Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Politik»Kisah Abdul Rahman Ayub, Komandan Jamaah Islamiyah Australia


Kisah Abdul Rahman Ayub, Komandan Jamaah Islamiyah Australia
Minggu, 14 April 2013 20:58 WIB

Jangan tanya soal membuat bom pada orang ini. Dengan mata tertutup pun dia bisa merakitnya dengan cepat. Namanya, Abdul Rahman Ayub, teman sepelatihan Hambali yang kini ditahan CIA di Guantanamo. Pulang dari memimpin jaringan JI Australia, Ayub kini memilih jalan “damai”.

Perawakannya tidak begitu tinggi. Namun, otot-ototnya masih menunjukkan kebugaran di masa muda. Sorot matanya tajam dan penuh selidik. Genggaman tangannya juga mantap.

“Bagaimana Anda bisa dapat kontak saya?” tanyanya pada koran ini saat ditemui di sebuah restoran Jepang di Jakarta Jumat lalu (12/4). Ayub dan pengawal pribadinya Aznavour Rasyad sangat anti-publikasi. Selain alasan keamanan, dia juga tidak gampang mempercayai orang.

“Banyak yang mengaku wartawan ternyata intel. Hanya kedok,” katanya.

Karena itu, dia selalu melakukan seleksi awal. “Biasanya saya cek dulu jalur rekomendasinya ke beberapa orang. Misalnya Anda mengaku dapat kontak dari si X, lalu Y. Nah kalau klir, bolehlah kita makan bersama,” katanya sambil tersenyum. Avu, asistennya, dengan sigap memilih menu.

Wajar jika Ayub selalu hidup dalam kewaspadaan. Dia mantan orang sangat penting di Jamaah Islamiyah (JI), sebuah organisasi klandestin yang sering disebut sebagai payung gerakan teror di Indonesia. “Saya diamanahi memegang komando JI di Australia, sejak 1997 hingga 2002,” katanya.

Sebelum “ditugaskan” ke Negeri Kangguru, Ayub bertugas di Sabah, Malaysia. Tepatnya di Sandakan, tak jauh dari Lahad Datu. “Saya menjadi semacam penghubung atau kurir bagi mujahidin yang mau berlatih ke Moro, Filipina, melalui jalur Malaysia,” katanya.

Itu dilakoninya pada 1992 hingga 1997. Bapak tujuh anak itu adalah alumni Akademi Militer Mujahidin Afghanistan camp Ijtihad Islami Abdul Rasul Sayaf. Dia menempuh ilmu kemiliteran di sana pada 1986 hingga 1991.

“Saya berjuang di garis depan melawan Uni Soviet (Rusia). Berapa yang saya bunuh, wah, sudah lupa,” katanya.

Ayub awalnya hanya siswa STM Boedi Utomo yang mengaji di masjid DDI Kramat Raya pada 1983. Dari sana dia mengenal Sulaiman Mahmud, komandan Darul Islam Aceh.

Dari Mahmud, dia mengenal Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar, lalu berbaiat untuk setia pada 1985 di Solo. Ayub berangkat ke Afghanistan bersama 24 orang lainnya dari Indonesia, termasuk Encep Nurjaman alias Riduan Isamudin alias Hambali, otak serangan bom Bali 2002.

“Di Afghanistan saya mengajar bersama almarhum ustaz Mukhlas (dieksekusi 2008), dia mengajar ilmu hadis dan tauhid,” ujarnya.

Di Australia, Ayub tinggal di Perth. Dia bekerja sebagai pengajar agama di komunitas Timur Tengah di sana. Istrinya, menyambi sebagai penjahit.

“Saat itu, saya sedang proses apply sebagai permanent residence, sampai tiba-tiba WTC hancur (2001) dan setahun kemudian Bali diserang bom,” katanya. Dari jaringannya, dia mendengar bahwa itu ulah Hambali, teman sepermainan dan seperjuangannya sejak muda.

“Saya kecewa sekali. Kok begitu, Indonesia kok dianggap negara perang. Ini saya tidak sepakat,” katanya.

Di Australia, gerak dakwahnya juga terimbas. Apalagi, setelah salah satu murid pengajiannya yang bernama Jack Roche ditangkap karena merencanakan pengeboman Kedutaan Israel di Canberra.

Jack adalah imigran asal Inggris yang memeluk Islam karena dakwah Ayub. “Saya memang mengirimnya ke Afghanistan untuk memperdalam agamanya. Ternyata dia justru bertemu Osama dan Hambali. Pulang-pulang sudah berubah,” kata pria kelahiran 1963 ini.

“Kalau memang ingin mengebom, ngapain saya utus Roche, saya sendiri juga bisa,” tambahnya.

Aparat Australia mulai gelap mata. Setiap yang terdeteksi radikal langsung ditangkap. “Saya memang terbang ke Indonesia setelah itu, tapi bukan melarikan diri. Toh, tidak ada bukti apapun yang bisa mengaitkan saya dengan aksi terorisme,” katanya.

