
Kontrak Rio Ferdinand Diperpanjang Setahun
Wah, Pak Tarno Jajaki Fitri TropicaBanda Aceh – Dunia kepenulisan sastra Aceh kian dinamis dengan hadirnya tokoh-tokoh muda penggerak sastra. Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Aceh sebagai salah satu mesin produksi tokoh-tokoh kepenulisan Aceh kembali menelurkan pemimpin baru. Dalam musyawarah wilayah yang diadakan di Aula Fatih Billingual School Minggu (28/5), Ibnu Syahri Ramadhan, penulis muda yang kerap menabalkan diri sebagai ‘Anak kampung’ terpilih sebagai ketua FLP Aceh periode 2012-2014.
“Apa jadinya anak kampung nakhodai FLP Aceh. Bismillah,” ujar alumnus Ekonomi Unsyiah ini melalui akun facebooknya.
Persaingan menuju kursi FLP Aceh I terbilang sengit. Sebelumnya bersama Ibnu, muncul enam kandidat lainnya. Mereka yakni Anugerah Roby Syahputra, Ade Oktiviary, Muhammad Baiquni, Nuril Annisa, Liza Fathiariani, dan Isni Wardaton. Para dewan komisioner FLP Aceh yang diketuai oleh Cut Januarita memberikan apresiasi yang besar kepada tujuh kandidat ketua FLP Aceh ini yang memiliki ragam potensi.
Namun tetap saja mereka harus ememilih satu orang untuk memimpin FLP Aceh untuk membangun gebrakan kepenulisan pada dua tahun mendatang. “InsyaAllah saya siap,” sebut Ibnu.
Walhasil dengan raihan suara mayoritas, Ibnu dikukuhkan sebagai ketua definitif. Dalam sambutannya, Ibnu berharap anggota FLP Aceh kedepan dapat memproduksi karya yang lebih banyak untuk mengharumkan nama Aceh.
Sebelumnya, proses Muswil FLP Aceh diawali dengan penyajian laporan pertanggungjawaban yang disampaikan ketua FLP Aceh periode 2010-2012, Riza Rahmi. Dalam laporannya Riza menyebutkan, pada dasarnya ada banyak kegiatan yang sudah dilakukan FLP Aceh untuk menjamurkan semangat kepenulisan di tengah-tengah masyarakat. Hanya saja perlu langkah yang lebih strategis untuk memasifkan gerakan kepenulisan ini.
“FLP Aceh bukanlah organisasi yang ekslusif. Kita terbuka dengan pihak manapun untuk memajukan kepenulisan di Aceh,” ujarnya.
Perlu diketahui, FLP Aceh merupakan salah satu komunitas kepenulisan Aceh yang sedang mewujudkan upaya kemandirian organisasi melalui berbagai hal. Selain memiliki jaringan luas di Indonesia dengan jumlah anggota mencapai 300-an untuk meningkatkan sektor fund raising, FLP Aceh juga memiliki sector usaha yang disebut dengan Kamoe Publishing House (KPH). Melalui KPH, mereka berupaya mencetak sejumlah buku karya putra-putri Aceh dengan maksud menghilangkan ketergantungan terhadap sokongan dana dari pihak luar. [Rel-005]
Kamis, 23 Mei 2013 16:33 WIBPerpustakaan Inggris Koleksi Tulisan John Lennon