THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Politik»Malek Mahmud Khawatirkan MoU Helsinki, Seperti Perjanjian Lamteh


Malek Mahmud Khawatirkan MoU Helsinki, Seperti Perjanjian Lamteh
Afifuddin Acal | The Globe Journal
Selasa, 14 Agustus 2012 14:12 WIB

Banda Aceh - Aceh memiliki perjalanan sejarah sendiri dalam mewujudkan Indonesia dimasa lalu. Oleh sebab itu Aceh disebut dengan Daerah Modal. Ini memiliki arti sendiri dan punya makna yang paling dalam apa yang telah disampaikan oleh Pemimpin Indonesia dimasa lalu.

Aceh berbeda dengan daerah lain, bahkan Aceh bisa menentukan arah kebijakan Negara.

Oleh karenanya, Malik Makmud selaku pemangku Wali Nanggroe Aceh mengatakan dalam konferensi pers dalam rangka menyambut 7 tahun penandatangani MoU Helsinki di Finlandia 15 Agustus 2005. Seluruh rakyat Aceh harus memahami sebab terjadinya konflik Aceh lebih dari 30 tahun.

Menurut Malik, persoalan kepentingan Rakyat Aceh untuk bisa hidup adil dan sejahtera. Selama ini ada banyak persoalan yang telah dikhianati sebelumnya, sehingga Aceh harus angkat senjata dimasa itu. Namun, sekarang semua sudah berakhir pada perdamaian dan itu harus kita kawal dan jaga secara bersama-sama.

Demikian dijelaskan Malek Mahmud, Pemangku Wali Nanggroe Aceh, dalam Konferensi Pers menjelang peringatan 7 tahun penandatangi MoU Helsinky di Finlandia 15 Agustus 2005 di Meuligo Wali Nanggroe Geuce Kayee Jato.

"Kita harus tahu sebab terjadinya konflik di Aceh," ucap Malik Mahmud Pemangku Wali Nanggroe dalam Konfrensi Pers Selasa (14/8). Supaya MoU Helsinky tidak terulang lagi seperti perjanjian Lamteh.

Perlu kiranya, lanjut Malek Mahmud, memahami dan dan mengetahui isi dari MoU dan UUPA itu sendiri. Baik itu Partai Nasional, Lokal maupun masyarakat pada umumnya. Sehingga dengan demikian, seluruh elemen di Aceh akan memiliki dan bertanggungjawab untuk terus memperjuangkan implimentasinya dalam UUPA sesuai dengan MoU Helsinky.

Menyangkut dengan UUPA yang belum sepenuhnya sesuai dengan MoU Helsinki. Malek Mahmud selaku Pemangku Wali Nanggroe Aceh menjelaskan, dengan semangat Pemerintah Aceh yang baru saat ini bisa diselesaikan dengan baik.

Karena dimasa lalu sangat terkendala dengan kurangnya dukungan dari Pemerintah Aceh. Sehingga membuat tidak berjalannya sesuai apa yang diharapkan.

"Alhamdulillah dengan adanya doto Zaini Abdullah selaku Gubernur Aceh, bisa kita jalankan roda Pemerintahan Aceh sesuai dengan MoU Helsinky yang tertuang dalam UUPA," ujar Malek Mahmud.

Pada Pemerintah Pusat juga ia berharap untuk terus mendorong dan mengupayakan untuk menciptakan regulasi sesuai dengan MoU Helsinki. Ia melihat Pemerintah Pusat sekarang punya niat yang baik untuk terus menjaga dan menciptakan iklim perdamaian di Aceh untuk selamanya. 

Lanjutnya lagi, bila bisa mensingkronkan antara MoU Helsinki dengan UUPA, tentunya tidak akan ada masalah lagi dimasa yang akan datang. Dalam jangka waktu 10 tahun, Aceh akan berubah maju dan kesejahteraan akan meningkat.

"MoU dan UUPA harus singkron, Insya Allah tidak akan ada lagi persoalan dimasa yang akan datang," pungkas Malik Mahmud.

 

[001]






Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close