
Sigli – Secara umum kualitas kesehatan masyarakat yang tinggal di Kecamatan Mutiara, Pidie masih memprihatinkan. Seperti halnya di Kemukiman Busu dan Beureueh, Masyarakat setempat jauh dari kebiasaan sehat dan bersih. Tidak saja persoalan pembuangan sampah sembarangan, aksi buang air besar masih dilakukan secara klasik di sungai.
Fakta itu merupakan temuan mahasiswa Akper Jabal Ghafur Sigli dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PBL) di dua kemukiman tersebut yang sudah berakhir pada Sabtu, (21/4).
Ketua PBL Akper Jabal Ghafur Sigli, Rusydi, S.Kep dalam penutupan kegiatan itu menyebutkan, masalah kesehatan lingkungan yang berhubungan perilaku tidak sehat masih menjadi persoalan utama pada masyarakat.
Sementara itu, Pembantu Direktur III NS Mirzal Tawi menambahkan, waktu satu bulan tentunya tidak cukup untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan warga. Butuh kerja dan sinergitas yang lebih besar untuk mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih sehat. Kendati demikian, keberadaan mahasiswa tersebut diharapkan dapat menularkan sedikit ilmu tentang lingkungan sehat dan perawatan keluarga serta lanjut usia.
Di sisi lain, Mirzal Tawi juga menyoroti perlunya sinergisme antara pembangunan fisik dengan pengembangan SDM terkait kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. “Upayakan setiap pembangunan fisik senantiasa berwawasan kesehatan dan lingkungan,” katanya.
Mirzal Tawi mencontohkan pembangunan MCK atau WC Umum tanpa dibarengi dengan kesadaran tidak akan memberikan pengaruh apapun. Pasalnya tanpa kesadaran merawat, MCK hanya akan menjadi monument semata sekaligus menjadi sumber penyakit.
“Bahwa kesehatan tidak hanya tanggung jawab tenaga kesehatan saja tapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Terjadinya gizi buruk, meningkatnya kasus malaria, DBD, seolah itu adalah kegagalan petugas kesehatan padahal kalau kita kaji lebih jauh banyak aspek lain yang mempengaruhinya, misalnya rendahnya tingkat ekonomi keluarga, rendahnya tingkat pendidikan, pembangunan yang menafikan aspek kesehatan,” tegasnya. [005]
