
JK Dukung Bantuan Langsung Sementara
Eyang Subur Diminta Ikuti Fatwa MUIBanda Aceh – Kesepakatan damai antara Pemerintah Pusat dan Gerakan Aceh Merdeka bukanlah hal kecil bagi Aceh. Momentum itu menjadi sejarah besar. Setiap 15 Agustus, masyarakat memperingatinya dengan ragam cara.
Soal tradisi berdo’a demi kedamaian Aceh sudah barang tentu dilakukan masyarakat. Namun melihat peringatan ini dengan kacamata seni mungkin akan berbeda. Apalagi jika seluruh pelaku seni di berbagai sektor kesenian ‘turun gunung’. Hal itulah yang digagas Jaringan Rupa Aneuk Nanggroe (Jaroe). Menurut sang ketua Fadhlan Bachtiar Minggu (12/8), pihaknya sedang menyiapkan atraksi seni dalam kesatuan karya bersama untuk memperingati tujuh tahun damai.
“Akan ada musisi, sastrawan, Musik Alternatif,Tari Kreasi, Tari Tradisi, Hikayat dan Narasi Aceh, Seni Rupa, Street Art,Teater dalam atraksi nanti,” sebut Fadhlan.
Acara ini sendiri akan digelar pihaknya 15 Agustus mendatang di Simpang Lima Banda Aceh. Jadwalnya dipilih setelah pelaksanaan Shalat Tarawih. “Itu agar semua masyarakat ikut menikmatinya. Agar pesan damainya sampai,” jelas pria berkacamata minus ini.
Ada beberapa hal yang membuat pelaku seni tergerak melakukan even itu. Diantaranya sebagai bentuk kepedulian bersama seniman muda Aceh dalam merespon fase perdamaian yang kian dirasakan masyarakat Aceh. Sekaligus menjadikan perhelatan ini bahagian dari tradisi penghargaan terhadap sejarah.
“Belajar dengan seni, meluapkan emosi dengan seni, dan bersatu melalui seni merupakan alat yang sederhana. Media yang tepat untuk senantiasa menjaga damai,” sambung Fadhlan.
Saat ini sedikitnya 11 stakholder pelaku seni Aceh sudah menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi. Selain Jaroe sendiri, ada pula Teater Nol, Komunitas Kanot Bu, Teater Rongsokan, Layar kaca, Bestek, Komunitas Biola, HipHop Nad Sindikat, Nad Break Cypherz dan pelaku seni perorangan. Ingin ikut serta? [005]
Kamis, 16 Mei 2013 21:22 WIBPejuang Palestina Tembakan Rudal ke Israel