THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Seni dan Budaya»Ketika Sha Melepas Jilbab


Ketika Sha Melepas Jilbab
Muhajir Juli | The Globe Journal
Senin, 24 September 2012 20:44 WIB

Tiap helai rambutnya kini nyata dapat kupandang. Bahkan bukan hanya aku, lewat facebook, dia pamerkan setengah badannya yang tanpa jilbab itu kepada seluruh dunia. Aku heran, mengapa dia yang dulu sangat mencintai hijab kepalanya, kini seolah tak mengenal helai kain itu lagi.

Bingung, jelas sekali hal itu kurasakan. Sha, sahabatku yang pernah sementara kuliah satu ruang denganku, kini telah banyak berubah. Padahal, dulu aku mengenal dia sebagai seorang gadis alim, cantik, lembut dan tidak pernah menampakkan lekuk tubuhnya kepada siapapun.

Dulu, saat masih sama-sama kuliah, aku pernah berdiskusi dengannya tentang hijab tubuh yang diatur dalam agama Islam. Saat itu dia dengan mengutip ayat suci dan perkataan Nabi Muhammad, telah menghipnotis diriku, sehingga rasa getar jiwa dan jatuh hati kepadanya pernah kurasakan. Indah nian bila aku mengenang kembali masa itu.

“Abdul, bagi seorang perempuan muslim, menurutp aurat merupakan kewajiban. Tidak ada alasan bagi yang sudah akil baligh untuk tidak menutup setiap lekuk tubuhnya dengan hijab,” kata Sha saat itu, ketika kami sedang menikmati segarnya teh setengah hangat dibelakang kantin kampus.

Aku mencoba cari tahu ke teman-teman, perihal perubahan signifikan yang terjadi pada Sha. Namun rata-rata menggeleng kepala dan juga ikut bingung. Si gadis hijaber yang sekarang nyaris telanjang.

“Dia bisu ketika kami coba tanya mengapa tak lagi mengenakan jilbab dan suka memajang foto tak pantas di facebook,” ucap Nini pada suatu ketika. Nini adalah teman dekat Sha yang saat kuliah aktif mengikuti pengajian yang diadakan oleh aktifis rohis kampus.

Aku semakin tak percaya dengan semua perubahan yang terjadi pada Sha. Aku sempat berpikir, bila yang merubah dirinya adalah sang suami atau orang lain yang dekat dengannya. Apakah seburuk itu orang terdekat Sha saat ini? Apakah agama bagi mereka hanya simbul semata? Entahlah. Aku semakin bingung saja.****

Suatu pagi, ketika membuka facebook untuk meng-update- status, inbox akunku nampak menunjukkan angka satu. Aku penasaran, siapa yang mengirimkan aku sebuah pesan secara tertutup? Dengan perasaan penuh tanya aku meng klik dan masya Allah, Sha mengirimkan aku sebuah surat.

Abdul sahabatku

Sebenarnya aku risi dan agak terganggu saat mengetahui bila kamu begitu semangat untuk mencari tahu tentang perubahan yang kualami. Namun sebagai seorang teman, aku hargai hal itu. Semoga saja niat baikmu itu mendapatkan balasan dari yang di atas.

Jujur saja, keputusanku untuk melepas segala bentuk simbul kealiman merupakan pilihan yang kubuat sendiri. Semua ini berawal dari ketika aku sadar, bila orang terdekatku tidak menyukai bila aku terlalu menutupi tubuhku dengan kain-kain panjang itu.

Suamiku tidak pernah meminta agar aku menanggalkan semua pakaian yang kalian sebutkan islami itu. Sebagai wanita aku harus tahu diri dong. Sekarang aku sudah bersuami, punya anak dan suamiku punya pergaulan yang lumayan membutuhkan kehadiranku bersamanya. Kamu tahu tidak, saat pertama aku hadir dengan hijab itu, semua menandang aneh kepadaku. Suamiku nampak serba salah saat itu.

Akhirnya aku berpikir, bila berbakti dan mengikuti apa yang disenangi oleh suami adalah ibadah. Bukankah hal itu pula yang sering kita diskusikan di kampus dulu? Cukup gamis dan jilbab dalam hati saja yang kukenakan. Kurasa itu lebih dari cukup.

Apalagi mengingat kenyataan, bila yang berjilbab juga sangat banyak yang tidak menghargai jilbabnya. Di balik nampak alimnya, mereka terus berbuat ingkar kepada Tuhan. Sedangkan aku? Aku tidak pernah demikian. Sampai sekarang aku hanya melakukan apa yang disukai oleh suamiku. Itu saja.

Kuharap kau paham. Maaf bila kali ini kita harus berbeda.

Salam hangat

Sha

Aku terkesiap. Ada rasa tak percaya, tapi surat ini dikirimkan dari akun facebook miliknya. Apakah ada yang meng-hack? Tapi tak mungkin. Sebab setiap hari aku melihat foto terbaru selalu di pajang di wall media sosial ini.

Ya Allah, hanya Engkau yang tahu tentang rahasia semua ini. Semoga kau kembalikan Sha kejalan yang Engkau ridhai.

Banda Aceh, 24 September 2012.

Penulis adalah wartawan The Globe journal, peminat masalah sastra.






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close