Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Sosial»Ketahanan Keluarga di Aceh Melemah, Potensi Bunuh Diri Tinggi


Ketahanan Keluarga di Aceh Melemah, Potensi Bunuh Diri Tinggi
Yuli Rahmad | The Globe Journal
Senin, 25 Agustus 2014 10:00 WIB

Banda Aceh – Munculnya kasus bunuh diri yang dialami seorang mahasiswa Kedokteran Unsyiah berinisial FA (25) asal Kutacane, Aceh Tenggara menyisakan tanda tanya besar. Bagi sebagian pihak, kasus tersebut dilihat sebagai bentuk amoral karena keputusasaan diri korban dalam menghadapi hidup. Di lain sisi, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Dian Marina melihatnya sebagai bentuk lemahnya ketahanan keluarga di Aceh.

“Lingkungan kita memang penuh dengan symbol-simbol Syariat Islam. Tapi nilai-nilainya tak lagi diinternalisasi oleh masyarakat. Ketahanan keluarga mulai melemah. Tidak ada lagi komunikasi dialogis antara orangtua dan anak-anaknya,” ujar Dian yang selama ini intens menangani persoalan-persoalan psikologi yang dialami kalangan perempuan dan anak muda, Senin (25/8/2014).

Minimnya komunikasi dialogis secara kontruktif juga diperburuk oleh adanya tekanan-tekanan tertentu yang didapatkan di keluarganya. Hal itu mengakibatkan depresi jangka panjang yang membuat siapapun kalap. Sayangnya lagi, pergeseran gaya hidup masyarakat Aceh dengan segala tuntutan konsumtifnya juga berkontribusi membuat korban patah arang.

“Kepercayaan diri korban juga hilang seiring dengan hilangnya kepedulian social, minimal di tetangganya. Ya wajar, sekarang duduk berhadap-hadapan aja orang nggak mau ngobrol. Sibuk dengan facebook, BBM, dan banyak lagi,” tutur Dian yang juga mantan Aktifis di Yayasan Pulih.

Namun melihat kasus yang dialami FA, Dian tak berani menyimpulkan kemungkinan-kemungkinan motif bunuh diri tersebut. Dia menyarankan perlu dilakukan wawancara paralel baik dengan keluarga FA sendiri, lingkungan tempat tinggal, kawan-kawan, dan para dosennya di kampus. Wawancara tersebut akan memudahkan para pengambil kebijakan untuk melakukan langkah antisipatif bila mungkin kasus bunuh diri di Aceh bak fenomena gunung es. [005]






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close