Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Lingkungan Hidup»Perdagangan Illegal Satwa Liar Berkembang di Sumatera


Perdagangan Illegal Satwa Liar Berkembang di Sumatera
Rabu, 12 Juni 2013 15:06 WIB

Banda Aceh - Perdagangan ilegal satwa liar seperti Orangutan dan harimau semakin merajalela di Aceh dan tidak ditangani oleh petugas yang berwenang.

Pecinta lingkungan di Aceh mengatakan mereka sempat memantau perdagangan empat ekor orangutan baru-baru ini. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), lembaga bertanggung jawab untuk penegakkan hukum lingkungan tidak bertindak menangkap orang-orang yang memperjualbelikan hewan-hewan yang terancam punah tersebut.

Ruang lingkup perdagangan sangat besar. Sejak tahun 2002, menurut Pusat Karantina Orangutan Sumatera, meerk telah merawat 261 orangutan yang disita dari orang-orang yang memiliki mereka secara ilegal. Lebih dari setengah Orangutan ini berasal dari Aceh.

Forum Orangutan Aceh (FORA), mengatakan bahwa tahun ini saja, beberapa harimau dan orangutan telah dibunuh oleh pemburu liar, terutama di hutan lindung dekat desa. Banyak satwa liar ditangkap dalam keadaan buruk tanpa perawatan kemudian dijual. Bahkan satu Orangutan meninggal pada tanggal 6 Mei 2013 hanya beberapa minggu setelah diselamatkan.

 "FORA akan terus mendorong BKSDA untuk menyita Orangutan yang dikuasai masyarakat," kata Badril, salah satu anggota FORA. "Tapi kita tidak berhenti di situ. Orang-orang yang menguasai Orangutan juga harus ditangkap. "

Aktivis FORA lainnya Azhar mengatakan bahwa ketidaktegasan pemerintah dalam melaksanakan hukum memberikan kontribusi terhadap perburuan satwa liar di Aceh.

Ia mencatat seorang pria lokal di Kandang Aceh Selatan telah menahan lebih dari selusin spesies - termasuk orangutan yang terancam punah - selama lebih dari dua tahun.

Pada bulan Maret lalu  seorang staf dari organisasi konservasi Sumatera yang bekerja untuk melawan perdagangan ilegal satwa liar menyaksikan bayi beruang madu yang terancam punah dalam kandang penduduk. Sekitar seminggu kemudian, dua beruang lainnya duduk terkurung di tangan orang yang sama menurut saksi mata yang sama. Delapan bulan lalu, tiga orangutan lainnya dikurung di sini, saksi mata mengatakan, bersama dengan seekor Siamang yang akhirnya meninggal. Satu orangutan telah menghilang, mungkin dijual. Ketika banjir melanda pada 10 Mei, penduduk setempat mengatakan satu melarikan diri dan yang lain tenggelam. Pada hari Minggu, sekitar 15 spesies lainnya yang diambil dari hutan sekitarnya dipajang dalam kandang atau diikat ke pohon. Primata Orangutan tampaknya sering diperdagangkan, dan sering mati karena kurangnya perawatan

Dengan setiap orangutan, beruang atau hewan lain yang diambil dari hutan - atau dari perkebunan kelapa sawit yang merubah habitat mereka - jumlah satwa liar terus menyusut. Pemburu dan pedagang menghilangkan spesies kunci Sumatra yang harus dilindungi.  [003-mongabay]






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close