Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Politik»PDI-P: Ego Sektarian Tidak Boleh Ada di Indonesia


PDI-P: Ego Sektarian Tidak Boleh Ada di Indonesia
Kamis, 15 Oktober 2015 10:18 WIB

Jakarta - Anggota Fraksi PDI Perjuangan, Said Abdullah mengatakan benih-benih sektarian tidak boleh ada di Indonesia dan harus dipadamkan karena bisa mengancam integrasi bangsa.

"Merawat Indonesia sesungguhnya ditandai dari sikap dan perilaku positif yang cerdas dari seluruh elemen bangsa terhadap keragaman agama kita," katanya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (14/10/2015).

Hal itu dikatakannya terkait pembakaran sejumlah gereja di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. Said Abdullah mengatakan bangsa Indonesia tidak boleh dikapling-kapling hanya karena perbedaan keyakinan atau agama. Menurut dia, semua agama mempunyai hak yang sama dan setara sehingga wajib hukumnya bagi semua anak bangsa untuk saling melindungi.

"Kekuatan kita adalah kekuatan yang dijalin dari perbedaan suku, agama dan daerah," ujarnya.

Menurut Wakil Ketua Badang Anggaran DPR itu, konstitusi memberi peluang luas bagi warganya untuk ekspresi sesuai keyakinannya. Kebhinekaan ujar dia, bukan barang baru dan telah ada sejak negara ini belum lahir dan kebhinekaan di Nusantara adalah fakta, bukan masalah.

"Namun sungguh ironis apabila ekspresi keyakinan itu justru ingin menyingkirkan perbedaan atau kebhinekaan yang sudah lama ada," katanya.

Para pendiri Republik sadar bangsa di Nusantara ini amat beragam. Dia menjelaskan, Indonesia memiliki fondasi kebangsaan yaitu Pancasila yang memberikan pijakan kuat bagi bangsa ini yang berbeda-beda latar belakang untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa.

Fondasi itu menurut dia, sebenarnya penopang eksistensi bangsa dan jika kita berbicara Indonesia, maka tidak mungkin melepaskan apa yang disebut kebhinekaan suku, agama dan ras (SARA), karena adalah "ibu kandung" Republik Indonesia.

"SARA semestinya bisa dijadikan kekuatan yang mempersatukan republik ini, sebab secara nation Indonesia terdiri dari gagasan-gagasan yang menitikberatkan pada SARA tanpa kecuali," ujarnya.

Said meminta aparat penegak hukum agar mengusut tuntas aktor intelektual dibalik peristiwa pembakaran gereja di Aceh tersebut. Menurut dia, siapa pun yang salah harus diberi sanksi sesuai aturan yang ada tanpa "pandang bulu".

"Penegakan hukum jelasnya sangat penting karena tindakan pembakaran gereja ini menyebabkan ke bhinnekaan terkoyak di serambi mekah," katanya.

Menurut dia, Presiden pertama Indonesia, Soekarno secara tegas mengatakan republik ini tidak didesain untuk melindungi minoritas dan tidak juga untuk memproteksi mayoritas. Namun menurut dia, Soekarno menilai republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, siapapun dia. (Ant/WE)






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close