Banda Aceh — Esok Sabtu (17/10) petinggi eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Teungku Hasan Tiro yang kerap dipanggil dengan sebutan Wali Nanggroe akan pulang ke Aceh bersama para petinggi eks GAM, dan beberapa perwakilan Negara Uni Eropa, Amerika, dan Malaysia, Jumat (16/10).
Kepala Humas Panitia Penyambutan Kedatangan Wali Nanggroe yang juga menjabat sebagai Juru Bicara Partai Aceh (PA), T Ligadinsyah, dalam jumpa pers-nya di kantor PA Pusat mengatakan, Hasan Tiro tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar pada pukul 13.00 WIB. Kemudian dilanjutkan ke Meuligoe Wali Nanggroe yang berada di jalan Pemancar, Lamteumen,Banda Aceh. Sedangkan untuk agenda rincinya, Ligadinsyah belum bisa menjelaskannya karena ada 2 agenda yang tersedia, baik itu dari pihak rombongan Swedia maupun dari pihak pinitia dan itu belum tersusun.
Untuk pengamanan, katanya, Wali akan dikawal oleh 300 orang eks kombatan yang terdiri dari beberapa ring, dan termasuk pula pengamanan dari Polri. Sedangkan akses kedatangannya di bandara SIM berbeda dengan kedatangan sebelumnya, kali ini para wartawan dibatasi untuk peliputan di tempat itu. Wartawan akan diberi kesempatan liputan ketika Wali tiba di meuligoenya.
Menurut Ligadinsyah, keberadaan Wali Nanggroe di Aceh akan lebih lama dari sebelumnya, dan diharapkan Wali bisa menetap selama-lamanya di Aceh. Kepulangannya tersebut juga untuk menegaskan konsistensi para eks kombatan untuk penegakan perdamaian dan realisasi MoU Helsinki di Aceh. Kedatangannya tersebut juga akan membahas banyak wacana, termasuk butir-butir MoU Helsinki yang belum diundangkan. Serta untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa perdamaian di Aceh berjalan dengan baik. “Kedatangan Wali bukan untuk pengesahan Qanun Wali Nanggroe, tapi itu memang haknya masyarakat Aceh untuk memiliki Wali Nanggroe sesuai dengan perjanjian,” jelasnya.
Ligadinsyah menghimbau kepada para media agar kedatangan orang nomor satu di Komite Peralihan Aceh (KPA) agar diberitakan dalam bentuk yang seimbang. “Jangan ada berita miring yang muncul ketika beliau (red,- Hasan Tiro) pulang ke Aceh. Kedatangan Wali Naggroe kali ini memang berkaitan dengan politik. Wali akan melihat proses pelaksanaan MoU Helsinki yang sedang berjalan, sekaligus memantau parlemen 2009 yang telah tercipta. Jadi, sebelum MoU Helsinki berjalan sesuai dengan perjanjian, maka Hasan Tiro akan terus memantau perkembangannya,” ungkapnya. [003]