THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Konsultasi BKKBN»Siap Secara Fisik, Namun Belum Siap Mental Untuk Menikah


Siap Secara Fisik, Namun Belum Siap Mental Untuk Menikah
Sabtu, 17 Desember 2011 00:00 WIB
Banda Aceh - Assalamu'alaikum ibu. saya sudah membaca beberapa artikel konsultasi yang sudah dimuat sebelumnya. saya juga tertarik untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang mudah-mudah ibu berkenan menjawab. Melihat nama program ini "konsultasi BKKBN" hal yang saya pikikan pertama kali adalah program KB, dua anak lebih baik :D. 

Saya perempuan berusia 22 tahun, belum berencana menikah dalam waktu dekat. Saya pernah belajar bahwa wanita berumur diatas 20 tahun, secara struktur dan fungsional biologis organ reproduksinya sudah cukup mantang untuk melakukan hubungan seksual dan kehamilan. Secara Umur,saya mungkin sudah memenuhi kriteria biologis dan syarat menikah dlm peraturan pemerintah.  Akan tetapi, saya masih ragu dengan kesiapan (kematangan) mental saya. Nah yang ingin saya tanyakan :

1. apakah penting kesiapan mental bagi wanita yang ingin menikah?

2. persiapan mental apa sajakah yang harus dimiliki oleh seorang wanita yang hendak menikah (apalagi usia muda kematangan psikologis masih terus berlangsung)?

3. Banyak pasangan suami istri bercerai baik di usia muda maupun tua yang dilatarbelakangi adanya konflik. Apakah hal ini juga efek nagatif dari ketidaksiapan mental kedua maupun salah satu pasangan? Mohon pendapat ibu tentang hal ini.

Terima kasih sudah merespon pertanyaan saya.

Risya

Penjelasan

Jujur dan terbuka memang bukanlah hal mudah. Banyak remaja kita salah arah karena tidak mampu jujur dan terbuka dengan keluarganya. Dan saya juga menyarankan Risya agar selalu terbuka dengan keluarganya baik hal kecil, apalagi besar sehingga apa yang dicita-citakan (termasuk menikah) bisa terealisasi dengan baik. Terimakasih untuk pertanyaannya yang jujur Risya. 

Sahabat generasi berencana yang budiman, menikah merupakan satu hadiah terindah yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia. Ada luapan emosional yang sulit diucapkan dengan kata-kata kala pernikahan berlangsung. Ada janji yang terikat dengan komitmen cinta, kasih, dan kepercayaan, untuk mendapatkan satu keutuhan berkehidupan di dunia menuju akhirat kelak.

Namun banyak fakta menunjukkan pernikahan malah menjadi momok bagi sejumlah pasangan. Mudah melepaskan komitmen, lalu bercerai atau berpoligami dan menikah lagi. Tak peduli ada hati-hati yang terluka, ada anak-anak yang terlunta-lunta akibat emosional yang tak terkontrol.

Inilah pentingnya sebuah kesiapan mental bagi calon pasangan yang ingin membangun bahtera rumah tangga. Tak mudah goyah meski badai menerpa dan sedia berkomunikasi meski emosi memuncak. Karena hanya dengan dua hal itu, aneka masalah bisa diselesaikan dengan baik. 

Mungkin banyak keluarga iri pada pasangan Habibie dan Ainun. Dimana pasangan ini hanya dipisahkan oleh maut. Sungguh bukanlah sinetron. Namun begitulah dua pasangan ini memberikan pelajaran bagi kita semua, khususnya bagi yang belum menikah tentang arti kesetiaan, bermental setia. Sungguh jangan dianggap keluarga ini tak punya masalah. Istri mana yang tak kecewa bila suaminya larut dalam pekerjaan. Beginilah kondisi Ainun yang harus memaklumi kesibukan Habibie sebagai pejabat penting Indonesia yang juga ilmuan ini.

Di sisi lain, sikap pengertian yang ditunjukkan Ainun tak lepas dari kesetiaan yang juga dibuktikan oleh Habibie. Hingga menghembuskan nafas terakhir, tidak sekalipun Habibie dikabarkan dekat dengan wanita lain. Padahal gadis muda mana yang tak mau dengan Habibie yang ber-uang itu jika beliau ingin mengingkari janji dengan Ainun. Dan inilah kematangan mental pasangan ini yang perlu dicontoh. Mereka selalu terbuka, memiliki kualitas komunikasi yang sangat efektif, mampu menciptakan suasana baru dengan rasa humor yang tak kalah romantis.

Kita semua bisa belajar dari pasangan yang luar biasa ini. Tapi tentu jalan hidup kita berbeda-beda. Tak ada yang tahu. Mungkin saja kelak nilai hubungan Risya dan calon suaminya di masa depan melebihi nilai yang ditunjukkan Habibie dan Ainun. Tiada yang tahu karena sungguh itu kejutan Allah SWT yang sangat spesial.

Selain itu, ada kalanya kesiapan mental yang Risya pertanyakan justru lahir dari proses yang Risya lakukan sendiri nanti. Tapi dalam konteks kerangka kerja Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), maka semuanya harus direncanakan. Ada delapan hal yang perlu diketahui dalam upaya penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja. Menyiapkan pribadi yang matang dapat dilakukan dengan penerapan delapan fungsi keluarga yakni fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Saya meyakini jika kita faham (Bukan sekedar tahu), maka insyaAllah mental keluarga tersebut akan lebih kuat dan berujung pada aman di dunia begitu juga di akhirat.

Hal yang tak banyak orang praktekkan sebelum menikah adalah mengenal kedua keluarga calon mempelai dengan baik. Jangan sekedar mengenal keluarga inti saja. Bila perlu, jangan sungkan meminta dikenalkan dengan kerabat keluarganya yang terbilang jauh. Mungkin akan memberikan nilai tambah lainnya untuk memupuk kepercayaan dalam rangka membentuk mental keluarga yang kuat. 

Sebagai informasi tambahan, saat ini BKKBN telah menggulirkan program pelatihan Calon Linto dan Dara Baroe (Calinda). Disini melalui kerjasama dengan pihak Kantor Urusan Agama (KUA), pasangan calon linto dan dara baroe akan mendapakan berbagai pengetahuan mulai dari sisi kesehatan, agama, sosial, dan banyak lainnya agar mampu mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah dengan ketahanan mental yang luar biasa. 

Sekali lagi banyak alasan yang bisa diberikan bila suatu keluarga dihadapkan dengan keputusan perceraian. Namun semuanya kembali pada komitmen yang dibangun kedua pihak. Mau menghadapi setiap masalah meski butuh waktu dan jalan yang terjal, atau menyerah dengan keadaan dengan berbagai alasan. Semoga saja Risya dan gadis-gadis Aceh lainnya tidak diberikan keraguan menikah bila saatnya tiba. Semoga keluarganya kelak benar-benar sakinah, mawaddah, dan rahmah. Amin ya rabbal ‘alamin. []

Salam Generasi Penuh Rencana
Dra Khuzaimah Ibr M Ag
(Widyaswara Madya BKKBN Provinsi Aceh)





    Muhajir Juli
    Redaksi:
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi:
    Telp. (0651) 741 4556
    Fax. (0651) 755 7304
    SMS. 0819 739 00 730


    Komentar Anda

    Terpopuler

    Cities

    Seni dan Budaya

    Jalan-Jalan

    Berita Foto

    «
    »
    Close