THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Opini»Saatnya Aceh urus Haji sendiri


Saatnya Aceh urus Haji sendiri
Teuku Neta Firdaus [Koordinator Bada Pekerja Solidaritas untuk AntiKorupsi (SuAK) “ Atjeh]
Selasa, 17 Juli 2012 06:40 WIB

Kementerian Agama Republika Indonesia kembali menaikkan ongkos naik haji dari Rp 30 juta ke Rp 34 juta tahun ini tidak hanya memberatkan jemaah, tapi juga menunjukkan betapa ibadah suci itu dijadikan modus “pemerasan” oleh pemerintah kepada ummat islam yang berhajjat menunaikan ibadah haji. Sudah waktunya Aceh mengelola penyelenggaraan haji sendiri yang punya kewenangan khusus dan juga sudah terjalin hubungan khusus dengan Kerajaan Arab Saudi. Aceh sebaiknya menghentikan segala urusan dengan lembaga/kementerian korup di Jakarta. Korupsnya Jakarta akan berpengaruh besar bagi maju-mundur perekonomian Aceh. Sudah saatnya Aceh mengurus “dapur”nya sendiri.

Jamaah haji Aceh atau ummat Islam Indonesia masih membayar mahal dengan pelayanan yang buruk, ongkos haji Kementerian Agama Indonesia sangat mahal dibandingkan dengan Negara lain seperti Malaysia yang pelayanan jauh lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Padahal kurs mata uang negara lain lebih tinggi dari Indonesia tapi ongkosnya lebih murah. Tidak ada pelayanan istimewa dari ongkos mahal yang ditetapkan Kementerian Agama tersebut. Pemondokan masih jauh dari masjidil haram, mahal tapi tidak layak dan tidak realistis.
 
Sudah bukan rahasia umum jika pelayanan Haji Kemenag Indonesia masih jauh dari memuaskan. Kemenag RI dinobatkan KPK RI sebagai juara satu korupsi. Dari dugaan kuota siluman, tiket, pakaian, tas, peci, vaksinasi sampai maktab. Dugaan korupsi maktab atau penginapan haji ditetapkan sebesar SR 3.400/haji. Kenyataaanya ada pengembalian 600-800 SR ke oknum, maka SR 800 x 240.000 x Rp. 2.500 = Rp. 480 milyar. Kepala Seksi Maktab di Arab Saudi, setiap tahun pura-pura buka pendaftaran bagi pemilik maktab untuk masukan penawaran jadi rekanan. Kenyataannya dalam secepat kilat pendaftaran ditutup dengan alasan penuh. Itulah penyebab jemaah haji RI selalu mendapatkan maktab yang buruk dan jauh dibandingkan dengan jamaah haji negara lain. Kasie Maktab Haji ini adalah raja yang berkuasa belasan tahun di Arab Saudi, jarang ada pergantian.
 
Belum lagi modus transit haji, yaitu hotel sementara ketika calon haji melakukan transit di jeddah. Biaya yang ditetapkan pemerintah untuk transit haji ini sebesar SR 100. Diduga pemilik-pemilik hotel memberi kickback sebesar SR 20-40, maka diperoleh uang haram sebesar Rp. 24 milyar hanya dari korupsi transit haji. Belum lagi dugaan pelayanan catering yang diduga juga ada praktek suap. Itulah sebabnya makanan para jamaah haji Indonesia di Arab Saudi sering buruk kualitasnya.
 
Aceh mampu mengelola sendiri jamaah haji. Selama ini ibadah umrah saja mampu diselenggarakan banyak lembaga/biro swasta yang bisa mengakomodasi dan membantu mewujudkan penyelenggara haji dan umrah berkualitas dengan berbagai pelayanan baik pelaksanakan ibadah Haji dan Umrah ke baitullah. JIka itu dilaksanakan maka tidak akan terjadi benturan karena Undang-undang Nomor 11 tentang Pemerintah Aceh pasti bisa mengamodir sendiri pelaksanaan penyelenggara haji.

Karenanya, saatnya Aceh dibawah kepemimpinan “ZIKIR” ibadah haji segera dikelola sendiri. Dengan Aceh mengelola sendiri penyelenggaraan haji maka jamaah haji Aceh tidak akan berpengaruh lagi dengan dampak korupsi, kenaikan ongkos haji yang ditetapkan Kemenag RI atau buruknya pelayanan pengelolaan haji Indonesia.






Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close