THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Sosial»NasDeM Aceh Minta Aung San Suu Kyi Bicara


NasDeM Aceh Minta Aung San Suu Kyi Bicara
Afifuddin Acal | The Globe Journal
Kamis, 02 Agustus 2012 18:21 WIB

Banda Aceh - Konflik di Myanmar dengan etnis Rohingya terus mendapatkan kecaman dari berbagai komponen. Setelah minggu yang lalu KAMMI Aceh ikut juga mengecam tragedi kemanusiaan di Myanmar. Hari ini Kamis (2/8) kecaman yang sama juga datang dari Garda Pemuda NaSdeM Aceh. Sejumlah kader Garda Pemuda NasDem melakukan aksi di Simpang Lima setelah Ashar. 

Menurut penjelasan dari Sekretaris Garda Pemuda NasDem Aceh M.Fauzan Feriansyah, mengatakan sampai saat ini Junta Militer Myanmar terus melakukan tindak kekerasan terhadap etnis Roginya. Katanya lagi, pembandataian ini dilakukan oleh Pemerintah Myanmar secara terencana. Bahkan ditengarai ada upaya pembersihan etnis Rohingya di Myanmar.


Lebih lanjut ia katakan, Aung San Suu Kyi sebagai penerima Nobel Perdamaian harus terlibat langsung dalam meredam eskalasi pembantaian etnis Rohingya. Karena pembantaian etnis Rohingya merupakan sebuah tindakan yang tidak dibenarkan dalam aturan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Setiap anggota PBB dilarang keras melakukan pembantaian dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).


"Pembantaian ini merupakan tragedi kemanusian secara terencana dan sistematis oleh Junta Militer Myanmar, kemudian Aung San Suu Kyi harus angkat bicara sekarang," kata Sekretaris Garda NasDem Aceh M.Fauzan Febriansyah Kamis (2/8) pada The Globe Journal usai aksi.


Etnis Rohingya memang merupakan minoritas di Myanmar. Namun, bukan berarti minoritas bisa diperlakukan sewenang-wenang. Pasalnya, etnis Rohingya telah tinggal di Myanmar jauh hari sebelum Myanmar merdeka sejak 7 masehi. Memang, ada sekitar 53 juta penduduk Myanmar beragama Budha dan sisanya adalah minoritas Kristen 2,9 juta dan sedangkan Muslim 2,27 juta. Sedangkan selebihnya sekitar 300 ribu merupakan penduduk Hindu."Memang mereka itu minoritas, bukan berarti bisa diperlakukan sedemikian rupa," kata Fauzan kembali.


Oleh sebab itu, kata Fauzan kembali, sudah saatnya Pemerintah Indonesia sebagai Ketua Asean untuk angkat bicara menyangkut dengan pembantaian di Myanmar. Karena Myanmar merupakan bagian dari anggota Asean - jadi perlu kiranya Pemerintah Inodesia melalui forum Asean untuk menekan supaya segera dihentikan pembantaian terhadap etnis Rohingya.


Lanjutnya lagi, keanggotaan Myanmar dalam Asean itu patut dievaluasi keberadaannya. Karena selama ini telah terlalu jauh memperlakukan etnis Rohingya secara tidak manusiawi. Pembantaian terus terjadi dan ini jelas-jelas tidak sesuai dengan semangat kemanusian yang dibangun dalam forum Asean.


"Pemerintah Indonesia seakrang harus tegas selaku ketua Asean dan Myanmar harus dievaluasi keanggotaan di Asean," jelas Fauzan.


Memang konflik ini sudah berlangsung lama. Sudah bertahun-tahun lamanya konflik ini terus terjadi. Sejak tahun 1940-an dan sejak Burma merdeka tahun 1948 ada 137 etnis berada di Burma. Saat itulah Myanmar tidak mengakui keberadaan etnis Rohingya di Myanmar. Padahal saat Burma merdeka, Arakan merupakan bagian dari Burma, namun setelah itu Rohingya yang Muslim tidak diakui sebagai warga Negara Myanmar.


"Ini konflik yang sudah sangat lama, oleh karenanya tidak bisa dibiarkan ini terus terjadi, oleh karenanya Pemerintah Aceh juga harus ikut terlibat langung dalam membantu Rohingya," pungkas Fauzan. [003]






Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close