
Mengapa di daerah yang menerapkan syariat Islam bisnis esek-esek tetap jalan? Apakah pelakunya tidak memahami ajaran agama? Ataukah semua itu ada hubungannya dengan uang? Atau murni birahi semata?
Perempuan muda itu berumur kira-kira 21 tahun. Hidungnya mancung dan matanya bulat. Kulitnya hitam, layaknya perempuan pesisir lainnya. Saat ditemui oleh The Globe Journal-yang menyamar-Jumat (10/8) dia sedang menunggu seseorang.
Sebut saja namanya Ve, mantan siswi sebuah SMA di Bireuen. Statusnya janda beranak satu. Ihwal status “pernah kawin” itu dia sandang setelah kekasih tercinta sekaligus laki-laki yang menghamilinya diluar nikah, menceraikannya setelah setahun mengarungi biduk rumah tangga.
“Dimana-mana laki-laki semua sama. Munafik dan sok suci. Banyak menuntut ini itu, padahal dirinya tidak lebih baik. Ujung-ujungnya perempuan yang menjadi korban,” ujar Ve saat ditanya mengapa bercerai.
Ve mengakui sangat mencintai mantan suaminya itu. Sehingga sebelum nikah dia sudi digagahi berkali-kali. “Sebelum nikah dia sudah memperlakukan saya seperti istrinya. Berkali-kali sampai menghasilkan janin,” kata Ve sambil memainkan tuts handphonenya.
Setelah bercerai Ve memilih melanjutkan studi ke sebuah kampus swasta di Bireuen. Belum mencapai satu semester kuliah, seorang teman mantan suaminya menelpon ajak bertemu. Entah setan apa yang berhasil menggoda ibu satu anak itu, tiba-tiba saja dia sudah digauli oleh lelaki itu. Itulah awal dia mulai melanglang buana dalam “dunia lendir”.
Ketagihan. Mungkin itulah kata yang cocok. Ve mulai aktif dalam lembah itu. Lazimnya dunia prostitusi bawah tanah kelas jalanan, dia tidak menggunakan jasa mucikari. Dia mendapatkan pelanggan atas rekomendasi orang-orang yang pernah menggunakan tubuhnya untuk mengayuh kenikmatan jahanam.
Walau berstatus mahasiswi, dia menolak melayani pelanggan yang kuliah satu kampus dengannya. Sebab statusnya sebagai wanita panggilan harus rahasia. Ini demi keberlanjutan studi yang sedang dia tempuh. Juga untuk melindunginya dari pengamatan keluarga. Sejauh ini aksi Ve belum terendus oleh kedua orang tuanya.
Kepada The Globe journal dia mengakui bahwa bisnis syahwat yang dia geluti memberikan banyak uang. Dengan tarif yang tidak begitu besar (bahkan murah) dia berhasil mengumpulkan Rupiah untuk membiayai hidup dan membesarkan anaknya. Terkadang, bila hatinya sedang berkenan, layanan gratis juga diberikan untuk pelanggan yang memperlakukan dirinya bak perempuan baik-baik.
Dari mulut Ve yang berbibir merah ranum itu, terkadang pengguna jasa tubuhnya ada yang kasar tanpa dasar. Sampai ada yang memaki dan menghina dirinya sambil terus “mengayuh”. Model seperti ini cuma hanya sekali mau dia layani.
“Untuk biaya tidak banyak, bahkan terkadang saya berikan service gratis untuk pelanggan yang memperlakukan saya layaknya perempuan,” ujarnya.
Saat ditanya apakah tidak takut bila suatu saat ditangkap oleh Polisi Syariat. Dengan senyum penuh mengejek Ve mengatakan WH hanya berani merazia perempuan yang pakai celana ketat dijalanan. Lagian dia sendiri akan mencari tempat aman dan terlindungi untuk “bekerja”. Bahkan dia mengakui pekerjaan yang dilakoninya tidak akan banyak diketahui orang. Makanya dia akan aman dari penegak aturan itu.
