Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Lingkungan Hidup»Demi Konservasi, Kontes Burung Berkicau Perlu Dibatasi


Demi Konservasi, Kontes Burung Berkicau Perlu Dibatasi
Sabtu, 30 Agustus 2014 15:30 WIB

Bogor - Kontes burung Indonesia dianggap berpengaruh dalam berkurangnya burung-burung berkicau endemik di Indonesia. Diharapkan ada regulasi terkait lomba burung berkicau, untuk mempertahankan keberadaan burung-burung berkicau di alam liar.

Hal itu mengemuka dalam diskusi Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi) di Safari Lodge, Taman Safari Indonesia, Cisarua, Jawa Barat, Sabtu (30/8/2014).

Indonesia mempunyai banyak jenis burung berkicau dari setiap endemik Indonesia. Namun masyarakat masih sangat menyukai lomba-lomba burung berkicau.

Salah satu pengamat burung berkicau, Berto mengatakan, perlombaan kicau burung saat ini sudah dilakukan setiap hari dengan nilai tinggi. Dan ia juga melihat, saat ini ada pergeseran lomba burung berkicau dengan menggunakan burung biasa.

"Kontes burung bukan lagi burung bersuara merdu. Saat ini sudah menggunakan Burung Gereja, Burung Pelatuk, Raja Udang, yang secara dipaksa untuk dikontes," kata dia.

Endang Budi Utami dari Perhimpunan Burung Indonesia (PBI) menjelaskan, memelihara burung berkicau (songbird) telah dilakukan masyakarat sejak lama dan jumlahnya terus berkembang. Indikatornya, kegiatan lomba atau kontes berkicau makin banyak digelar di berbagai daerah.

Pada 1998, PBI menemukan kontes burung membuat jumlah populasi burung di alam liar berkurang, termasuk burung-burung asli Indonesia, seperti Curig Bali (sturnus meianopterus), Poksai Kuda (garrulax rufifrons), dan Ekek Geling (garrulax leucolophus).

Endang menyarankan, sebaiknya penangkaran burung-burung berkicau dapat diperbanyak, sehingga dapat mempertahankan populasinya.

Sementara Koordinator Foksi Tony Sumampau menjelaskan, dari sisi nilai ekonomi, perlombaan burung berkicau dapat mencapai Rp 3,3 triliun per tahun.

"Harus ada regulasi yang bagus untuk membatasi perlombaan jenis-jenis burung berkicau, termasuk juga aturan main terkait perburuan burung berkicau di alam liar," kata dia.

Tony menambahkan, nantinya bisa diusulkan regulasi terkait kelestarian burung berkicau dalam penangkaran burung oleh pemerintah. Diskusi ini juga dihadiri perwakilan dari Kementerian Kehutanan, pemerhati burung, dan para penangkar burung. [005]

 

 

 

 

Sumber: BERITASATU






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close