
Politik Pencitraan Wiranto di Ajang X-Factor
Rivalitas Duo JermanBanda Aceh-Pakar Bahasa Melayu Yusmar Yusuf mengatakan bahasa Melayu yang menjadi akar dari bahasa Indonesia semakin mengalami degradasi karena banyak katasudah berubah dari makna awalnya.
"Sebagai bahasa yang dituturkan oleh banyak manusia, mau tak mau, dia akan mengalami 'pengeroyokan' oleh penutur bahasa kedua dalam jumlah yang ramai," kata Guru Besar Kajian Masyarakat Melayu Universitas Riau itu, saat dikonfirmasi, di Jakarta, Rabu (4/7).
Fakta ini sebagaimana Bahasa Inggris yang ditutur oleh orang di Hong Kong, Malaysia dan lain-lain, yang mengalami degradasi makna dan struktur.
Yusmar memberi contoh, kata 'alih-alih', dalam bahasa Melayu berarti 'tak disangka-sangka', hari ini sudah berubah makna dalam bahasa Indonesia, dan bahkan orang Melayu sendiri jadi tak mengerti apa arti kata 'alih-alih' itu.
"Demikian pula, orang Melayu menjadi bingung, ketika kata 'seronok' dikeroyok menjadi wakil dari erotisme dan sensualitas. Padahal artinya, amat positif, yakni menyenangkan, enak, sedap, dan lezat," kata budayawan Riau itu.
bahasa Melayu, diakuinya, justru amat berkembang ketika dituturkan 250 juta manusia Indonesia karena bahasa ini menjadi bahasa yang progresif. Namun, dampaknya, bahasa Melayu menjadi kehilangan 'rasa' dan makin menuju pada kedangkalan bahasa, terutama dalam knowldege content.
Bahasa Melayu sebagaimana bahasa Inggris, Jawa, dan bahasa lainnya, awalnya adalah bahasa ekspresif.
"Namun, setelah diadopsi sebagai bahasa Indonesia, dia berubah hanya sebagai bahasa deskriptif yang berfungsi untuk menjelaskan," ujar Yusmar. "Dia menjadi kering. Mereka yang merasa kekeringan itu adalah penutur Bahasa Melayu yang asli, yang memakai Bahasa Melayu sebagai bahasa ibu seperti di Riau, pantai timur Sumatera atau pantai barat Kalimantan."
Menurut dia, semestinya ada sistem 'rujuk' yang diterapkan dalam bahasa Indonesia, yakni ketika ada upaya penambahan 'lema' atau 'entry' kata, sejalan dengan perkembangan dunia, hendaklah dirujuk dulu ke bahasa Melayu.
"Jika tidak ada, baru diambil dari bahasa lokal nusantara lainnya, setelah itu diambil dari Bahasa Arab. Jika tidak ada dalam semua bahasa tadi, baru dia diadopsi dari bahasa lain seperti Inggris. Hendaklah Indonesia bersetia memelihara keaslian arti dan makna," tuturnya. [003-antara]
Sabtu, 25 Mei 2013 11:29 WIBDisbudpar Banda Aceh di Pameran Gebyar Wisata dan Budaya Nusantara 2013
Sabtu, 25 Mei 2013 11:46 WIBFestival Budaya Kalteng Tahun Ini Lebih Hemat