Aceh Besar — Sejumlah remaja Desa Lambirah, Sibreh Aceh Besar mengajak seluruh komponen masyarakat Aceh untuk membatalkan puasa. Ajakan pembatalan puasa ini hanya diperuntukkan pada hari yang dinilai sakral, yakni 7 Agustus 2012. Ada apa dengan mereka?
Ups, jangan keburu emosi. Ajakan pembatalan puasa ini bukanlah pada pagi ataupun siang hari yang membuat puasa Ramadhan benar-benar batal. Pembatalan puasa yang dimaksud para remaja Desa Lambirah ini tepat pada saat dimana jadwal sirine berbuka dikumandangkan.
“Ya kalau puasanya dibatalin saat sirine berbuka tentu boleh donk. Nama kerennya bubar,” kata Husnul Khatimah sembari tersenyum.
Agenda buka puasa bersama di Desa lambirah, Sibreh Aceh Besar ini digagas oleh penggerak Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) Tanyoe. Adalah Husnul yang tak lain Koordinator TPM Tanyoe dan remaja Lambirah lainnya mengajak masyarakat berpartisipasi untuk ikut menyukseskan kegiatan ini.
Ketua Panitia Kegiatan buka puasa bersama di Lambirah, Muhammad Ihsan menambahkan ada keistimewaan dari even yang dijalankan pihaknya. Selain dilakukan dengan suasana baru yakni di gampong Lambirah dengan suasana yang asri, kegiatan itu pada dasarnya diinisiasi oleh para remaja yang selama ini menggerakan pendidikan alternative bagi anak-anak disana.
Selain itu, medium ini juga akan mempertemukan banyak pihak yang terlibat dalam penguatan TPM Tanyoe. Tidak hanya dari kalangan relawan peduli TPM Tanyoe dan anak-anak didik setempat, pihaknya juga berinisiatif mengundang masyarakat Aceh secara umum, dan Pemerintah Aceh Besar untuk melihat betapa semangat pembangunan pendidikan sudah terbangun di gampong-gampong yang notabene minim akses dan fasilitas.
“TPM Tanyoe itu lahir atas semangat pemerataan pendidikan. Kami ingin adik-adik di desa kami juga menapatkan akses pendidikan yang sama, dengan adik-adik yang tinggal di kota,” katanya.
“Kalau adik-adik di kota punya buku-buku bacaan yang bagus, inginnya hal itu juga bisa didapatkan oleh adik-adik kami disini,” tambahnya lagi.
Apalagi di Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Tradisi keringanan tangan harus dipraktekkan di semua lini kehidupan masyarakat. Bagi TPM sendiri, kegiatan ini akan menjadi medium pembelajran tradisi berbagi kepada seluruh anak didiknya. Untuk itu, Ihsan mengajak seluruh masyarakat ikut membantu pihaknya baik dari segi materi, maupun non-materi.
“Target kami acara ini akan diikuti oleh 300 anak yatim dan piatu, dan kaum dhuafa di Kemukiman Sungai Limpah Sibreh. Tentu sangat butuh dukungan agar kegiatan ini berjalan,” harapnya. [005-Rel]