
Demi Karier, Neymar Harus Tinggalkan Brasil
Jose Mourinho Gagal Di Real MadridJakarta - Anggota DPD RI dari Jawa Tengah, Poppy Dharsono mengatakan seluruh masyarakat Jawa harus menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya Keraton. Hal itu sebagaimana termaktub dalam Undang Undang Cagar Budaya bahwa yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab paling utama dalam pelestarian itu selain masyarakat pada umumnya juga keluarga dan kerabat, serta keturunan Keraton Surakarta.
"Sebetulnya yang harus diperhatikan secara khusus itu ya sesuai UU, Keraton seharusnya sudah dimiliki oleh pemerintah tapi pengelolaannya itu dipercayakan kepada keturunan Keraton untuk memelihara dan melestarikan sesuai tanggung jawab moral guna meningkatkan peran sosial budaya Keraton dalam pembangunan bangsa dan negara dalam bingkai NKRI" ujar Poppy, Selasa, (29/5/2012).
Poppy menjelaskan, pemerintah beserta seluruh lapisan masyarakat sudah saatnya memberikan perhatian mengenai keberadaan Keraton yang seharusnya menjadi central kebudayaan Jawa, saat ini sepertinya dinilai terlihat kumuh, kotor karena tidak dikelola dengan baik. "Berbeda dengan masa sinuwun PB XII dan PB sebelumnya, pada masa itu tampak kelihatan lebih terpelihara karena banyak orang yang merasa memiliki dan mereka menyumbang. Nah, sekarang kami merasa itu dikelola hanya milik bersaudara, kelompoknya Wira Bumi cs saja," terangnya.
Menurutnya, sebagai anggota DPD dari Jawa Tengah, Poppy menghimbau pemerintah agar aset bangunan sejarah harus mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat setempat. "Amat disayangkan selain Borobudur, Prambanan, dan lain-lain merupakan aset yang sangat penting sekali bila tidak mendapat perhatian dari pemerintah, dan secara ekonomi bisa menjadi devisa juga untuk pemerintah daerah bila dijadikan sebagai tempat wisata sejarah," kata Poppy.
Misalnya, lanjut Poppy, di Bali memiliki sejarah kebudayaan Indonesia yang sama bisa memanfaatkan aset sejarahnya untuk dikelola menjadi devisa daerahnya. "Kalau ini kita tidak dijaga sebagai benteng terakhir kebudayaan Jawa, maka kita menjadi bangsa yang tidak memiliki jati diri. Artinya, kita akan gampang dimusnahkan dengan implikasi masuknya kebudayaan dari luar," imbuhnya kembali.
Oleh karena itu, salah satu solusinya yakni bangunan Keraton Solo perlu dibuka untuk umum sehingga diarahkan menjadi salah satu bagian dari pusat kebudayaan di Jawa Tengah. "Di sisi lain, Keraton menjadi bagian pusat kebudayaan yang bukan dimiliki oleh orang Keraton saja, tetapi Keraton juga punya rakyat sehingga rakyat menjadi berkat," tandasnya. [003-inilah.com]
Selasa, 21 Mei 2013 20:18 WIBPesawat AS Yang Mendarat di Aceh Itu Memang Kesasar