Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Opini»Adat dan Budaya Aceh yang Kian Lekang


Adat dan Budaya Aceh yang Kian Lekang
Afifuddin Acal | The Globe Journal
Sabtu, 26 Mei 2012 17:40 WIB

Adat istiadat yang sering dikenal dengan sebutan Budaya berlangsung terus terjadi ditengah-tengah masyarakat. Adat dan Budaya yang telah berlaku tidak ada yang boleh melanggarnya, bila dilanggarkan akan mendapatkan hukum sosial dari masyarakat. Adat istiadat lebih dekat dengan hukum atau norma, sedangkan budaya lebih pada kebiasaan dalam sebuah Bangsa. Meskipun demikian, Adat dan Budaya dua hal yang tidak bisa dipisahkan berlaku ditengah-tengah masyarakat.

Adat istiadat dan budaya itu menjadi lentera kehidupan yang bisa menerangi tatanan kehidupan ekonomi sosial politik suatu Bangsa. Tanpa adat atau budaya suatu Bangsa akan kehilangan identitasnya, gelap tanpa ada yang menerangi dalam sisi kebiasaan yang berlaku. Budaya dan adat sangat melekat terus berkembang dalam suatu tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Gadoh Aneuk Meupat Jeurat, Gadoh Adat Pat Tamita. Pepatah itulah yang selalu harus diingat oleh seluruh lapisan masyarakat. Bila suatu hari nanti adat dan budaya itu terkikis akibat terjadi pergeseren moral, akan sangat berakibat fatal hilangnya Local Wisdom yang ada dalam masyarakat. Aceh akan tenggelam dengan budaya-budaya luar yang sangat gencar terkampanyekan baik melalui Telivisi, Internet maupun media Informasi Teknologi lainnya.

Globalisasi telah meruntuhkan norma-norma lokal yang ada dalam sebuah daerah. Informasi teknologi juga sangat berpengaruh terjadinya pergesaran budaya suatu Bangsa. Katakanlah misalnya Aceh dimasa lalu sangat dikenal dengan Gotong Royong dan peka terhadap kondisi sosial di sekelilingnya. Namun, pasca tsunami melanda Aceh dan arus globalisasi masuk, demikian juga dengan Informasi Teknologi tak dapat dibendung, telah menggeserkan sikap apatisme masyarakat. Sehingga masyarakat terjebak dengan sikap individualistik sedangkan kolektivitas mulai ditinggalkan.

Contoh nyata lainnya dalam hal bekerja sosial seperti gotong royong. Kebiasaan gorong royong tersebut saat ini, khususnya di wilayah perkotaan mulai ditinggalkan. Hal ini menunjukkan bahwa karakter masyarakat yang individualistik, jadi budaya kebersamaan tergilas dengan budaya-budaya yang hanya mementingkan personaliti.

Semakin nyata budaya kebersamaan ditinggalkan saat program Cash for Work (Kerja di Bayar) telah melunturkan norma bekerja sosial. Membersihkan selokan gampong sendiri pun harus dibayar. Jauh berbeda perbedaan dimasa lampau yang masih memiliki sikap sosial dengan suka rela membersihkan sendiri secara berkelompok dengan bergotong royong.

Ini juga bagian kecil terjadi pergeseran budaya yang sedang melanda Aceh secara umum. Bila terus dibiarkan tanpa ada upaya untuk mencegahnya. Maka jangan heran nantinya anak cucu kedepan akan hilang identitas jati diri Aceh yang terkenal dengan sikap yang ramah serta senang memuliakan tamu.

Sikap senang melayani tamu sebenarnya menjadi modal besar bagi Aceh bila Pemerintah mampu mengembangkannya. Pasalnya, Aceh yang memiliki banyak sumber wisata bisa dikembangkan untuk mewujudkan Aceh pusat wisata dunia. Sehingga Aceh akan dilirik oleh turis mancanegara dan mereka pun akan mengunjungi Aceh.

