Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Sosok»Muzakir Manaf Kader PII, Hasan Tiro Pencetus PII Aceh


Muzakir Manaf Kader PII, Hasan Tiro Pencetus PII Aceh
Afifuddin Acal | The Globe Journal
Senin, 07 Mei 2012 16:32 WIB

Banda Aceh - Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh memiliki sejarah yang luar biasa di Aceh. Pasalnya, ada sejumlah tokoh penting yang menjadi tokoh kunci terbentuknya PII di Aceh. Sebut saja misalnya, Dr.H.Tgk Muhammad Hasan Tiro, tokoh legendaris deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sekarang sudah berubah nama menjadi Komite Peralihan Aceh (KPA)  dan Partai Aceh (PA), adalah orang yang membawa pulang PII ke Aceh. Tokoh kharismatik ini rupanya memiliki kontribusi besar dalam mewujudkan organisasi yang didirikan oleh Prof. Anton Timur Djailani MA (1978-83) di Aceh.

Aceh mengirimkan delegasi yang menjadi peserta Kongres pertama PII di Yogyakarta pada tahun 1948 untuk mengesahkan keberadaan PII di Indonesia.  Diantaranya adalah Dr.H.Tgk Muhammad Hasan Tiro mewakili Aceh dari kalangan kepemudaan, karena masa itu ia aktif dalam organisasi kepemudaan, Persatuan Pelajar Indonesia (Pertindo) dibawah pembinaan Daud Beureu'eh. Kongres pun mengamanahkan pada Hasan Tiro untuk membentuk PII di Aceh dan kemudian Pertindo bersepakat untuk meleburkan diri menjadi PII di Aceh. Sampai sekarang PII masih berdiri tegak dan kokoh berkat kerja keras Wali Nanggroe Aceh tersebut.

"Yang membawa PII ke Aceh itu termasuk Hasan Tiro, waktu kongres di Yogyakarta, ia dalah mewakili pemuda dari Aceh dan Pertindo merupakan organisasi dibawah pembinaan Daud Beureu'eh bersepakat meleburkan diri menjadi PII,"tegas Ketua PII Aceh Iqbal Senin (7/5).

Sedangkan untuk ketua pertama, lanjut Iqbal adalah seorang tokoh Aceh Alm. Sofyan Hamzah, dimasa hidupnya mengabdi di Mesjid Raya Baiturrahman sebagai Imam besar. Dan, banyak tokoh-tokoh lain yang memilki kontribusi dalam mengembangkan PII di Aceh kala itu.

Jadi, Hasan Tiro yang akrap disapa dengan "Wali Nanggroe" dikalangan mantan kombatan memiliki andil penting dalam membangun PII di Aceh. Walaupun Ia tidak pernah mendapatkan pendidikan pengkaderan dari PII, oleh karenanya ia dinobatkan sebagai anggota kehormatan telah berjasa dalam mewujudkan PII Aceh.

"Hasan Tiro itu sebagai anggota kehormatan dianugerahkan oleh PII, karena beliau memiliki kontribusi besar dalam mewujudkan PII di Aceh pada masa itu," ungkap Iqbal mahasiswa Fisipol Unsyiah di Tower I Prada.

Ternyata, ada sejumlah petinggi GAM lainnya yang juga mantan kader dari PII. PII yang merupakan organisasi pengkaderan patut diapresiasi. Siapa sangka Muzakir Manaf yang sekarang sudah menjadi Wakil Gubernur Aceh juga merupakan kader PII. Bukan hanya itu, Abdullah Syafi’I mantan Panglima Perang Gerakan Aceh Merdeka yang gugur di Jiemjiem dalam pertempuran dengan pihak TNI juga kader dari PII.

Jadi, kader PII dari deklarator GAM sampai dengan dua Panglima besar GAM adalah pernah mengecap pendidikan pengkaderannya di PII. Jadi wajar saja keberadaan PII dari masa-kemasa mendapatkan posisi yang aman setelah reformasi, meskipun saat itu Aceh dalam situasi konflik.

"Kader PII ada juga yang menjadi Panglima GAM saat itu, yaitu Abdullah Syafi'i, beliau itu kader PII di Pidie pada tahun 1960-1970-an dulu pada saat masa-masa sekolah, demikian juga dengan Muzakir Manaf, beliau kader PII," ujar Iqbal.

Oleh karenya, jelas Iqbal lagi, semasa konflik, PII selalu dibela oleh pihak GAM, dan bukan hanya dari pihak mereka, tetapi juga dari pihak TNI-POLRI juga membela PII. Hal ini disebabkan anggota PII sudah berada dimana saja, termasuk sudah menjadi TNI dan lain sebagainya.

Kembali Iqbal menjelaskan, PII sebagai organisasi pengkaderan diberi kebebasan untuk menentukan sikapnya setelah tidak lagi berada dalam PII, makanya kader PII ada disejumlah tempat, baik di tubuh TNI-POLRI, pejabat pemerintahan, partai politik dan bahkan dalam tubuh GAM sendiri.

Pada masa Orba PII sempat dibubarkan oleh Soeharto akibat menolak memakai azas tunggal yaitu Pancasila. Namun, pasca reformasi PII kembali bisa bernafas  sama dengan beberapa organisasi gerakan lainnya di Indonesia.

“PII pernah dilarang pada masa Orba, saat itu PII dipaksakan untuk menganut azas tunggal, yaitu Pancasila dan PII menolak, sehingga Soeharto membubarkan PII," ungkap Iqbal diakhir perbincangan.






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close