
JK Dukung Bantuan Langsung Sementara
Eyang Subur Diminta Ikuti Fatwa MUIBingung, jelas sekali hal itu kurasakan. Sha, sahabatku yang pernah sementara kuliah satu ruang denganku, kini telah banyak berubah. Padahal, dulu aku mengenal dia sebagai seorang gadis alim, cantik, lembut dan tidak pernah menampakkan lekuk tubuhnya kepada siapapun.
Dulu, saat masih sama-sama kuliah, aku pernah berdiskusi dengannya tentang hijab tubuh yang diatur dalam agama Islam. Saat itu dia dengan mengutip ayat suci dan perkataan Nabi Muhammad, telah menghipnotis diriku, sehingga rasa getar jiwa dan jatuh hati kepadanya pernah kurasakan. Indah nian bila aku mengenang kembali masa itu.
“Abdul, bagi seorang perempuan muslim, menurutp aurat merupakan kewajiban. Tidak ada alasan bagi yang sudah akil baligh untuk tidak menutup setiap lekuk tubuhnya dengan hijab,” kata Sha saat itu, ketika kami sedang menikmati segarnya teh setengah hangat dibelakang kantin kampus.
Aku mencoba cari tahu ke teman-teman, perihal perubahan signifikan yang terjadi pada Sha. Namun rata-rata menggeleng kepala dan juga ikut bingung. Si gadis hijaber yang sekarang nyaris telanjang.
“Dia bisu ketika kami coba tanya mengapa tak lagi mengenakan jilbab dan suka memajang foto tak pantas di facebook,” ucap Nini pada suatu ketika. Nini adalah teman dekat Sha yang saat kuliah aktif mengikuti pengajian yang diadakan oleh aktifis rohis kampus.
Aku semakin tak percaya dengan semua perubahan yang terjadi pada Sha. Aku sempat berpikir, bila yang merubah dirinya adalah sang suami atau orang lain yang dekat dengannya. Apakah seburuk itu orang terdekat Sha saat ini? Apakah agama bagi mereka hanya simbul semata? Entahlah. Aku semakin bingung saja.****
Suatu pagi, ketika membuka facebook untuk meng-update- status, inbox akunku nampak menunjukkan angka satu. Aku penasaran, siapa yang mengirimkan aku sebuah pesan secara tertutup? Dengan perasaan penuh tanya aku meng klik dan masya Allah, Sha mengirimkan aku sebuah surat.
Abdul sahabatku
Sebenarnya aku risi dan agak terganggu saat mengetahui bila kamu begitu semangat untuk mencari tahu tentang perubahan yang kualami. Namun sebagai seorang teman, aku hargai hal itu. Semoga saja niat baikmu itu mendapatkan balasan dari yang di atas.
Jujur saja, keputusanku untuk melepas segala bentuk simbul kealiman merupakan pilihan yang kubuat sendiri. Semua ini berawal dari ketika aku sadar, bila orang terdekatku tidak menyukai bila aku terlalu menutupi tubuhku dengan kain-kain panjang itu.
Suamiku tidak pernah meminta agar aku menanggalkan semua pakaian yang kalian sebutkan islami itu. Sebagai wanita aku harus tahu diri dong. Sekarang aku sudah bersuami, punya anak dan suamiku punya pergaulan yang lumayan membutuhkan kehadiranku bersamanya. Kamu tahu tidak, saat pertama aku hadir dengan hijab itu, semua menandang aneh kepadaku. Suamiku nampak serba salah saat itu.
Akhirnya aku berpikir, bila berbakti dan mengikuti apa yang disenangi oleh suami adalah ibadah. Bukankah hal itu pula yang sering kita diskusikan di kampus dulu? Cukup gamis dan jilbab dalam hati saja yang kukenakan. Kurasa itu lebih dari cukup.
Apalagi mengingat kenyataan, bila yang berjilbab juga sangat banyak yang tidak menghargai jilbabnya. Di balik nampak alimnya, mereka terus berbuat ingkar kepada Tuhan. Sedangkan aku? Aku tidak pernah demikian. Sampai sekarang aku hanya melakukan apa yang disukai oleh suamiku. Itu saja.
Kuharap kau paham. Maaf bila kali ini kita harus berbeda.
Salam hangat
Sha
Aku terkesiap. Ada rasa tak percaya, tapi surat ini dikirimkan dari akun facebook miliknya. Apakah ada yang meng-hack? Tapi tak mungkin. Sebab setiap hari aku melihat foto terbaru selalu di pajang di wall media sosial ini.
Ya Allah, hanya Engkau yang tahu tentang rahasia semua ini. Semoga kau kembalikan Sha kejalan yang Engkau ridhai.
Banda Aceh, 24 September 2012.
Penulis adalah wartawan The Globe journal, peminat masalah sastra.
Kamis, 16 Mei 2013 21:22 WIBPejuang Palestina Tembakan Rudal ke Israel