Sampai di Jakarta akhir 2002, Ayub memutuskan melepas jabatannya di Jamaah Islamiyah. “Saya mencabut baiat (sumpah setia). Saya lepas semua jabatan dan fasilitas saya yang didapatkan di JI,” katanya.

Fasilitas ? “Oh iya, JI itu organisasi yang kaya. Kalau selevel saya, bisa dapat rumah dinas dan mobil operasional. Infak jamaah besar, bisa miliaran rupiah,” kata Ayub.

Dia mencontohkan, ada dermawan di kawasan Kemang yang menginfakkan rumah mewah dan mobilnya untuk jamaah. “Pokoknya sekali hati sudah diraih, soal harta itu total, nggak pakai hitungan,” katanya.

Walaupun dia tidak terlibat, tetap saja Ayub jadi target operasi. “Saya dikepung mau ditangkap di Bintaro waktu itu. Alhamdulillah bisa lolos,” ujarnya.

Alumni LIPIA itu hidup sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah hingga 2006.

“Bagaimanapun saya kenal semua yang terlibat pengeboman itu. Hambali bahkan pernikahannya saya duiti, Mukhlas senior, Amrozi dan Imam Samudera anak didik saya,” katanya. Baru setelah hampir semua jaringan tertangkap, Ayub bersedia ditemui aparat.

“Saya tegaskan saya tidak setuju dengan mereka, Hambali dan kawan-kawan itu. Tapi, saya juga tidak mau bekerja untuk pemerintah,” kata Ayub.

Sebagai tokoh dan organisatoris JI senior, Ayub tentu sangat menggiurkan direkrut oleh berbagai lembaga intelijen.

“Semua saya tolak. Baik dari Indonesia, BIN, polisi, TNI, BNPT, maupun dari Australia. Memang ada penawaran, tapi saya tidak mau,” ujarnya. Meski begitu, dia mengakui hubungan dia dengan “para perayunya” tetap baik.

“Kita nafsi-nafsi (sendiri, sendiri). Silakan kalian begitu, saya memilih keliling ke masjid-masjid saja,” katanya. Risikonya memang berat.

Maklum, sebagai orang yang berketerampilan unik (baca: jago membuat bom) tentu tak gampang mendapat pekerjaan dari nol.

“Jamaah sudah tidak melindungi saya, sementara saya juga menolak fasilitas apapun. Bismillah, saya jualan donat, kue pastel, keliling ke masjid-masjid,” katanya. Istri dan anak-anaknya yang juga dia boyong ke Indonesia juga membantu dengan menjahit dan ikut berjualan.

Di sela waktunya, dia mendatangi kantong-kantong yang dia tahu banyak kalangan yang pro dengan aksi pengeboman. “Alhamdulillah banyak yang bersedia berhenti. Saya tidak usah sebut namanya,” katanya.

Berhenti dalam arti berhenti memusuhi aparat negara Indonesia.

“Kalau berlatih kita terus. Kalau misalnya negara ini diserang asing, Amerika, ya, kita lawan sekuat tenaga. Tapi sekarang ini kan damai. Salat bebas ditegakkan dimana saja,” ujarnya.

Meski sudah keluar dari jamaah, dia mengaku tetap menjaga hubungan baik dengan Abu Bakar Ba’asyir, pria yang mengutusnya ke Australia tahun 1997.

“Saya sempat menemui ustaz Abu di rutan Bareskrim. Saya melihat beliau sangat kecewa, bahkan badannya sampai bergetar ketika tahu saya sudah tidak sefaham lagi,” ujarnya.

Di kalangan tertentu, Ayub memang sudah difatwa sesat. Bahkan, halal darahnya. “Silakan saja cek di internet, saya dihujat-hujat begitu rupa. Saya sabar saja karena sebenarnya mereka itu (yang menghujat, Red.) adik-adik saya,” katanya.

Dia sebenarnya ingin bertemu dengan Abdurahim Ba’asyir, putra ustaz Abu. “Dia itu saya yang mendidik. Alhamdulillah sekarang dia jadi ustaz. Dulu dia terkenal suka membongkar tas mujahidin yang baru pulang dari Afghan,” katanya lalu tertawa.

Ayahnya, Baasyir, tak mampu menasihati Iim –sapaan akrabnya--. “Kalau sudah begitu, saya yang maju. Saya panggil, saya suruh push up, guling-guling, sampai kapok,” ujarnya.

Ayub berharap ada lembaga netral yang bisa memfasilitasi dialog.

“Terus terang saya tidak mau kalau BNPT atau Densus yang mengadakan. Saya bukan bagian dari mereka,” katanya.

Dihubungi lewat teleponnya, Abdurahim Ba’asyir hanya tertawa mendengar Ayub ingin dialog.

“Saya memang sudah lama sekali tidak mendengar kabarnya,” kata Iim. Dia membenarkan Ayub pernah mendidiknya. “Ya, beliau memang guru saya. Itu fakta,” katanya.

Soal sikapnya sekarang yang “berubah” Iim tidak mau mengomentari. “Sampaikan salam saja, dan silakan itu buku-bukunya yang dulu dibaca lagi,” ujar Iim. [1-kaltimpost]






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close