
Rivalitas Duo Jerman
Ini Baju Tahanan KPK Yang Baru
Hadapi Final, Pelatih Munchen Santai
Fatin Nggak Nyangka Bisa Menang
Gereja Terbesar Kanada Boikot Produk Israel
Bagaimana Supaya Indonesia Bisa Maju Seperti Korsel?Salah satu sumber kegaduhan dalam realitas sosial dan politik adalah penggunaan retorika yang tidak ramah lingkungan (sosial, politik dan kemasyarakatan). Bukan saja menciptakan pertentangan baru, namun seringkali sebuah retorika yang gaduh dapat menyebabkan suasana menjadi tidak nyaman.
Retorika kegaduhan dapat diartikan sebagai penggunaan narasi dengan kalimat atau kata-kata yang dapat menyebabkan pertentangan, perlawanan, hasutan, atau merendahkan martabat seseorang/sekelompok orang yang pada akhirnya akan melahirkan kegaduhan dalam bermasyarakat secara sosial dan politik.
Retorika kegaduhan paling sering berwara-wiri dalam dunia selebriti kaum politik. Karena retorika adalah alat yang paling sederhana untuk menimbulkan dampak tertentu yang kemudian dapat menghangatkan opini ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat.
Retorika kegaduhan paling digandrungi oleh mereka-mereka yang senangnya mencari ‘gara-gara’ dalam dialektika keseharian untuk menggoda pihak lainnya. Sehingga seringnya lawan politik atau yang berbeda persepsi politiknya akan terpancing untuk membalas pantun retorika itu. Walaupun kadang kala, bagi mereka yang cukup cerdas dalam memaknai retorika kegaduhan ini, tidak dengan serta merta terpancing untuk melayani perilaku retorikatersebut.
Karena pada dasarnya kegandrungan menggunakan retorika yang gaduh bukan target utama dari capaian politik yang ingin di sasar. Tinggal bagaimana melihat retorika itu dalam kontek baik buruknya bagi kelangsungan dinamika sosial, politik dan kemasyarakatan.
Kegaduhan Dalam Narasi
Belakangan ini, sejak awal dilangsungkannya pilkada Aceh sampai pasca pelantikan gubernur baru terpilih hasil pesta rakyat tahun 2012 itu, narasi-narasi kegaduhan cukup banyak kita temukan. Sebut saja misalnya penggunaan narasi pengkhianat, pahlawan kesiangan, peulandoek, aneuk bajeung, hana thei droe, panglima tibang, boh manoek kom, dan sejumlah narasi lainnya yang serupa dengannya. Ini adalah ungkapan yang bila dibunyikan oleh salah satu pihak kepada pihak yang lain, maka akan menyebabkan ketersinggungan atau kemarahan pihak yang dituju.
Narasi inilah yang kemudian menyebabkan kegaduhan ketika digunakan sebagai alat retorika saatdibunyikan terutama saat-saat berlangsungnya pilkada dan pasca pilkada. Hasilnya tentu dapat di tebak bahwa sebahagian besarnya akan menjadi kegaduhan di tengah-tengah realitas sosial politik masyarakat.
Beberapa narasi diatas adalah sekedar contoh saja, walaupun sesungguhnya terlalu banyak contoh-contoh narasi yang sebenarnya telah berlaku. Diantaranya seperti penyebutan nama-nama binatang (mulai semut sampai serigala), atau nama-nama lain yang terlalu aib untuk dapat dikalimatkan dalam tulisan ini.
Dari sejumlah narasi-narasi itu semua, kita dapat menebak bahwa sebegitulah tingkat kesantunan perilaku politik itu. Akaitan leubeh nibak peu yang di mariet (tidak jauh berbeda akalnya dengan ungkapan yang di bunyikan).
Moralitas Retorika
Standar nilai untuk suatu narasi dalam sebuah retorika biasanya menggunakan parameter kepatutan (patut dan tidak patut). Nilai kepatutan ini kemudian menjadi ukuran moralitas dari sebuah retorika yang disampaikan. Sejauhmana retorika itu bermoral adalah seberapa baiknya bunyi yang ditimbulkan dapat membangun, menyegarkan, menyadarkan, memotivasi, meneguhkan, mencerahkan, menentramkan, menambah perbaikan dan membahagiakan para penikmat retorika itu. Bahkan tidak jarang volume ungkapan sebuah retorika juga punya daya efek mempengaruhi maksud retorika yang disampaikan.
Retorika dan Kebaikan
Adalah Masaru Emoto seorang Doktor Pengobatan Alternatif lulusan Open International University, Tokyo Jepang, dalam penelitiannya terhadap penggunaan narasi pada sebuah retorika tertentu ternyata mempengaruhi terhadap air. Dalam risetnya secara visual menggunakan teknik fotografi kecepatan tinggi untuk menangkap struktur air bahwa air yang diucapkan dengan kata-kata yang baik akan mengalami pembentukan kristal yang indah.
Sementara air yang diucapkan dengan narasi atau kalimat-kalimat yang tidak baik (destruktif, jahat, kotor, dan tidak etis) menghasilkan kristal air yang jelek dan tak berbentuk. Dari kajian ini mengajarkan kepada kita bahwa sebuah retorika yang baik ternyata sangat bermanfaat bagi kehidupan. Begitu pula sebaliknya ungkapan atau retorika yang tidak baik, maka menghasilkan balasan yang tidak baik pula. Jadi ada korelasi signifikan antara retorika yang baik dengan kebaikan perilaku yang dipersembahkan.
Sebagaimana kita ketahui manusia ini terdiri dari 70 persennya adalah air. Artinya bahwa segala retorika kebaikan tentu secara langsung akan mempengaruhi kepribadian pengucapnya dan kepribadian pendengarnya (yang menikmati retorika itu). Ini tepat sekali sebagaimana narasi yang digunakan oleh Allah subhanallahu wata’aladalam Surat Ibrahim ayat 24-26 yaitu “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”.Indah sekali naratif ini.
Retorika Mencerahkan
Pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa, setiap retorika yang tidak baik akan menyebabkan kegaduhan ditengah-tengah kehidupan, baik kehidupan berbangsa dan bernegara maupun kehidupan bertetangga dan berumah tangga. Setiap retorika yang tidak baik hanya akan menambah kegaduhan yang tidak diharapkan.
Selain menambah masalah dalam kehidupan tentunya juga akan menambah investasi dosa yang semakin berlipat-lipat. Apalah yang kita harapkan dari akhir retorika kegaduhan yang kita bunyikan, bukankah hidup ini terlalu indah untuk dirusak oleh bunyi-bunyian yang tidak mengenakkan itu. Semoga kita dapat mencerdasi hari-hari, dan lebih hati-hati lagi memilih bait-bait retorika yang akan keluar dari mulut kita.
Penulis aktivis Persaudaraan Masyarakat Aceh Cinta Perdamaian (PERMATA) dan dosen Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH), E-mail: rahmat.fadhil@unsyiah.net
Sabtu, 25 Mei 2013 11:29 WIBDisbudpar Banda Aceh di Pameran Gebyar Wisata dan Budaya Nusantara 2013
Sabtu, 25 Mei 2013 11:46 WIBFestival Budaya Kalteng Tahun Ini Lebih Hemat