Bulan haji sudah berkalang bulan. Euforia pesta pernikahan di bulan haji usailah sudah. Para pasangan yang umumnya memilih bulan haji, juga sudah melewati masa bulan madu yang indah. Seindah pesta pacaran setelah menikah. Secara personal, besar do’a yang saya titipkan kepada seluruh pasangan muda Aceh yang baru membangun bahtera cinta itu.
Jikalah Allah SWT mengizinkan, mungkin beberapa pasangan sudahlah mendapatkan kepercayaan untuk memperoleh bayi. Mungkin sang suami sekarang sedang kerepotan mencari mangga. Atau sekedar semangkok bakso untuk memenuhi tuntutan sang istri yang butuh dimanja lantaran berbadan dua. Semoga saja masa itu sang suami bisa mengalah sedikit. Bilapun jengkel, sila disimpan dulu sementara waktu. Tak baik masa kehamilan justru diwarnai dengan perdebatan, cacian, kesedihan, dan sikap negatif lainnya. Bukankah semua orang tua ingin anak-anaknya lahir dengan sehat fisik dan mental?
Beranjak dari masa kehamilan yang mungkin sedang dilalui oleh beberapa pasangan muda, ada baiknya sedikit kita mengulas persoalan air susu ibu (ASI). Kenapa ini penting?
Pasalnya dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, para ibu-ibu muda yang notabene besar sebagai perempuan karir menampikkan upaya pemberiaan ASI pada bayinya. Mereka lebih memilih “susu lembu” daripada susunya sendiri. Alasanpun bermacam-macam. Kalaupun tak ada alasan yang realistis, sekedar mengatakan repot saja sudah membenarkan diri tidak memberikan ASI. Satu sikap yang perlu kita kritisi sendiri sebagai perempuan.
Akan hal itu tentunya bukan karena harga susu melonjak di pasaran. Bukan pula sekadar karena lebih praktis. Pemberian ASI pada bayi memiliki ragam manfaat yang tidak biasa. Sifatnya mutualisme. Saling member dan mendapatkan baik bagi ibu teristimewa bagi bayi itu sendiri.
Bagi bayi sendiri, setidaknya ada tujuh manfaat ASI yang benar-benar harus difahami oleh ibu-ibu muda masa kini. Sebagaimana materi sosialisasi pemberian ASI ekslusif yang dijalankan BKKBN, manfaat ASI pada bayi yang pertama adalah soal kualitas susunya. ASI sangat steril dan tidak pernah menimbulkan berbagai gejala kimia.
Kedua pemberian ASI memungkinkan bayi berinteraksi lebih baik dibandingkan susu formula/botol. Ini juga berkaitan dengan kandungan kimia susu formula. Ketiga ASI menyediakan zat-zat makanan yang melindungi bayi terhadap infeksi, khususnya infeksi gastro-intestinal, pernafasan, dan virus.
Keempat ASI pada tingkat yang lebih besar dapat melindungi bayi terhadap gangguan alergi seperti asma dan eksim. Kelima, bayi yang diberikan ASI tidak cenderung mengalami kegemukan, faktor yang dalam kehidupan dewasa berpengaruh terhadap penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, penyakit kandung kencing, diabetes, dan ASI tentunya sanga baik untuk membantu proses pembentukan kecerdasan otak anak.
Keenam, sungguhlah salah jika ada yang mengatakan pemberian ASI merepotkan sang ibu. Justru ASI lebih praktis dan simpel. Bayangkan pemberian susu formula yang harus mendidihkah air, menyuci botol, dan lainnya. Sangat susah. Dan yang terakhir, pembeian ASI tentunya lebih murah dibandingkan susu formula. Tapi tentunya harus dibarengi dengan tambahan asupan sang ibu agar tidak kekurangan gizi dan kualitas ASIpun baik.
Bila tadinya kita membicarakan manfaat ASI bagi bayi sendiri, pemberian ASI juga punya arti sendiri bagi sang ibu. Setidaknya ada enam manfaat pemberian ASI bagi ibu. Yang pertama pemberian ASI dapat mencegah terjadinya kanker payudara. Perlu diketahui, perempuan yang belum pernah melahirkan dan tidak pernah menyusui rentan mengalami kanker payudara.
Yang kedua, pemberian ASI secara ekslusif dapat mencegah kehamilan. Satu prose salami agar bayi mampu mendapatkan kasih sayang sang ibu. Bagaimana itu mungkin terjadi? Adalah hisapan yang dilakukan bayi pada payudara sang ibu akan merangsang hormone prolaktin, dimana hormone ini bisa menghambat pematangan sel telur.
Yang ketiga pemberian ASI juga menjadi medium bagi ibu-ibu muda untuk belajar nilai kasih sayang. Penyusuan yang baik akan menciptakan relasi batin yang sangat kuat. Ada kebutuhan yang membuat ibu “panas dingin” bila belum merangkul bayinya untuk meyusui. Bayipun yang menempel pada dada sang ibu belajar banyak. Secara naluri, dia memlepjari kehangatan ibu baik cara memeluk, detakan jantung ibu, dan lainnya.
Yang keempat pemberian ASI juga dapat mencegah pendarahan seusai melahirkan. Penyusuan yang baik dapat mendorong kontraksi rahim dan mempercepat proses kembalinya rahim pada posisinya. Kelima penyusuan yang baik dan teratur berarti menciptakan proses pembakaran yang ebsar. Setidaknya pemberian ASI mampu mebkara 200 hingga 500 kalori per hari.
Yang keenam, sebagai upaya mempercantik diri. Dengan memberikan ASI, ibu telah mengupayakan dirinya secara alami untuk tetap cantik, karena pada saat menyusui, kandungan ibu yang baru melahirkan terjadi pengecilan, sehingga ibu tampak lebih langsing. Kelangsingan dan penerapan fitrahnya sebagai seorang perempuan dan ibu membuatnya tampak cantik alami lahir dan batin.
Begitulah Allah SWT menciptakan ASI sebagai asupan makanan bayi yang ternyata juga bermanfaat bagi sang ibu. Korelasi ini sangat ilmiah dan tidak bisa ditampikkan kebenarannya. Selebihnya tinggal pada keikhlasan sang ibu sendiri, dan dukungan keluarga, khususna suami. Sulit menciptakan ASI yang berkualitas baik jika sang ibupun tak pernah diberikan asupan makanan tambahan.
Dalam konteks adat, menyusui memang telah menjadi tradisi dan budaya masyarakat Aceh. Tapi alasan budaya tidak memperkuat keharusan memberikan ASI pada bayi. Apalagi dengan zaman yang makin maju ditambah dengan perang budaya yang semakin terbuka. Suatu saaat bukan tak mungkin, semua tradisi ini akan sirna. Namun bila pemberian ASI berangkat dari pemahaman medis, tentu selamanya ASI akan kita berikan secara ekslusif. Agar mereka kelak menjadi generasi yang mampu berkreasi dengan aneka karya. []
*Penulis merupakan Widyaswara Madya BKKBN Provinsi Aceh