Aceh Utara- Musim kemarau yang melanda sebagian wilayah di Kabupaten Aceh Utara sejak bulan Januari 2012, sampai saat ini masih di landa kekeringan. Akibatnya, masyarakat sulit mendapatkan air bersih. Bahkan, sejumlah masyarakat juga telah berupaya menggali lubang sumur untuk mendapatkan setetes mata air. Namun, upaya yang dilakukan masyarakat hanyalah sia-sia, bukan mata air ditemukan masyarakat, tapi malah lumpur yang mengandung aroma bau menyengat di temukan.
Seperti yang di saksikan langsung oleh The Globe Journal, Kamis (28/6), tepatnya di Desa Seunebok Baroe, Cot Girek, Aceh Utara. Sejumlah warga di Desa itu terlihat sedang berupaya menggali sumur untuk mendapatkan air yang bisa dikonsumsi, baik untuk diminum maupun untuk mandi dan berwudhu. Salah seorang warga bernama Erna (40), mengatakan, ia terpaksa menggali saluran pembuangan yang baru saja di gali oleh alat berat Exsavator hanya untuk mendapatkan mata air. "padahal, dua minggu yang lalu satu unit alat berat telah membuat saluran pembuangan air, namun tidak juga menghasilkan mata air. Jadi, mau tidak mau, saya terpaksa menggali sumur dengan alat seadanya untuk mendapatkan mata air,'' keluh Erna.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Wagiman (41), warga setempat, ia juga terpaksa menggali sumurnya lebih dalam lagi demi mendapatkan air. Tak hanya di Desa itu, The Globe Journal juga menyaksikan sejumlah warga di Desa Alue Drien, Alue Mpoek, U Baroe, Bukit Mee, dan Desa lainnya yang sedang mencari air untuk di konsumsi. "kekeringan sudah lama melanda daerah kami. Tak ada lagi mata air yang terlihat untuk bisa dikonsumsi. Setiap sore kami mencari mata air di alur yang sudah kering. Bila ditemukan air, kami terpaksa mandi massal dengan air yang jorok dan bau menyengat,'' Ucap salah seorang warga Alue Drien.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada solusi yang baik dari Pemerintah Daerah Aceh Utara untuk melestarikan kehidupan masyarakat di pedalaman yang dinyatakan krisis air. Terkait keluhan warga terhadap krisis air, Humas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mon Pasee Aceh Utara, Tarmizi AR, tidak ada di tempat saat di temui The Globe Journal. Ketika di hubungi, nomor ponsel yang bersangkutan malah tidak aktif dan tak membalas sms. Untuk itu, The Globe Journal akan terus mengikuti perkembangan terkait krisis air di Aceh Utara hingga titik temu, dan menunggu solusi dari Pihak terkait.(003)