“Mungkin saya perempuan murah. Tapi saya tidak murahan. Saya mana mau melayani laki-laki hidung belang di dalam parit. Tentu saya akan minta tempat aman, nyaman dan terlindungi,” katanya lagi.
Walau berstatus call girl, Ve bukan tipe yang mau menyerahkan tubuhnya kepada sembarang orang. Dia akan tetap memilih pelanggan tertentu dan selektif benar. “Pernah suatu kali saya hampir saja melayani paman sendiri. Untung saja seorang teman sempat memberi tahukan. Dan posisi saya digantikan oleh teman lainnya. Itulah mengapa kemudian saya protektif dan selektif benar dalam memilih pelanggan,” terangnya sambil tertawa.
Diakhir pembicaraan perempuan ini mengaku ingin berhenti. Sebab selain studinya hampir kelar, juga sebentar lagi dia akan menikah dengan seorang lelaki dari kabupaten tetangga. Saat ditanya apakah sang tunangan mengetahui pekerjaannya, Ve mengaku belum pernah memberitahukan. Yang lelaki itu tahu, dia sudah janda. ***
Kisah yang sama juga diutarakan oleh F (25), mahasiswa salah satu PT itu menceritakan kisah seorang kenalan perempuan yang berprofesi sebagai perempuan panggilan. Wanita itu berdomisili di salah satu kecamatan pesisir di Bireuen. Kepada The Globe Journal F menceritakan petuangan kenalannya, BR dalam dunia pelacuran underground.
Wanita berkulit hitam dan bertubuh sedang itu mengawali kariernya di dunia prostitusi ketika Darurat Sipil diterapkan di Aceh. Dalam kondisi sedang konflik itu, BR mempunyai pelanggan tetap dari serdadu Republik. Saat itu dia masih berstatus pelajar SMA. Profesi itu terus saja BR geluti sampai damai terwujud di Aceh.
Kini BR sudah tercatat sebagai mahasiswi semester akhir di salah satu Universitas swasta ternama di Bireuen. Walau demikian profesi tersebut tetap dilakoni dan bahkan pelanggannnya semakin meluas dari berbagai kalangan.
Kisah tentang pergulatan BR di dunia esek-esek tidak hanya diketahui oleh F. Cerita yang sama juga dikatakan oleh oleh beberapa mahasiswa yang mengenal BR di kampus. Bahkan seorang mahasiswa yang minta namanya tidak dipublikasi mengatakan bahwa BR pernah mengajaknya jalan-jalan untuk bersenang-senang. Namun permintaan itu ditolak karena mengetahui profesi BR.
Penasaran dengan cerita itu, The Globe Journal mencoba melakukan tracking kepada sejumlah eks pemakai jasa BR. Hasilnya memang dapat rekomendasi agar bila butuh jasa perempuan itu, mereka siap merekomnya kepada BR.***
Ve dan BR merupakan bagian dari benih prostitusi di Bireuen. Seorang sumber The Globe Journal mengatakan, bisnis syahwat semakin digeluti oleh segelintir perempuan muda baik yang masih sekolah di tingkat SMA maupun yang sudah kuliah. Walau tidak dalam jumlah banyak namun cukup mengkhawatirkan.
Sumber yang layak dipercaya itu mengatakan, untuk membongkar bisnis prostitusi di Bireuen sangat sulit sekali. Sebab para pengguna jasa seks tidak menggunakan fasilitas hotel lokal sebagai tempat melepas syahwat. Apalagi tidak satupun hotel di Bireuen yang memberikan peluang kepada pelanggan yang coba-coba berbuat nakal. Bagi yang berkantong cekak akan mencari tempat hiburan di luar Bireuen untuk melepaskan syahwat. Sedangkan bagi yang banyak uang, Medan menjadi tujuan untuk merengkuh peluh dengan perempuan muda yang kebanyakan mempunyai rupa yang jelita.
Hal yang sama juga disampaikan oleh M (27). Lelaki kurus ini kepada The Globe Journal mengatakan, bisnis esek-esek di Bireuen telah dikelola dengan cara yang sangat profesional oleh pelakunya.
