
Semenjak 2008, Pemerintah Aceh mulai gencar-gencarnya menawarkan beasiswa untuk pendidikan lanjutan (S2 dan S3) ke luar negeri. Berbagai kerja sama di jalin dengan beberapa negara maju diantaranya adalah Jerman. Program ini terealisasi pada Agustus 2009 dengan pengiriman angkatan pertama sejumlah 34 orang untuk menempuh pendidikan S2 dan S3 dari berbagai disiplin ilmu. Angkatan pertama ini sudah menyelesaikan studinya dan balik ke Aceh.
Sebagian dari angkatan pertama tersebut sudah pernah bekerja di Industri di Jerman semasa studi mereka. Sehingga mereka juga pulang dengan membawa karakter dan gaya individu Jerman yang idealis, disiplin dan memiliki karakter yang kuat.
Sebagian dari mereka ingin menetap dan bekerja di Jerman untuk menimba pengalaman. Tetapi sebagian besar ingin balik ke Aceh untuk menerapkan ilmu yang telah mereka peroleh. Bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan, mereka balik ke instansi masing-masing dan diharapkan dapat menjadi katalisator perbaikan dan modernisasi birokrat.
Namun sebagian besar dari lulusan ini adalah anak-anak muda yang belum memiliki ikatan dinas dengan instansi manapun di Aceh. Sebagian dari mereka yang belum memiliki ikatan dinas tersebut juga memiliki jiwa entrepreneur yang kuat dan sebagian lagi memang tipikal pekerja tulen.
Yang menjadi kata kunci disini adalah bagaimana memanfaatkan potensi SDM ini untuk mempercepat proses pembangunan Aceh. Apakah Pemerintah Aceh dan Legislatif Aceh membiarkan mekanisme pasar yang berlangsung secara sporadis (tak terencana) menyerap mereka. Sehingga mereka bebas berkarya dimanapun di dunia ataupun nusantara (Indonesia) ini mengaplikasikan ilmu mereka. Atau, Pemerintah Aceh dan Legislatif mau memetakan potensi sdm ini dan diberdayakan secara sistematis dan terintegrasi untuk menunjang percepatan dan lompatan kemajuan Aceh.
Analisa Karakter & Klasifikasi Alumni
Ada beberapa tipe dan klasifikasi alumni Jerman penerima Beasiswa Pemerintah Aceh seperti yang telah di paparkan dalam executive summary diatas. Untuk lebih jelasnya akan kita analisa satu persatu sebagai sehingga memudahkan untuk memberikan solusi yang spesifik. Klasifikasi mereka adalah sebagai berikut .
1. Alumni PNS non dosen
Alumni ini sudah memiliki jaminan keamanan finansial untuk urusan paling mendasar seorang manusia. Dia tidak perlu memikirkan lagi bagaimana saya makan esok harinya. Rata-rata mereka ini adalah birokrat-birokrat yang masih tergolong muda, dan belum memiliki wewenang dalam penentuan arah dan kebijakkan di instansi nya masing-masing.
Alumni ini masih memiliki jiwa idealis yang tinggi, sehingga akan berbenturan apabila dia berada dalam suatu instansi yang dipimpin oleh mereka-mereka yang tidak visioner. Biasanya akan muncul dua jenis reaksi terhadap kepemimpinan yang tidak visioner tersebut, yaitu offensive (menyerang) secara totalitas atau ignorant (mengabaikan) karena kecewa tidak bisa menerapkan konsep idealis yang dia punya. Ke-dua bentuk reaksi tersebut memberikan hasil yang tidak baik untuk mewujudkan prinsip-prinsip good governance dalam program perbaikan dan modernisasi birokrasi di Aceh. Di perlukan sebuah solusi jangka pendek dan menengah untuk memaksimalkan potensi alumni Jerman ini sebagai katalisator percepatan dan lompatan kemajuan Aceh.
2. Alumni PNS dosen
Alumni ini sudah memiliki jaminan keamanan finansial untuk urusan paling mendasar seorang manusia. Dia tidak perlu memikirkan lagi bagaimana saya makan esok harinya. Rata-rata mereka ini adalah dosen-dosen yang masih tergolong muda, dan belum memiliki wewenang dalam penentuan arah dan kebijakkan di instansi nya masing-masing. Alumni ini masih memiliki jiwa idealis yang tinggi namun sebagian dari diri mereka tetap mempunyai sisi pragmatis untuk menyiasati rendahnya penghargaan dalam bentuk salary terhadap tenaga pendidik (dosen).
