
Menurut penjelasan dari Sekretaris Garda Pemuda NasDem Aceh M.Fauzan Feriansyah, mengatakan sampai saat ini Junta Militer Myanmar terus melakukan tindak kekerasan terhadap etnis Roginya. Katanya lagi, pembandataian ini dilakukan oleh Pemerintah Myanmar secara terencana. Bahkan ditengarai ada upaya pembersihan etnis Rohingya di Myanmar.
Lebih lanjut ia katakan, Aung San Suu Kyi sebagai penerima Nobel Perdamaian harus terlibat langsung dalam meredam eskalasi pembantaian etnis Rohingya. Karena pembantaian etnis Rohingya merupakan sebuah tindakan yang tidak dibenarkan dalam aturan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Setiap anggota PBB dilarang keras melakukan pembantaian dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
"Pembantaian ini merupakan tragedi kemanusian secara terencana dan sistematis oleh Junta Militer Myanmar, kemudian Aung San Suu Kyi harus angkat bicara sekarang," kata Sekretaris Garda NasDem Aceh M.Fauzan Febriansyah Kamis (2/8) pada The Globe Journal usai aksi.
Etnis Rohingya memang merupakan minoritas di Myanmar. Namun, bukan berarti minoritas bisa diperlakukan sewenang-wenang. Pasalnya, etnis Rohingya telah tinggal di Myanmar jauh hari sebelum Myanmar merdeka sejak 7 masehi. Memang, ada sekitar 53 juta penduduk Myanmar beragama Budha dan sisanya adalah minoritas Kristen 2,9 juta dan sedangkan Muslim 2,27 juta. Sedangkan selebihnya sekitar 300 ribu merupakan penduduk Hindu."Memang mereka itu minoritas, bukan berarti bisa diperlakukan sedemikian rupa," kata Fauzan kembali.
Oleh sebab itu, kata Fauzan kembali, sudah saatnya Pemerintah Indonesia sebagai Ketua Asean untuk angkat bicara menyangkut dengan pembantaian di Myanmar. Karena Myanmar merupakan bagian dari anggota Asean - jadi perlu kiranya Pemerintah Inodesia melalui forum Asean untuk menekan supaya segera dihentikan pembantaian terhadap etnis Rohingya.
Lanjutnya lagi, keanggotaan Myanmar dalam Asean itu patut dievaluasi keberadaannya. Karena selama ini telah terlalu jauh memperlakukan etnis Rohingya secara tidak manusiawi. Pembantaian terus terjadi dan ini jelas-jelas tidak sesuai dengan semangat kemanusian yang dibangun dalam forum Asean.
"Pemerintah Indonesia seakrang harus tegas selaku ketua Asean dan Myanmar harus dievaluasi keanggotaan di Asean," jelas Fauzan.
Memang konflik ini sudah berlangsung lama. Sudah bertahun-tahun lamanya konflik ini terus terjadi. Sejak tahun 1940-an dan sejak Burma merdeka tahun 1948 ada 137 etnis berada di Burma. Saat itulah Myanmar tidak mengakui keberadaan etnis Rohingya di Myanmar. Padahal saat Burma merdeka, Arakan merupakan bagian dari Burma, namun setelah itu Rohingya yang Muslim tidak diakui sebagai warga Negara Myanmar.
"Ini konflik yang sudah sangat lama, oleh karenanya tidak bisa dibiarkan ini terus terjadi, oleh karenanya Pemerintah Aceh juga harus ikut terlibat langung dalam membantu Rohingya," pungkas Fauzan. [003]
Sabtu, 25 Mei 2013 11:29 WIBDisbudpar Banda Aceh di Pameran Gebyar Wisata dan Budaya Nusantara 2013
Sabtu, 25 Mei 2013 11:46 WIBFestival Budaya Kalteng Tahun Ini Lebih Hemat