THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Politik»Adnan Buyung Nasution: SBY Orang Baik yang Ragu Bikin Keputusan


Adnan Buyung Nasution: SBY Orang Baik yang Ragu Bikin Keputusan
Minggu, 27 Mei 2012 01:28 WIB

Jakarta-Gaya kepemimpinan yang penuh pertimbangan membuat SBY sulit untuk membuat keputusan dalamwaktu cepat. Hal tersebut disampaikan mantan anggota dewan pertimbangan presiden (wantimpres) Adnan Buyung Nasution,  Sabtu (26/5).

"SBY itu bukan tidak ingin berbuat, tetapi segala sesuatunya penuh akan pertimbangan. Dia tidak ingin memiliki musuh. Sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk mendesak beliau agar mau menjalankan apa yang saya sarankan," ujarnya.

Ia mengatakan sepanjang menjadi anggota wantimpres, waktu paling lama yang dibutuhkannya untuk meyakinkan presiden sekitar sepuluh hari. Adnan menjelaskan presiden tidak pernah langsung memutus apa yang ia sarankan, karena banyak pengaruh lain yang juga dijadikan pertimbangannya.

Ia mencontohkan saat ia memberikan saran terkait dengan organisasi Ahmadiyah. "SBY ragu akan saran saya, ia mendapat tekanan dari golongan yang mengatasnamakan agama. Saat itu, dua menterinya yaitu menteri dalam negeri (mendagri) dan menteri agama (menag) sudah menyiapkan SK pembubaran Ahmadiyyah," ucap Adnan yang menyatakan baru kali ini membuka kasus tersebut.

SK tersebut merupakan bentuk tekanan kepada presiden untuk mengikuti apa yang disarankan kedua menteri tersebut. "Akan tetapi, saya berujar kalau negara kalah dengan gerakan anarki yang mengatasnamakan agama, negara ini akan hancur."

Adnan meminta presiden agar tidak meneken SK tersebut. Karena, akan melanggar konstitusi dengan membatasi kebebasan seseorang berorganisasi.

"SBY setuju dengan pendapat saya, dan saya diminta bertemu langsung dengan kedua menterinya itu. Saat itu saya bertemu dengan kedua menteri tersebut dengan disaksikan Hatta Rajasa di kamar kerjanya," ceritanya.

Adnan menyatakan harus ada payung hukum terlebih dahulu untuk membubarkan organisasi. Setelah pertemuan itu, kedua menteri itu pun tidak lagi mendesak presiden untuk menandatangani SK. Adnan juga menyatakan dirinya yang menyarankan SBY agar memberantas korupsi dari tingkat atas, istana dan menteri-menterinya.

"SBY itu orang baik, terkesan ragu karena banyak sekali yang dia pertimbangkan," ujarnya.  [003- MI]






Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close