
Jokowi terpilih walikota Surakarta ke-16 pada tahun 2005, awalnya banyak orang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang meubel ini. Namun setahun setelah ia memimpin, terbukti banyak gebrakan progresif dilakukannya. Dia belajar model pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya. Lima tahun kemudian dengan pasangannya F.X. Hadi Rudyatmo, kembali terpilih menjadi walikota Surakarta masa bakti 2011 -2015, syahdan periode kedua ini mendapat 98% dukungan pemilih.
Dari sumber Wikipedia disebutkan bahwa dibawah kepemimpinan Jokowi, Solo mengalami perubahan pesat. Branding untuk kota Solo "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa contohnya ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari tanpa gejolak untuk merevitalisasi menjadi taman terbuka hijau, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka dengan masyarakat hingga disiarkan oleh televisi lokal.
Contoh lainnya Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, difungsikan kembali menjadi taman bermain. Jokowi juga tak segan meninggalkan investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006.
Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi Organisasi kota warisan dunia pada bulan Oktober 2008 lalu. Pada tahun 2007 Surakarta juga menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. Dan dilanjutkan FMD kedua pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegara terbilang sangat sukses dan berhasil. Dasyat dengan terobosan luar biasa.
Jokowi dalam menjalankan pemerintahannya juga banyak bertolak belakang dengan pemimpin daerah lain. Ketika yang lain bangga memamerkan berapa hypermart yang sudah diresmikan, Jokowi justru menyetopnya. Dia lebih suka memberdayakan pasar tradisional, karena selain memberi manfaat pada masyarakat juga memberikan pemasukan besar buat Pemerintah Kota. Seorang pemimpin populis yang sangat diharapkan zaman kini. .
Kini Solo telah banyak berubah Solo menjadi kota MICE (meeting, conference, incentive, exhibition). Kota yang menawarkan sektor jasa dalam pertumbuhan ekonomi. Meskipun jangan dibayangkan kota ini sudah jadi seperti kota Eropa, tetap saja pemandangan wilayah yang kumuh dan tak tertata masih ditemukan, begitu pula pedagang kaki lima (PKL). Tapi, jika dibandingkan dengan sebelumnya, semuanya sudah jauh lebih baik.
Menuju Jakarta Satu
Menarik menelusuri jejak seorang sosok pemimpin yang telah banyak memberikan contoh dan lagi naik daun dalam kancah politik Pemilukada. Sosok tersebut tentu Joko Widodo alias Jokowi, sederhana dan merakyat. Dalam waktu akhir-akhir ini bersama calon wakilnya Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) serta sejumlah tim suksesnya sering terlihat mengenakan baju kotak-kotak. Baju yang biasa dikenakan koboy-koboy Amerika. Kemudian baju ini menjadi trade mark pasangan Jokowi-Ahok sebagai pasangan Calon Gubernur dan calon wakil Gubernur Jakarta periode 2012 -2017.
Dari walikota Surakarta maju mencalonkan diri menjadi Jakarta 1 tentu tidak mudah. Dalam proses banyak mengalami kendala dan rintangan. Dijegal lawan politik dengan isu bukan putra daerah dan tidak memiliki KTP Jakarta. Dan berbagai isu lainnya yang lazim dipertontonkan dalam dunia politik praktis. Terlalu berat untuk menjadi gubernur Jakarta apalagi melawan Foke sebagai incumbent dan berbagai sosok lainnya yang merupakan tokoh-tokoh nasional.
Namun dengan penuh percaya diri dan bersemangat Jokowi yang diusung oleh PDIP dan Gerindra bagaikan oase bagi warga Jakarta yang butuh perubahan-perubahan yang lebih baik. Bukan isapan jempol data quick count Lembaga Survey Indonesia pada putaran pertama tanggal 1 Juli lalu Jokowi-Ahok mendapat dukungan 42,74 % sementara Foke-Nara 33,57 % .
Fenomenal, melaju ke babak kedua. Jokowi mengalahkan incumbent dan calon lain, andaikan melebihi 50% tentu hanya sekali putaran Jokowi-Ahok melenggang manis ke kursi Gubernur/Wakil Gubernur Jakarta. Walau demikian tanda kemenangan sudah didepan mata tinggal memperkuat strategi dan membangun koalisi untuk menang pada putaran kedua nanti.
