THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Opini»Seumangat Aceh Berzikir


Seumangat Aceh Berzikir
Arifsyah M Nasution | Aktivis Jaringan KuALA
Selasa, 26 Juni 2012 14:58 WIB

Aceh bukan hanya sekadar bentang geografis yang menawan. Bukan pula sebatas wilayah tektonik-aktif atau rawan-gempa yang mengundang simpati. Juga tidak hanya khas dengan keunikan ragam budaya yang mengundang decak kagum. Tetapi lebih dari itu! Aceh juga merupakan rentang historis dimana teladan, perlawanan dan perdamaian dirayakan. Sekaligus sebagai realita sosiologis yang turut menyuguhkan dinamika kehidupan masyarakat Aceh kekinian yang kompleks dan serba kontras.

Kontras semacam politik santun vs politik arogan. Penegakan syariah vs pembangkangan syariah. Pemurnian akidah vs misionarisme salah-sasar dan pedangkalan akidah. Toleransi beragama vs kekerasan atas label agama. Anti-korupsi vs korupsi-mania. Kearifan lokal vs kehedonan budaya-luar salah-serap. Kepekaan sosial vs ketamakan individu. Ide dan program pengentasan kemiskinan vs lemahnya komitmen nyata pemerintah daerah. Kepentingan pertambangan vs kepentingan hajat-luas masyarakat tempatan. Jeep Wrangler dan Hummer vs Becak dan Labi-labi. Dan semacam, seterus dan sebagainya.

Sebuah konteks Aceh dengan raut-wajah ekonomi, sosial, budaya dan politik yang labil serta acap berubah-ubah dan malah mudah diubah-ubah. Bahkan dapat saja berevolusi-labil dalam hitungan jam. Konteks yang menjadi sajian empuk pekerja media. Santapan, bualan dan kerjaan hari-hari para “penguasa”; dari oknum pejabat publik, oknum praktisi politik, oknum penegak hukum sampai dengan oknum kelompok orang tidak dikenal (OTK), serupa gerombolan tanpa garis komando yang bisa mengatasnamakan siapa saja dan dapat tega menghalalkan segala cara untuk dapat mempertontonkan keonaran, memaksakan kehendak, membangun aksioma-keanarkian, hingga seakan berhak membeli ataupun menjual apa saja untuk kepentingan dan tujuan serangkah atau seburuk apapun.

Konteks dimana Aceh dengan sendirinya (automatically) sedang dan mungkin (jika tidak jeli dan berani berjuang dan memilih demi melangkah lebih maju) akan terus berada pada “jebakan momentum” atau juga bisa-bisa terjerambat pada sebuah “pilihan kegamangan” (dengan tidak melangkah kemanapun) untuk tetap berdiri di “persimpangan-jalan”. Paragraf ini tentunya harus dipahami dan dicermati secara analogis dan diagnostik.

Plus-nya Aceh masih dikaruniai Tuhan untuk memiliki generasi pemikir, pejuang dan para pembaharu; dengan kematangan intelektual dan semangat-juang yang tangguh, gigih dan pantang menyerah. Semangat yang terus be-regenerasi dari satu etape dimasa lalu ke etape hari ini dan (semoga dimasa) yang akan datang. Semangat yang menjaga, membangun dan mengawal (pembangunan) Aceh agar lebih humanis, damai, tentram, bersyariat, bermartabat dan berdaulat.

Dari masa ke masa, semangat ini terus diuji dan ditempa. Menjelma menjadi sebuah perjuangan dan (semoga) keniscayaan untuk tidak berhenti terus mengkaji-diri serta senantiasa bergerak dan mengawal untuk perubahan dan pembangunan Aceh kearah yang lebih baik. Tanpa karunia dan seumangat ini, Aceh sebagai sebuah bentang geografis dan rentang historis mungkin saat ini hanya tersisa sebagai tanah kering-gersang dan puing-puing yang sudah tak (akan bisa) lagi makmur, hijau dan biru (alamnya), terpandang apalagi terhormat (Ke-Islam-an, adat dan budaya-nya).

