Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Infotainment»Film "Kita & Korupsi" Untuk Sosialisasi Bahaya Korupsi


Film "Kita & Korupsi" Untuk Sosialisasi Bahaya Korupsi
Afifuddin Acal | The Globe Journal
Rabu, 12 September 2012 17:46 WIB

Banda Aceh - Korupsi di Indonesia sudah menjadi bahaya laten dan sangat meresahkan. Korupsi bukanlah isu yang baru di Indonesia saat ini. Seakan-akan korupsi itu sudah membudaya dan mengakar, sehingga sangat sulit untuk diberantas.

Ada beragam cara sudah diupayakan untuk memberantas Korupsi di Indonesia. Namun, ironisnya, praktek korupsi terus mulus berjalan di tanah air. Bahkan cendrung praktek korupsi saat ini meningkat, bukan malah menurun. Hal ini menjadi persoalan dan butuh perhatian semua komponen untuk memikirkan agar korupsi bisa diberantas.

Lembaga KPK kerap menghadapi tantangan dan berhadapan dengan situasi yang dilematis. Lembaga superbody tersebut gentol memberantas praktek korupsi, namun dibalik itu masih ada yang enggan untuk menghentikan atau menghukum secara tegas setiap pelaku tindak pidana korupsi.

Menurut Fauzan Santa Koordinator Panitia Bersama Pemutaran film "Kita Vs Korupsi" dalam konferensi pers di 3in1 (12/9) tadi, korupsi sekarang sudah menjadi kebudayaan atau kebiasaan. Sehingga praktek itu dianggap sudah biasa bila dilakukannya.

"Beranjak dari situlah, kami sangat peduli menyangkut praktek korupsi yang sudah membudaya, maka pemutaran film ini sangat efektif untuk sosialisasi bahayanya korupsi," kata Fauzan Santa.

Implikasinya dari pemutaran film ini akan lahirnya kesadaran masyarakat untuk mengawasi dan tidak melakukan korupsi. Demikian juga menghilangkan paradigma ditengah-tengah masyarakat, bahwa korupsi hal yang biasa. Dengan adanya pemutaran film ini akan menjadi proses penyadaran pada masyarakat untuk melawan setiap gejala-gejala awal korupsi itu.

Masih dikatakan Fauzan dengan adanya pemutaran film ini akan tercerahkan bagi masyarakat. Korupsi itu telah membuat banyak orang menjadi korban dan bahkan terjadi pemiskinan secara terstruktur akibat banyaknya praktek korupsi."Pemutaran film ini sangat berpengaruh pada masyarakat, karena menonton itu jauh lebih mengikat dari membaca," ujarnya lagi.

Hal yang sama juga dibenarkan oleh Agus  Sarwono selaku Community and Outtreach Officer Film Kita Vs Korupsi. Ia dengan tegas mengatakan korupsi di Indonesia sudah sangat kronis. Ada banyak prilaku suap yang harus ditinggalkan oleh masyarakat saat ini di Indonesia. "Ada suap yang sering dilakukan oleh masyarakat seperti pembuatan SIM misalnya, tak mau menunggu lama, maka masyarakat menyuap petugas, ini harus segera diperbaiki dan dihentikan,"ungkap Agus Sarwono.

Menurutnya film ini telah ditonton oleh 75 ribu orang selama 14 kali pemutaran seluruh Indonesia. Aceh akan menjadi yang ke-15 diharapkan juga bisa banyak warga dapat menontonnya. Adapun targetnya adalah masyarakat umum, pelajar/siswa dan mahasiswa.

Lanjutnya, bila ingin menonton film tersebut, bisa langsung ikut nonton pada tanggal 13 September 2012 yang akan diputar di AAC Dayan Dawood sejak pukul 10.00 Wib. Kemudian pada tanggal 14 September 2012 di Rumoh PMI untuk masyarakat umum dan 15 September 2012 di Politeknik untuk kalangan siswa.

"Jumlah penonton kita tidak batasi, khususnya untuk siswa kita memang meminta minimal 2 orang murit dan satu orang guru," kata Agus.

Dari pemutaran film ini, Agus berharap dimasa yang akan datang akan ada masyarakat Aceh yang peduli dengan kampanye anti korupsi. Karena bila masyarakat tidak ikut serta langsung dalam mengawasi dan memberantas korupsi, akan sedikit kesulitan sebagaimana terjadi selama ini. "Masyarakat itu skarang harus menjadi tameng utama dalam melakukan pemberantasan korupsi,"tegas Agus.

Panitian bersama ini menurut penjelasan dari Fauzan Santa selaku ketua Panitia Pelaksana berkat kerjasama antara beberapa lembaga. Diantaranya Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Komunitas Tikar Pandan, Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh dan Transparansy International Indonesia (TII). (007)






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close