Belantara Rimba Jakarta
Masuk belantara rimba politik Jakarta tentu tidak mudah bagi Joko Widodo. Jakarta dengan segenap hiruk pikuknya dan majemuk budaya masyarakatnya, juga sejumlah masalah social ekonomi, dan lingkungan, adalah masalah besar bagi orang baru masuk Jakarta, apalagi bagi seorang Jokowi seorang Jawa tulen akan menjadi pemimpin bagi warga Jakarta yang multi etnis, agama dan budaya. Rimba belantara politik yang menjadi tantangan bagi Jokowi.
Tantangan ini kiranya menjadi peluang bagi seorang Jokowi yang telah berpengalaman menjadi kepala daerah. Jokowi telah memahami strategi dan arah pembangunan Jakarta tentu dimulai dengan mengali akar masalah yang komplek di Jakarta. Kemampuan dan pengalamannya dalam memerintah Solo menjadi modal besar bagi Jokowi untuk memerintah Jakarta, ketika menang pada putaran kedua nanti.
Joko Widodo yang meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada pada tahun 1985. Ilmu di Kampus juga modal dalam mengelola pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat ketika terpilih menjadi orang nomor satu Jakarta nantinya. Sebagai seorang Rimbawan, Jokowi sangat memahami bagaimana mengelola hutan yang baik, yang berorientasi pada hutan lestari masyarakat sejahtera. Jokowi tentu memahami dan dapat membedakan bagaimana system pengelolaan hutan monokultur atau hutan tanaman dan membedakannya dengan hutan campuran atau hutan alam. System pengelolaan ini agaknya menjadi inspirasi dalam mengelola Solo dan Jakarta.
Dengan mengadopsi sistem pengelolaan hutan serta memahami lebih spesifik dalam mengelola hutan monokultur dan hutan campuran, hal ini menggambarkan bahwa Pemerintahan kota Surakarta dilihat bagaikan mengelola sistem hutan monokultur (sejenis) atau hutan tanaman, karena warga Surakarta relative suku Jawa dan jumlah penduduknya kecil. Sementara Pemerintahan Jakarta dipahami bagaikan mengelola hutan alam atau campuran. Jakarta merupakan daerah majemuk, dari etnis, suku dan jumlah penduduk yang padat.
Pendekatan dan perlakuan dalam pengelolaan hutan monokultur atau hutan tanaman dengan hutan camputan atau hutan alam tentu saja berbeda. Hutan monokultur (sejenis) atau hutan tanaman proses penanaman dan pemeliharaannya dapat dilakukan secara bersamaan bahkan produksi juga dapat dilakukan sekalian. Sementara hutan campuran atau hutan alam tentu tidak perlu ditanam dan dipupuk dia tumbuh secara alami dan produksi mesti dipilih-pilih yang sudah bisa untuk di tebang. Merujuk dari pendekatan dan perlakuan ini semakin jelas bagi Jokowi bagaimana membedakan pengelolaan Kota Surakarta dengan Jakarta.
Bagaimana Dengan Aceh
Di Aceh juga Gubernur/Wakil Gubernur dan sejumlah Bupati/Wakil Bupati serta Walikota/Wakil Walikota berpengalaman di Hutan (baca ; KPA). Pada masa konflik mereka bergerilya di hutan sebagian lagi membangun jaringan dan berdiplomasi di luar negeri. Banyak ilmu dan pengalaman yang telah mereka timba selama berada dalam hutan dan luar negeri, tentu ini menjadi modal bagi penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat untuk lebih baik dan lebih maju pada masa mendatang.
Saya begitu yakin Jokowi-Ahok akan mampu memimpin Jakarta menjadi lebih baik, tidak macet, pelayanan public menjadi lebih murah dan baik, pemukiman kumuh menjadi berkurang, sector jasa menjadi lebih hidup dalam menumpu ekonomi masyarakat. Demikian juga halnya dengan Gubernur/Wakil Gubernur dan Sejumlah Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota yang baru terpilih akan membawa Aceh menjadi lebih makmur dan sejahtera. Semoga.
Penulis ; Peminat Masalah Sosial Ekonomi dan Lingkungan, dan SekPel Konsorsium Peduli Hutan Aceh Selatan (KPHAS)