Nah! Seumangat ini kini semakin teruji sekaligus serius diuji. Sebuah genta demokrasi lokal (baca: Pemilukada Aceh, 9 April 2012) telah menghantarkan “Pasangan Zikir” –Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf–  bernomor-urut 5 ini pada jabatan-publik sekaligus amanah-rakyat untuk memimpin Aceh dengan sebaik-baik dan seadil-adilnya. Keduanya adalah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur (Nanggroe) Aceh (Darussalam) terpilih Periode 2012-2017; sebagaimana penetapan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh pada 17 April 2012 lalu.

Setelah melewati minggu-minggu “pancaroba” dan (semoga) tiada lagi aral melintang, maka prosesi pelantikan, pengangkatan dan pengambilan sumpah jabatan secara resmi dan protokoler kepemerintahan yang telah diselenggarakan pada Senin, 25 Juni 2012, dalam Sidang Paripurna Istimewa (di gedung) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA, yang terhormat).

Gebyar diberitakan, massa dan simpatisan Partai Aceh (PA) kembali ‘memerahkan’ Kota Banda Aceh; sebuah kota berlakab Kutaraja yang megah dengan kegemilangan sejarah, Ibukota Provinsi Aceh. Pengerahan dan mobilisasi massa ini haruslah dipandang sebagai sesuatu yang inspiratif dan konstruktif. Bentuk kewajaran yang biasa, boleh dan bisa terjadi dimana saja di seluruh pelosok Nusantara ini, Indonesia. Luapan massa yang harus disambut hangat-bersahabat sekaligus berhadir santun-bersahaja.

Terpenting dan teramat substansi adalah bagaimana ‘pemerahan’ Aceh, yang juga menjadi momentum bersejarah bagi Aceh ini, menjadi titik-tolak untuk lebih membangun aceh yang lebih berwarna (colorful), serta genderang untuk sungguh dan benar membangun seumangat kemenangan sekaligus komitmen “perjuangan dan perdamaian” bersama, bagi dan oleh seluruh bangsa dan rakyat (Nanggroe) Aceh (Darussalam), dalam bingkai-indah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebuah seumangat untuk mengawal, mengingatkan dan memperjuangkan sesungguh dan seikhlas-ikhlasnya konsep-fikir dan butir-butir dari Visi-Misi “Pasangan Zikir” agar terlaksana dengan baik dan berwujud untuk kemadanian Aceh.

Untuk itu pula, ditengah ‘kemerahan’ yang tengah membahana dan membanggakan ini, patutlah seluruh komponen pimpinan negeri ini dan segenap rakyat Aceh pada mestinya, perlu terus berzikir (mengingat Tuhan) sebanyak-banyaknya; sebagai wujud tanda-syukur kepada-Nya, Yang masih dan semoga terus mencurahkan Aceh seumangat perubahan kearah yang lebih baik, lebih madani, berdaulat dan bermartabat.

“Seumangat Aceh Berzikir” ini haruslah pula menjadi manifestasi nyata dari “Pasangan Zikir” dalam hari-hari penuh peluang sekaligus tantangan dalam memimpin Aceh. Lebih lanjut, visi-misi dan janji-ikrar yang baik dan memang hak untuk diwujudkan bagi Aceh, penting untuk menjadi kewajiban, tugas-utama dan prioritas.

Setelah terlantik maka “Pasangan Zikir” sejatinya bukanlah representasi kepentingan perjuangan PA semata, tetapi malah harus lebih berani, lebih ber-nurani, lebih membuka-diri serta siap tampil jujur, cerdas dan mengayomi kepentingan rakyat Aceh, untuk terus merajut perdamaian dan melanjutkan (sekaligus meluruskan) pembangunan Aceh kearah yang lebih baik, lebih maju dan lebih berkeadilan; sehingga rakyat Aceh tidak terus termangu di “persimpangan-jalan” yang sama (seperti konteks Aceh kekinian).

Semoga Allah SWT senantiasa mengkaruniai Aceh dengan generasi pemikir, pejuang dan para pembaharu. Seulamat memimpin dan bertugas wahai “Panglima Nanggroe”. “Seumangat Aceh Berzikir” dalam “Perjuangan dan Perdamaian”. Amin!

* Penulis adalah Aktivis Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA). Saat ini bermukim di Banda Aceh. E-Mail: arifsyah@gmail.com.






Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close