Lihat saja pemandangan yang dimiliki oleh Aceh Selatan. Adat istiadat serta kerajinan khas Aceh Selatan yang beragam bisa diwujudkan untuk menjadi Edutourism, Ecotourism dan juga wisata adat yang masih dilestarikan di Aceh Selatan. Sangat besar potensi Alam yang dimiliki, tetapi kembali pada Pemerintah yang belum maksimal memperhatikannya.

Demikian juga sejumlah tempat wisata dan adat istiadat lainnya yang mesti harus digali kembali. Kenapa demikian? Wisatawan yang akan mengunjungi suatu daerah ingin menyaksikan sesuatu yang asli dan khas disuatu Bangsa, bukan sesuatu yang dimodernisasi. Oleh karenanya, Aceh memiliki itu semua untuk bisa dikembangkan dan ditata baik kesiapan manusianya maupun infrastruktur lainnya.

Tidak cukup hanya itu, perangkat hukum mesti juga dirangcang yang harus melindungi budaya lokal. Karena selama ini setiap regulasi yang dibuat oleh Pemerintah terkesan selalu lebih menguntungkan Asing atau sering disebut dalam istilah ekonomi adalah berpihak pada kepenitingan Kapitalisme.

Kenapa demikian? Edutourism, Ecotourism dan Wisata Adat dan Budaya sangat melekat dengan berkembangnya perekonomian. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan akan terus berkembang dan bila Pemerintah tidak melakukan proteksi dengan regulasi ditakutkan nanti akan terjadi Liberalisasi. Akhirnya budaya luar yang diadopsi oleh Aceh, sedangkan budaya lokal terkikis akibat dari kelengahan Pemerintah itu sendiri.

Masyarakat Sadar Wisata

Membangun karakter masyarakat yang sadar wisata merupakan suatu keharusan bila ingin mewujudkan daerah wisata. Bila tidak, akan sia-sia ketika masyarakat tidak memahami dan mengerti dengan kewisataan. Masyarakat harus paham standarisasi dan bagaimana cara melayani serta bisa menjadi guide (pemandu).

Justru bila masyarakat tidak dikembangkan Sumber Daya Manusia tentang pemahaman sadar wisata akan berpotensi terjadi penolakan dari masyarakat. Bila ini terjadi maka tidak ada yang mengunjungi objek wisata di suatu daerah.

Pasalnya, wisatawan itu membutuhkan kenyamanan saat berada pada objek wisata tersebut. Mereka tidak mau terlalu banyak urusan, karena wisatawan tersebut ingin mencari kesenangan dan enjoy, artinya butuh jaminan keamanan dan ketentraman dari pihak Pemerintah daerah dan juga keamanan dari masyarakat setempat.

Oleh karenanya sangat penting adanya pemberdayaan masyarakat yang sadar wisata. Apa lagi konsep Home Stay, dimana masyarakat sangat dibutuhkan mendapatkan ilmu pengetahuan tatacara melayani tamu.  Bagaimana standarisasi konsep pelayanan pada tamu yang datang mengunjungi suatu objek wisata. Itu sangat penting, supaya pengunjung merasa nyaman dan mendapatkan manfaat saat berkunjung ke objek wisata tersebut.

Akan tercapai target Visit Aceh 2013 bila semua komponen bersama-sama berpartisipasi. Selain itu agenda Visit Aceh 2013 itu juga bisa menyentuh langsung pembangunan karakter Bangsa yang memahami budaya sendiri dan juga berimplikasi pada pembangunan ekonomi masyarakat. Bukan malah nantinya hanya menguntungkan pemilik modal, sedangkan masyarakat akan menjadi penonton di Negeri sendiri.

Kebijakan Pemerintah

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah campur tangan Pemerintah dalam melakukan pengelolaan baik secara regulasi maupun Budgeting. Persoalannya, sebesar apapun sudah ditingkatkan kesadaran masyarakat dalam menyambut wisata, tanpa ada sokongan Pemerintah semua akan sia-sia. Artinya tidak akan pernah tercapai target bila Pemerintah acuh tak acuh dalam mendorong wisata tersebut.