Itulah mengapa sangat sulit untuk membongkar perbuatan asusila itu. Dari M terkuak kabar wanita yang sadari dirinya berparas cantik menjajakan tubuhnya kepada yang berkantong tebal. Sedangkan yang berparas biasa sering mencari lokasi aman dimana saja. Yang penting “arus bawah” tersalurkan dan uang masuk lancar mengalir.
“Yang berparas cantik menyasar pria tak bermoral yang berkantong tebal. Biasanya mereka mengayuh bahtera di hotel-hotel yang ada di Medan,” terang M yang mengaku mengenal beberapa wanita panggilan di Bireuen, khususnya yang berstatus masih menempuh pendidikan.
Gaya Hidup dan Syahwat
Ve mengakui selain sudah terbiasa merasakan kehangatan tubuh laki-laki, pilihannya menjadi call girls juga ada kaitannya dengan gaya hidup. Dengan semakin banyak uang yang berhasil dia kumpulkan, berarti semakin banyak pula barang-barang yang bisa dibeli dan semakin update mengikuti perkembangan fashion.
“Tentu saja selain memang butuh belaian, persoalan gaya hidup adalah alasan lain mengapa dunia hitam ini terus digeluti. Uang dan syahwat telah menyatu sehingga sulit dipisahkan,” kata Ve.
RT (40) kenalan The Globe Journal yang juga salah seorang pengguna jasa wanita panggilan menyebutkan hal yang hampir serupa, Kamis (2/8). Dari sekian wanita yang pernah ditidurinya di hotel di Medan, rata-rata memang uang yang diberikan dihasikan untuk belanja barang seperti fashion, hp dan lainnya yang kira-kira masih menjadi trend. Hal dikatakan olehnya ketika The Globe Journal mencoba mengorek informasi tentang dunia hitam itu.
Selain itu, free sex juga telah begitu menyatu dengan mereka. RT terkadang mengajak mereka ke Medan dengan tanpa uang bayaran. Perempuan panggilan itu hanya diberikan fasilitas hotel. “Terkadang ketika diajak dan kita terangkan tak ada bayaran, mereka tidak menolak juga. Bahkan ada yang telpon minta jalan-jalan ke Medan tanpa perlu bayaran,” ujar RT.
Dari informasi yang berhasil dikumpulkan oleh The Globe Journal, tarif yang berlaku mulai dari Rp 200.000 sampai jutaan. Bentuknya tidak melulu uang, tapi juga dalam bentuk barang. Tarif lebih 'bawah' ada yaitu Rp 100.000 per sekali main.
“Kalau ditanya tarif itu bervariasi, tergantung kemampuan uang dikantong abang. Kalau kita sudah lebih dekat kenal, mungkin gratis pun bisa jadi,” sebut DS (22) salah seorang call girl yang dihubungi oleh The Globe Journal yang menyamar sebagai pelanggan.
Suatu Hari Akan Tobat
Dari sekian orang yang berhasil diwawancarai oleh The Globe Journal, baik secara langsung maupun saat menyaru, mengatakan suatu hari akan berhenti dan keluar dari lembah hitam itu. Mereka mengakui tidak nyaman dan selalu dikejar-kejar oleh bayang-bayang kesalahan. Namun untuk saat ini, tidak ada kekuatan untuk keluar dari sana.
DS mengakui bahwa sebenarnya hati nuraninya berontak dengan apa yang selama ini dia lakukan. Bayangan dosa tetap selalu mengejar. Rasa tak nyaman dan takut setiap hari menganggu pikiran. Pun begitu masih sulit baginya meninggalkan semua itu. Apalagi dengan materi yang lumayan.
RT juga mengakui hal yang sama. Dia bertekad akan menghentikan petualangannya bersama “pelacur terhormat”. Namun dia tidak memastikan kapan. “Setelah saya timbang-timbang memang harus segera dihentikan. Hati saya memang selalu berontak,”.***
