Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Kesehatan»Menkes Tak Mampu Tekan Angka Kematian Ibu


Menkes Tak Mampu Tekan Angka Kematian Ibu
Jum`at, 21 Oktober 2011 00:00 WIB
Yogyakarta — Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengaku belum mampu menekan angka kematian ibu. Hal itu merupakan tantangan kementriannya. 

Angka kematian ibu ini juga menjadi salah satu kendala tersulit dalam mencapai Millenium Development Goals (MDGs). "Di antara semua indikator MDGs, yang paling sulit untuk dicapai adalah menurunkan angka kematian ibu. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga hampir seluruh negara di dunia, sulit sekali menurunkannya," jelas Endang dalam The 6th Asia Pacific Conference on Reproductive and Sexual Health and Rights (APCRSHR) di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta, Jumat (21/10). 

Menurut Endang, pada 2007, angka kematian ibu diperkirakan ada 228 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. "Tanpa usaha yang luar biasa, Indonesia tidak akan bisa mencapai target MDGs di 2015, yakni menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup," ungkapnya. 

Endang pun menyebutkan beberapa sebab kematian ibu yang paling sering ditemui, yakni terlalu tua atau terlalu muda sewaktu hamil, terlalu sering hamil, atau terlalu dekat jarak kehamilannya. Hal-hal tersebut menurutnya dapat diatasi dengan menanamkan norma dan budaya menunda pernikahan. 

"Penyebab-penyebab ini bisa kita perbaiki. Tentu saja caranya adalah dengan cara kita mulai dari SD, SMP, SMA, menanamkan norma, menanamkan budaya menikah itu tundalah sampai usia 24-25 tahun. Karena sekarang perempuan-perempuan Indonesia kurang lebih 20-30% menikah di bawah usia 20 tahun," ujarnya. 

Menurunkan angka kematian ibu juga terkendala dengan masalah akses kesehatan bagi para ibu. Tidak hanya terlalu jauh dengan akses pelayanan kesehatan, tidak sedikit para ibu juga tidak terbiasa datang ke bidan karena terbiasa ditolong oleh dukun atau ibunya sendiri dalam melahirkan. 

Karena itulah, menurut Endang, pihak Kementerian Kesehatan melakukan upaya yang ditujukan guna mendekatkan akses pelayanan kesehatan bagi para ibu yang membutuhkan. Selain itu terdapat juga Program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang sudah dimulai tahun ini. 

"Jampersal sudah tahun pertama dilaksanakan di seluruh Indonesia. Penyerapannya sudah baik, sudah banyak orang yang menggunakannya, tapi pelaksanaanya masih harus diperbaiki lagi," ungkapnya. 

Meski demikian, program Jampersal yang menyediakan pelayanan gratis pada melahirkan, pelayanan pasca melahirkan, dan pelayanan perencanaan keluarga ini masih perlu diperbaiki. 

Perbaikan itu, menurut Endang, dilakukan dengan menaikkan biaya yang dibayarkan. Pasalnya, rendahnya biaya yang dibayarkan pada program ini, sering kali bidan justru mengirimkan pasien ke rumah sakit dan tidak menolong pasien tersebut. 

"Karena pada kenyataanya mungkin biaya yang dibayarkan itu lebih murah dari bidan. Jadi bidan akhirnya mengirim saja pasiennya ke rumah sakit, tapi tidak menolong. Karena harganya lebih murah. Untuk tahun depan kita akan upayakan supaya costnya itu kita naikan," tandasnya. []

(Yul-Media Indonesia)






    Twitter TGJ 3
    Redaksi:
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi:
    Telp. (0651) 741 4556
    Fax. (0651) 755 7304
    SMS. 0819 739 00 730


    Komentar Anda

    Terpopuler

    Cities

    Jalan-Jalan

    Berita Foto

    «
    »
    Close