Budgeting merupakan mutlak harus dianggarkan yang cukup untuk mengelola wisata dan juga menggali budaya-budaya lokal di Aceh. Bisa dilihat sekarang di Aceh masih sangat kurang sentuhan kebijakan Pemerintah. Pemerintah masih terkesan sangat kurang memperhatikan menyangkut dengan wisata.

Hal ini seperti penjelasan Kadis Kebudayaan, Pariwisata dan Olah Raga Kabupaten Aceh Selatan Drs. Syarifuddin dalam acara penyambutan peserta Jelajah Budaya dari Banda Aceh, dimana Aceh Selatan membutuhkan dukungan dana dimasa yang akan datang lebih banyak lagi dalam membuat event-event untuk memperkenalkan wisata di Aceh Selatan.

Selain itu juga bagian kecil imbas dari ketidak pedulian Pemerintah yaitu pemberdayaan pembuatan Cimilan Manisan Pala. Kesannya, makanan khas Aceh Selatan ini masih sangat kurang dalam hal promosinya. Kemasan pun masih sangat tradisional, sehingga tidak menarik dipandang, karena kemasan sangat berpengaruh untuk bisa bertarung di pasar.

Ini sebenarnya tugas Pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang sudah semestinya untuk mempatenkan makan khas Aceh Selatan tersebut. Bila tidak, dikhawatirkan makan khas tersebut akan menjadi milik orang lain, padahal cemilan tersebut asli makan khas Aceh Selatan.

Kembali terlihat sebuah contoh nyata keteledoran Pemerintah seperti perawatan Rumah Adat Manggamat. Padahal rumah tersebut yang dirikan oleh Raja Kluet T.Nyak Tia pada tahun 1816 sangat memprihatinkan. Rumah tersebut terlihat sangat tidak terawat, dimana-mana terlihat sudah lapuk, sehingga sangat memprihatinkan. Padahal ini situs sejarah yang semestinya dilindungi dan menjadi cakar budaya di Aceh Selatan. Peninggalan ini bisa dijual pada tamu-tamu yang akan mengunjungi dan mengetahui sejarah rumah adat di Kerajaan di Manggamat.

Menurut salah seorang tokoh masyarakat setempat Lahmuddin, ini merupakan rumah adat satu-satunya yang masih tersisa di Aceh Selatan. Seharusnya Pemerintah harus memperhatikan situs sejarah ini. Bila tidak, suatu saat anak cucu kedepan akan melupakan sejarah kerajaan tersebut. Padahal semua mengetahui bahwa sejarah dan budaya itu merupakan jati diri suatu Bangsa.

Apa lagi, setiap sudut bangun rumah adat tersebut memiliki filosofi tersendiri. Seperti dijelaskan oleh Lahmuddin yang juga pernah menjabat sebagai Mukim mengungkapkan. Tiang rumah ini yang bersegi 8 merupakan makna dari semangat pemersatu dan hidup bergotong royong.

Lanjutnya lagi, tiang yang bersegi 8 tersebut menjelaskan bahwa di Manggamat memiliki tujuh suku dan satu segi lagi sebagai simbul Raja. Adapun suku tersebut adalah Suku Rinem, Ples, Selian, Chaniago, Kerinci, Bincawan dan Aceh 26. Kesemua suku tersebut hidup rukun dan saling bergotong royong, simbulnya itu adalah segi 8 tiang rumah adat tersebut.

Memprihatinkan rumah Adat Manggamat itu menunjukkan kebijakan Pemerintah sangat menentukan dalam melindungi situs bersejarah. Sehingga dimasa yang akan datang keterlibatan Pemerintah dalam melindungi situs bersejarah suatu hal yang mutlak. Bila tidak, tunggu saja situs sejarah Aceh harus belajar ke Negeri orang generai depan, sedangkan Aceh akan tergeser kedalam sosial budaya Asing.

Oleh karenanya butuh proaktif keterlibatan Pemerintah baik Budgeting, Pengawasan dan Pemberdayaan masyarakat akan sadar wisata. Sehingga Visit Aceh 2013 akan tercapai sesuai dengan yang telah ditargetkan.






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close