Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Hukum»Anak Diperkosa Ayah Tiri, Ibu Diintimidasi Keluarga Pemerkosa


Anak Diperkosa Ayah Tiri, Ibu Diintimidasi Keluarga Pemerkosa
Afifuddin Acal | The Globe Journal
Rabu, 21 November 2012 16:13 WIB

Redelong - Tindak kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur saban hari terus meningkat di Bener Meriah. Bulan November 2012 ini kembali bertambah korban pemerkosaan. Kini yang menjadi korban anak usia 13 tahun. Jadi dalam tahun 2012 saja telah terjadi kekerasan terhadap anak sebanyak 45 kasus.

Pelaku pemerkosaan masih saja dilakukan oleh orang terdekat. Hal yang sangat miris, pelakunya adalah seorang ayah tiri yang seharusnya melindungi anak dari istrinya itu.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Koordinator Lembaga Bantuan Hukum APIK (LBH-APIK) Kabupaten Bener Meriah, Noerbaiti  pada The Globe Journal Rabu (21/11) via handphone.

Hal yang membuat semua orang tersayat-sayat hatinya, kata Noerbaiti, ibu kandung korban tidak bisa berkutik. Dengan terpaksa ia harus diam dan cendrung membela suaminya yang tidak lain adalah Ayah tiri korban pemerkosaan.

"Ibu kandungnya itu lebih membela suaminya dari pada anaknya,"kata Nurbaiti yang sangat konsen mengadvokasi  setiap tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Dilematis memang, lanjut Nurbaiti, ibu kandung korban pemerkosaan sempat mengeluhkan nasibnya bila suaminya masuk penjara. Siapa yang akan menafkahi anak-anak yang ada bersamanya bila suaminya berada dalam penjara.

Kembali faktor kemiskinan membuat seseorang lemah dan harus tunduk dan menerima atas perlakuan kekerasan. Padahal sudah jelas-jelas suaminya telah melakukan tindak pidana dengan melakukan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur. Konon lagi, korbannya itu merupakan anaknya sendiri.

Anehnya lagi, kata Nurbaiti, ibu kandung korban pemerkosaan mendapatkan ancaman dari pihak keluarga pelaku yang tidak lain adalah ayah tiri korban. Sehingga dengan mendapatkan ancaman tersebut membuat ciut nyali ibu kandung korban untuk melaporkan kasus ini pada pihak kepolisian.

“Ibu anak korban pemerkosa tersebut mendapat ancaman dari pihak keluarga pelaku,”tukas Nurbaiti.

Hal lain yang membuat ibu kandung korban pemerkosaan tersebut diam, kata Nurbaiti. Menurut adat yang sudah salah dipahami oleh warga, bila istri yang meminta cerai. Maka semua harta kekayaan yang dimiliki sah menjadi milik suami.

Ini juga menjadi pertimbangan, jelas Nurbaiti. Adat dan kebiasaan inilah yang saat ini sangat dipegang oleh orang gayo. Sehingga istri dalam situasi sepahit apapun tidak berani meminta cerai akibat masih berlakunya adat yang sangat patriarki.

Ini juga persoalan perspektif bahwa perempuan harus tunduk dan patuh terhadap laki-laki. Perempuan harus mengabdi pada suami dalam kondisi apapun. Faktor patriarki yang masih kental inilah yang mendorong terus terjadi pelecehan seksual terhadap anak.

"Patriarki masih menjadi faktor utama kerap terjadi pelecehan terhadap perempuan,"jelas Nurbaiti.

Pada dasarnya, ada pola pikir yang harus dirubah di tengah-tengah masyarakat saat ini. Tentunya Pemerintah Kabupaten Bener Meriah harus pro-aktif mensosialisasikan pentingnya perlindungan terhadap anak dan perempuan.

Persoalan mendasar yang harus dipikirkan oleh seluruh stakeholder adalah sejauh mana mekanisme perlindungan langsung terhadap anak dan perempuan dari tindak kekerasan.

Perlindungan secara langsung dan tepat sasaran dan efektif. Sehingga tidak ada lagi alasan dikemudian hari masih saja terjadi kekerasan terhadap anak dan perempuan.

"Hal ini mungkin Pemerintah bisa bekerja sama dengan LSM Perempuan secara maksimal dan bisa turun langsung ke desa untuk sosialisasi,"tutup Nurbaiti.






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda
AYAM LEPAS

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
X
BACA JUGA
Close