Kebanyakan mereka merupakan dosen yang sedang mengambil S3, hanya sebagian kecil yang sedang menempuh pendidikan S2. Posisi mereka pada saat ini masih berada di Jerman, dan kemungkinan besar akan menyelesaikan S3 nya pada tahun depan (2013).
Posisi tawar mereka untuk melakukan perbaikan dan modernisasi di kampusnya tentunya akan menjadi lebih besar saat mereka kembali ke kampus masing-masing. Namun, tetap diperlukan dukungan dari Pemerintah Aceh dan Legislatif Aceh untuk menciptakan kondisi yang memberikan mereka kesempatan menjadi katalisator di Institusi nya masing-masing. Kerjasama yang saling membangun dan terintegrasi harus dibentuk antara dinas-dinas terkait dengan institusi-institusi pendidikan tempat mereka berkarya. Kerjasama bisa dalam bentuk bantuan finansial pengembangan institusi pendidikan, pendirian konsorsium lembaga penelitian bersama industri terkait, dll.
3. Alumni Non PNS
Alumni ini belum memiliki jaminan keamanan finansial untuk urusan paling mendasar seorang manusia. Dia masih harus memikirkan “bagaimana saya makan esok harinya”. Namun mereka inilah yang memiliki jiwa-jiwa idealis pada level teratas, karena mereka tidak terikat oleh siapapun. Mereka hanya terikat oleh sebuah “kontrak moral” yang mereka tanda tangan sebelum keberangkatan : “ bahwasanya mereka sekolah memakai uang rakyat dan mereka harus mengembalikannya dalam bentuk sesuatu yang lebih berharga untuk rakyat”. Alumni ini pun terbagi menjadi beberapa sub-klasifikasi sebagai berikut :
Tipe Self Employment dan Entrepreuneur.
Tipe Pekerja Tulen
Tipe Konseptor dan Pendidik
Tipe all in one
Masing-masing tipe memiliki karakterisktik yang berbeda dan perlu penanganan yang berbeda pula. Ada treatment-treatment khusus yang diperlukan untuk mencari solusi yang spesifik untuk mereka masing-masing. Tipe Self Employment & Entrepreuneur hanya membutuhkan mentor dan jaringan bisnis. Apabila memungkinkan dukungan finansial dalam bentuk pinjaman lunak untuk modal kerja akan mempercepat efek multiplier yang akan mereka timbulkan. Tipe pekerja tulen hanya membutuhkan pekerjaan yang dapat memacu andrenalin mereka. Mereka dapat menjadi katalisator apabila ditempatkan dalam birokrasi.
Tipe Konseptor dan Pendidik, mereka hanya butuh penghargaan (prestise) terhadap program-program unggulan yang dapat mereka ajukan kepada Pemerintah Aceh. Dan tipe terakhir all in one, mereka-mereka yang multi-tallented bisa mengambil posisi apapun dan akan memanfaatkan peluang apapun yang mereka dapatkan, walaupun peluang tersebut sangat kecil rasio kemungkinan berhasilnya.
Solusi Jangka Pendek dan Menengah
Apabila penanganan Post – Higher Education ini tidak direncanakan secara sistematis dan terintegrasi, maka bukan tidak mungkin fenomena Brain Drain akan terjadi di Aceh. Fenomena Brain Drain didefinisikan sebagai perpindahan kaum intelektual dari dunia ketiga ke negara maju akibat kegagalan negara asal dalam menyediakan lapangan kerja yang cukup dan sesuai dengan harapan para golongan terpelajar tersebut. Negara-negara Afrika bisa dijadikan contoh bagaimana brain drain telah menghambat pencapaian program pembangunan negara.
Bahkan untuk saat ini Indonesia dapat dikatakan sudah mengalami fenomena Brain Drain. Apakah Aceh menginginkan hal itu juga terjadi di masa depan? Sungguh investasi pendidikan Aceh yang mahal ini harus dijaga keberlanjutannya dalam usaha-usaha mempercepat dan melakukan lompatan kemajuan Aceh. Untuk mengatasi hal tersebut, maka kami alumni Jerman penerima Beasiswa Pemerintah Aceh mengajukan beberapa solusi konkrit sebagai berikut.
Solusi Temporary/ Jangka Pendek
1. Kerjasama dengan lembaga-lembaga internasional dalam mensuport kegiatan-kegiatan alumni Penerima Beasiswa Aceh untuk percepatan Pembangunan Aceh.
