Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Opini»Pilkada GAM


Pilkada GAM
Oleh Rahmat Fadhil | Pemerhati Pemilu dan Pilkada
Jum`at, 22 Juli 2016 08:29 WIB

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh 2017 kembali menghadirkan para mantan kombatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjadi calon kandidat. Ditingkat propinsi yang mencalonkan diri sebagai gubernur Aceh telah berderet para petinggi GAM yang bersepakat untuk bicah kongsi (pecah persekutuan).

Sampai saat ini tercatat empat kandidat calon gubernur Aceh yang memiliki afiliasi dengan GAM (diakui atau tidak diakui lagi). Mereka adalah Muzakkir Manaf, Irwandi Yusuf, Zaini Abdullah dan Zakaria Saman. Keempatnya merupakan tokoh-tokoh penting bagi GAM dahulu sampai berdirinya Partai Aceh (PA) atas prakarsa mereka.

Namun ditengah jalan Irwandi Yusuf memilih mendirikan Partai Nasional Aceh (PNA) dengan sederetan pendukungnya yang juga dari kalangan GAM. Hingga hari ini terlihat kemudian Zaini Abdullah dan Zakaria Saman pun berhenti dari PA untuk bisa maju sebagai calon gubernur Aceh melalui jalur independen.

Ini adalah pilkada GAM, karena calon gubernur lainnya selain berlatar belakang GAM belum terlihat jelas sejauh ini.

Sebut saja Tarmizi Karim (birokrat) dan T.M. Nurlif (Golkar) yang juga punya niat mencalonkan diri, namun masih dalam berbagai pertimbangan.

Jadi pilkada Aceh 2017 ini akan mengadu antara satu GAM dengan GAM lainnya. Bukan hanya sekedar orang per orang, melainkan juga gerbong yang mengikutinya terutama dari kalangan GAM juga.

 

Pemerintahan Aceh

Sudah dua periode GAM jeut keu raja (menjadi raja) pemerintahan Aceh. Dua model sudah kita nikmati, yaitu model pemerintahan dibawah gubernur Irwandi Yusuf periode 2006-2011 dan Zaini Abdullah di periode 2012-2017.

Semua kita juga sudah memaklumi, itulah yang bisa mereka lakukan bagi Aceh yang disebut dengan self government (pemerintahan sendiri). Entah sudah selesai memaknainya, atau masih terasa belum usai, kitapun tidak tahu arah petanya sejauhmana yang dicita-citakan. Karena peta jalan yang diukir, tidak mudah untuk kita pahami dalam retorika pembanguan yang sudah-sudah itu.

Sang ka, sang tan (seolah sudah, seolah belum).

Ternyata memang tidak mudah mempertahankan kebersamaan dalam perjuangan sehingga sampai mengisi masa-masa perdamaian. Dimasa perjuangan dulu sangat mudah dalam berbagi peran, namun dimasa damai tidak sesederhana yang dibayangkan.

Inilah pelajaran berharga sebagai sebuah gerakan perlawanan yang patut menjadi perhatian. Semua memang punya kemampuan, bahkan kita yakin GAM-GAM lainnya diluar empat nama tersebut pun masih juga punya kekuatan.

Akan tetapi mari kita meraba dalam sanubari kita terdalam. Inikah sesungguhnya yang kita inginkan dari cita-cita perjuangan yang hendak kita perjuangkan?.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa dikalangan GAM masih banyak generasi tua maupun generasi mudanya mempunyai pandangan tentang cita-cita perjuangan yang diimpikan dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Aceh.

Karena bagimanapun uroe nyoe nanggroe tamat keudroe, ta atoe keudroe, ta puga keudroe (hari ini negeri kita pegang sendiri, kita atur sendiri, kita bangun sendiri). Namun lihatlah apa yang telah kita lalui dalam dua masa periode pemerintahan Aceh ini.

 

Invisible hand

Kesadaran semua pihak, terutama para mantan petinggi GAM adalah sangat penting bagi meluruskan kembali jalan perjuangan yang hendak ditorehkan. Ada banyak pemikiran yang perlu kita rajut ulang, ada berbagai komponen internal perlu dileraikan dan sekian banyak persoalan yang masih terus menghadang.

Tangan-tangan yang membenci persatuan dan keutuhan kita sebagai Aceh masih senantiasa bergentanyangan, baik yang secara halus menghembuskan permusuhan dari dalam dan dari luar, atau yang secara terang-terangan mempengaruhi dengan gangguan-gangguan yang menjerumuskan.

Inilah kerja-kerja tangan tak tampak (invisible hand) yang sangat perlu kita terus sadari.

Pilkada antar GAM ini boleh jadi sebagai salah satu jalan bagi kerja-kerja tangan tak tampak untuk mengadu kita sesama orang Aceh.

Menghasut antara satu kubu GAM dengan kubu GAM lainnya, sebagaimana peristiwa dalam kenangan kita didua pilkada sebelum ini. Kita perlu menyadari bahaya-bahaya yang mengancam keselamatan jiwa, raga, dan harta benda. Siapapun pemenang dari pilkada antar GAM ini, kalaulah masih adanya korban, kekerasan, ancaman, ketidakadilan dan saling menghasut kewibawaan, maka sesungguhnya adalah kekalahan.

Karena kemenangan semestinya adalah kebahagian bagi rakyat Aceh, bukan malah keterancaman atas pilihan-pilihan yang dilakukan. Disinilah fokus kita dalam menghadapi pilkada Aceh 2017 ini, dengan tidak mengulang peristiwa-peristiwa yang tidak menentramkan dari pilkada-pilkada sebelumnya.

 

Gubernur Pilihan

Gubernur terpilih nantinya bukanlah milik mantan GAM saja, tetapi beliau adalah milik orang Aceh seluruhnya, dan milik orang-orang yang tinggal di Aceh ataupun di luar Aceh.

Tidak masalah beliau dari satu gerbong GAM berwarna merah, atau dari kafilah GAM yang berwarna oranye, atau GAM tanpa warna, atau bahkan GAM warna-warni sekalipun.

Tetap saja gubernur Aceh terpilih atau yang akan kita pilih adalah orang terbaik dalam persepsi kita masing-masing.

Pada akhirnya kita terus berharap dan berdo’a agar pilkada antar GAM kali ini lebih indah untuk kita jalani. Para kandidat menunjukkan kesantunannya dalam berpolitik dan para pendukungnya menampilkan wajah-wajah ramah yang tidak membinasakan.

Semoga prosesi pemilihan gubernur Aceh periode ini, semua kita mengikuti irama dalam dendangan lagu perdamaian sesungguhnya, bukan syair kekonyolan yang mengancam keselamatan. 

 

 

* Rahmat Fadhil adalah pemerhati pemilu dan pilkada. Saat ini ia juga mengajar sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Email: rahmat.fadhil@unsyiah.net






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close