan saat di mobil petugas pun dia masih pegang  bendera GAM,” kenang Imam, tertawa lagi.

Taufik tak hanya turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan. Tapi dia juga melawan represif dari pihak militer saat itu dengan “pena”. Lelaki berkulit sawo matang itu menuturkan, ia menyukai dunia tulis-menulis sejak duduk di MTs Alfurqan, Bambi, Sigli. Dia mengaku, melalui tulisanlah dirinya bisa menyuarakan berbagai kepahitan hidup yang dialami rakyat Aceh.

Dunia tulis menulis ini digelutinya sejak masih mengenyam bangku sekolah.

“Saat itu saya nulis di buku catatan sekolah,” ujarnya, “sepulang dari sekolah saya mampir ke tempat foto copy di dekat sekolah untuk membeli kertas secara eceran. Juga beli pita mesin tik. Saya sisihkan uang jajan saya untuk membeli itu,” ujarnya.

Dulu, katanya, untuk menulis masih menggunakan mesin tik. Tidak seperti sekarang sudah punya komputer atau laptop. “Kertas harus beli eceran,” kenangnya tentang proses awalnya merintis karis jadi penulis.

Taufik dengan lantang menjawab pertanyaan tentang alasan apa yang membuat dirinya menyukai dunia tulis menulis, “Konflik Aceh yang membuat saya menulis!”

Sejak kelas 2 MAN cerpen dan puisi Taufik dimuat di Harian Waspada Medan. Cerpen pertama yang dimuat di Waspada berjudul “Potret Tua”. Selain Cerpen, tulisannya dalam bentuk puisi juga sering dimuat di koran terbitan Medan tersebut.

“Kemampuan menulis saya perdalam lagi selama kuliah di IAIN dengan mencoba menulis opini untuk Harian Serambi Indonesia. Akhir 2001, tulisan pertama saya dimuat di halaman Opini Serambi Indonesia dengan judul ‘Puasa dari Nafsu Jahat’. Setelah itu, berbagai tulisan dengan tema perdamaian semakin sering masuk di halaman opini Serambi Indonesia,” tulis Taufik di blog pribadinya, http://jumpueng.blogspot.com.

Karena aktifitas politiknya saat itu, penulis buku Aceh Pungo ini berhijrah ke Jakarta. Darurat Militer memaksa para aktivis seperti dirinya harus hengkang dari Aceh. Di Jakarta, selain masih ikut terlibat dalam demo, Taufik terus mengembangkan kemampuan menulis.

“Di Jakarta, saya bergabung dengan Tabloid LACAK dan menjadi redaktur SATUVISI PBHI. Selain itu, saya juga menulis di situs Acehkita, Modus.or.id, dan di Koran sore SINAR HARAPAN,” kata dia. Melalui tulisan-tulisan, Taufik menggugat kebijakan pemerintah yang menggelar operasi militer di Aceh.

Sebulan setelah penandatanganan MoU Helsinki, tepatnya pada September 2005, Taufik kembali ke Aceh. Dia sempat bekerja di salah satu Non Government Organization (NGO) Jerman GTZ selama delapan bulan. Pada 2008 Taufik bekerja pada Surat Kabar Harian Aceh sebagai redaktur. Tiga tahun lebih bekerja di koran lokal tersebut, Taufik memutuskan untuk mengundurkan diri.

”Di mana pun saya bekerja, saya cari pengalaman,” kata dia.

Sejak mundur dari Harian Aceh, Taufik memilih bekerja secara freelance dan aktif sebagai full-blogger. Pun begitu, alumnus IAIN Ar Raniry sering diundang memberi pelatihan menulis untuk masyarakat. Sesekali menulis di media tentang isu Aceh.

“Pada 17 Januari 2012 tulisan pertama saya muncul di koran Kompas dengan judul Aceh Bukan Lahan Kosong.”

Berbekal sejumlah pengalaman itu, pada 2014 ini Taufik mencoba peruntungannya sebagai seorang legeslatif. Dia mencalonkan diri sebagai Caleg DPR Aceh melalui Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dari Dapil 2 (Pidie dan Pidie Jaya). Berbeda dengan Caleg-Caleg lainnya yang sibuk melalang buana mencari dukungan dengan berkampanye ke Dapil-Dapil mereka, Taufik justru lebih banyak “nongkrong” di kedai kopi dan tetap “gaul”.

Taufik menyulut rokok dan berkata, politik uang akhir-akhir ini membentuk stigma masyarakat bahwa Caleg itu banyak uang. Meraup suara harus dengan menyogok masyarakat. Padahal, katanya, itu merupakan bentuk pembodohan.

“Jadi, saya ini gunakan pendekatan ‘obat nyamuk’ dalam mencari dukungan. Saya mulai dari sanak keluarga, teman-teman, dan sosial media. Ya, twitter, Facebook, dan blog, itu media kampanye saya,” kata dia menjelaskan.

Taufik berharap, masyarakat tidak salah dalam menentukan pilihan. Sebab, jika salah dalam memilih, lima tahun nasib Aceh akan tergadaikan. “Tiga menit itu menentukan Aceh lima tahun ke depan,” katanya mengingatkan.

Taufik mengungkapkan alasannya “nyaleg”. Dia ingin menyumbangkan pemikiran dan pengalaman yang dimilikinya dalam membangun Aceh. Dia tidak menjanjikan hal-hal yang muluk-muluk, apalagi tugas dewan tak jauh dari tanggung jawab legislasi, anggaran dan pengawasan. Apapun yang dihasilkan oleh parlemen itu seyogianya harus menyentuh dan menjawab kebutuhan masyarakat.

“Siapa pun orang Aceh punya tanggung jawab moral untuk membangun Aceh ke arah yang lebih baik. Siapa pun dia.”

Hujan mengguyur Banda Aceh malam itu. Baliho, spanduk, dan poster caleg yang tersebar hampir di seluruh ruas jalan di Banda Aceh, juga ikut diguyur hujan. Beruntung, Taufik belum memasang spanduk atau baliho. Bravo!

(ADS-F1)






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close