Beberapa alumni saat ini diperbantukan untuk mendesign percepatan pariwisata Sabang. Alumni ini akan mendapatkan support financial dari CIM, yaitu sebuah lembaga dibawah koordinasi GIZ Jerman dalam bentuk Top Up Sallary. Yaitu sebuah skema dimana Pemda Sabang menyediakan anggaran untuk gaji alumni dengan standar lokal bahkan jauh dibawah UMR. CIM akan menambahkan gaji tersebut sehingga sesuai dengan kebutuhan dasar mereka. Program ini dapat berlangsung maksimal hingga 2 tahun yang diberi nama Return Expert.
Program yang berlangsung saat ini adalah inisiasi pribadi masing-masing secara sporadis tanpa terkoordinasi dengan Pemerintah Aceh. Sehingga hasil yang akan dicapai nantinya kurang efektif untuk percepatan pembangunan Aceh secara menyeluruh. Untuk itu, alangkah lebih baik Pemerintah Aceh melakukan approach kepada CIM agar program ini lebih terintegrasi dengan kebutuhan tenaga ahli di Pemerintah Aceh.
Bahkan, jika Pemerintah Aceh mau bisa mencontoh Yogyakarta dengan lembaga Good Governance Center. Lembaga ini mendapatkan support dari Pemerintah Jerman untuk mewujudkan pengelolaan tata pemerintahan (birokrasi) menjadi lebih baik, transparan dan akuntabel. Jika Pemerintah Aceh tertarik kita dapat mengajukan proposal dan audiensi dengan mereka.
Solusi Jangka Menengah
Analisis kebutuhan tenaga ahli di Pemerintahan Aceh, dan menempatkan mereka sebagai tenaga ahli sebagai konsultan pembangunan yang akan membantu dan mempercepat dinas-dinas terkait. Para alumni dapat dimanfaatkan sebagai tim Asistensi Gubernur/Walikota/Bupati. Sumber pendanaan bisa dari Pemerintah Aceh dan lembaga donor internasional yang konsern terhadap developing country.
Penguatan lembaga institusi pendidikan tinggi yang ada di Aceh, alumni yang memiliki passion sebagai pendidik dan peneliti dapat memperkuat universitas di Aceh dan membangun lembaga-lembaga riset sesuai kapasitas dan bidangnya masing. Pendanaan untuk membangun lembaga riset ini dapat diperoleh dengan membentuk konsorsium antara Universitas, Pemerintah Aceh dan Industri terkait. Riset-riset yang dihasilkan nantinya adalah riset-riset yang dapat diaplikasikan di lapangan.
Pembentukan lembaga-lembaga, unit-unit usaha dan pusat inkubator Small Medium Enteprises (SME), dengan melibatkan pengusaha-pengusaha Aceh yang telah sukses. Diharapkan lembaga ini dapat menjadi tempat sharing knowledge dan experience pengusaha-pengusaha tersebut, sedangkan unit-unit usaha tersebut dapat menjadi sebuah proyek yang aplikatif dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Apabila satu proyek aplikatif ini berhasil di satu tempat, maka akan sangat mudah untuk menularkannya (baca: copy paste) kepada masyarakat umum. Dan diharapkan rasio pengusaha SME meningkat secara signifikan. Belajar dari pengalaman Negara Jerman bahwa ekonomi Jerman ditopang oleh banyaknya bisnis-bisnis yang berskala SME. Tidak ada salahnya kita mencoba untuk mengaplikasikannya di Aceh.
Penutup
Sebagai alumni Jerman penerima beasiswa Pemerintah Aceh kami memiliki “kontrak moral” untuk berkontribusi dalam pembangunan Aceh. Percepatan dan lompatan kemajuan Aceh hanya dapat dicapai apabila semua potensi bangsa yang ada dapat dimanfaatkan secara terintegrasi satu sama lainnya. Pemerintah Aceh dan DPR Aceh harus bahu membahu untuk melakukan suatu lompatan kemajuan Aceh.
Dan kami alumni Jerman siap menjadi mitra partner Pemerintah Aceh dan DPR Aceh dalam menciptakan program-program unggulan untuk kemajuan Aceh. Semoga Allah meridhai niat tulus kami untuk mengabdi untuk Aceh. Amin [003-randomwave.wordpress.com]
Selasa, 21 Mei 2013 20:18 WIBPesawat AS Yang Mendarat di Aceh Itu Memang Kesasar