Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Opini»Menyoal Bunuh Diri di Aceh


Menyoal Bunuh Diri di Aceh
dr. Fazia
Kamis, 15 Oktober 2015 10:59 WIB

Pemuda tersebut berinisial F. Mahasiswa berumur 23 tahun di salah satu fakultas favorit di Banda Aceh itu ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dirumahnya (Serambi Indonesia, 24/8/2014). Disinyalir F mengakhiri hidupnya sendiri dengan cairan pembersih dan seutas tali. Tragisnya, kisah F berulang kembali di Takengon baru-baru ini, dan kali ini korbannya merupakan siswa SMA kelas 3, berinisial SFR (rri.coi.d, 25/3/2015). Layaknya F, SFR diduga mengakhiri hidup dengan selembar selendang yang diikatkan ke jendela kamar.

Banyak spekulasi muncul dari dua kasus tersebut. Ada yang bilang F stress akibat skripsi yang tak kunjung tuntas. Yang lain bilang masalah F diperberat dengan kondisinya yang berkeluarga dan jauh dari orang tua. Sementara SFR diduga terbeban oleh ujian-ujian sekolah. Manapun spekulasi yang mendekati, satu yang pasti, obrolan tersebut umumnya sempat hangat di warung kopi dan kembali dingin tidak ada yang peduli.

Dua peristiwa di atas selayaknya menyadarkan, bisa jadi ada orang-orang di sekitar kita yang terhimpit oleh masalah hingga terlintas untuk mengakhiri hidup. Tanggal 10 September yang lalu seluruh dunia memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Tanpa bermaksud membuka luka lama bagi keluarga yang ditinggalkan, penulis ingin mengajak bersama-sama memanfaatkan momen ini untuk membuka mata kita kembali terhadap fenomena sosial yang acapkali dianggap tabu.

Kepedulian akan kasus bunuh diri di lingkup dunia diinisiasi oleh International association for Suicide Prevention (IASP). IASP terbentuk berkat kepedulian berbagai negara terhadap tingginya angka bunuh diri di dunia. Bagaimana tidak, berdasarkan data WHO, lebih dari 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun di dunia, kalau dihitung kira-kira 1 dari 4 orang meninggal setiap 40 detik! Pada tahun 2012 misalnya, 1,4% dari seluruh kematian di dunia akibat bunuh diri. Jumlah ini melebihi angka gabungan kematian karena pembunuhan dan peperangan. Di tahun yang sama, bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor satu pada kelompok usia diatas 70 tahun, dan penyebab kematian nomor dua pada kelompok usia 15-29 tahun. Diketahui bahwa dari 20 kali percobaan bunuh diri yang dilakukan, satu berakhir dengan kematian.

Depresi dan bunuh diri

Keinginan bunuh diri timbul karena berbagai penyebab, namun yang paling banyak diawali oleh keadaan depresi. Dalam ilmu kesehatan jiwa, depresi didefinisikan sebagai gangguan perasaan sedih berlebihan yang berlangsung selama lebih dari dua minggu. Depresi tergolong  gangguan jiwa yang sering dialami banyak orang, terutama perempuan yang prevalensinya mencapai 25 %. Penyebabnya karena pengaruh hormon, pengaruh melahirkan, serta perbedaan beban lingkungan sosial pada perempuan. Secara umum, depresi terjadi pada sekitar 10-15% dari populasi dan usia penderita umumnya berkisar antara 20-50 tahun.

Tekanan lingkungan, konflik, bencana, dan penyalahgunaan obat merupakan pencetus depresi. Penderita penyakit kronik menahun seperti stroke, diabetes, hipertensi harus lebih berhati-hati karena dua kali lebih beresiko mengalami depresi. Bagaimanapun, jatuh atau tidaknya seseorang ke dalam keadaan depresi sangat tergantung dari mekanisme pertahanan dan adaptasi terhadap masalah selain pengaruh dari sifat bawaan dan dukungan lingkungan.

Gejala-gejala utama depresi termasuk diantaranya suasana perasaan menurun, harapan hidup hilang, dan ketidakingininan melakukan apapun. Gejala-gejala lainnya berupa berkurangnya perhatian dan konsentrasi, berkurangnya harga dan rasa percaya diri, merasa diri bersalah dan tidak berguna, pesimistis, tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang.

Menurut dr. Andri Sp.KJ, keinginan bunuh diri yang lalu muncul pada penderita depresi berkaitan dengan perasaan hampa dan kosong yang menyebabkan mereka merasa tidak ada lagi gunanya hidup. Pada kasus depresi berat, keinginan bunuh diri bisa muncul karena adanya suruhan dari bisikan-bisikan halusinasi.

Pertanyaannya, bagaimana cara mencegah depresi? Perlu diingat, adanya tekanan dan masalah di kehidupan adalah hal lumrah, tinggal bagaimana menghadapinya. Sebagai masyarakat yang tinggal di Aceh yang kental dengan syariat Islam, kita sebenarnya dimudahkan untuk bisa menggiatkan ibadah dan menjaga kualitas keimanan, dengan demikian seharusnya kita mampu untuk menyelesaikan masalah dengan lebih bijak. Berbaik sangka, berpikir positif, serta ikhlas pada setiap ketetapan Allah adalah hal-hal dasar yang bisa kita lakukan untuk mencegah gangguan depresi.

Sesuai dengan tema hari pencegahan bunuh diri sedunia tahun ini, “Reaching out and Saving Lifes”, mari membuka mata kita dan mengulurkan tangan pada orang-orang yang beresiko mengalami depresi. Rangkul mereka yang mungkin saat ini sedang sendiri di tengah masalah, beri mereka dukungan dengan penuh empati, dengarkan setiap keluhan mereka tanpa harus menghakimi dan sarankan mereka untuk mencari pengobatan yang tepat. Berikan informasi mengenai layanan kesehatan jiwa agar mereka dapat mengatasi gangguan depresinya. Dengan cepat mengenali tanda-tanda depresi dan memberikan pertolongan segera, kita dapat mencegah timbulnya keinginan untuk bunuh diri.

Banyak dari kita mungkin menganggap orang yang ingin bunuh diri adalah orang yang lemah iman dan cenderung egois karena hanya memikirkan diri sendiri. Tapi sejatinya mereka sedang dalam keadaan sakit dan sangat membutuhkan dukungan dan perhatian. Semoga dengan kepedulian kita kisah tragis F dan SFR tidak perlu terulang kembali, karena kita sudah berhasil membantu mereka yang beresiko sebelum keinginan bunuh diri itu muncul. Dan kelak saat ditanyakan apa yang sudah kita lakukan untuk mereka? Maka kita akan dengan mudah menjawab, “Saya sudah membuka mata dan mengulurkan tangan”. []

dr. Fazia - dokter umum, penggiat komunitas peduli kesehatan jiwa Griya Skizofrenia Aceh. E-mail: fazia.mahdi@yahoo.com






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close