
Umarete kita hoshi no nakama// umi ya yama ya doobutsu mo// Bokutachi no omoiyari de mirai ga kawatte yuku. Jibun katte wa yamete, Minna egao ni shitai
(Terlahir ke dunia sebagai sahabat, laut gunung hutan dan hewanpun. Semua tergantung rasa kasih sayang kita, masa depan kitapun akan berubah karenanya. Hentikan keegoisanmu, semua orang ingin tersenyum)
Banda Aceh - Sepenggal bait lagu terdengar suara nyanyian dari pengeras suara. Matahari yang bersinar terik hari ini, tidak mampu mengalahkan suara nyanyian bermakna kasih-sayang tersebut. Di depan puluhan murid-murid dari empat sekolah yang berkumpul di lapangan upacara, lagu dalam bahasa Jepang tersebut dinyanyikan tanpa ragu-ragu oleh grup paduan suara SMP Negeri 1 Peukan Bada dan Kogetsu School. Tepuk tangan membahana diakhir nyanyian mereka.
Omoiyo no uta, lagu yang berkisah tentang kasih sayang itu dibawakan pada peringatan setahun pascagempa bumi dan tsunami Jepang, Sabtu (10/3). Monika Sensei mengatakan bahwa banyak orang yang lupa untuk menyebarkan rasa kasih dengan sesama, dengan adanya lagu ini untuk mengingatkan tentang kebaikan dari orang-orang yang pernah membantu Aceh.
“Dalam lagu ini sebenarnya kita mencoba untuk mengingatkan bahwa Aceh pada pascatsunami banyak yang membantu. Ini bentuk rasa solidaritas kita. Kita memantulkan kembali rasa sayang dari orang-orang yang pernah membantu kita,” jelasnya pada The Globe Journal.
Staf Pengajar di Kogetsu School tersebut mengatakan bahwa dirinya dan anak-anak paduan suara tersebut berusaha dengan keras mempelajari lagu itu. Tujuannya hanya satu, untuk bisa memantulkan kembali kasih sayang yang pernah didapat oleh masyarakat Aceh dari negara-negara donor, termasuk Jepang yang juga mengalami musibah yang sama. Bahkan, lagu tersebut juga berupa ajakan untuk membuang rasa ego dan menyebar luaskan kasih sayang.
Usai menyanyikan lagu kasih sayang, para relawan dari Tsunami and Disaster Mitigation Reseacrh Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala datang membawa ratusan balon berwarna-warni. Tiap-tiap murid menerima balon dengan wajah sumringah. Tidak tampak rasa lelah di wajah mereka, meskipun matahari pagi itu cukup menyengat.
Begitu juga dengan panitia acara, mereka tetap tersenyum membagikan balon-balon kepada anak-anak yang ikut dalam acara bertajuk ‘Solidaritas Pelajar Aceh untuk Jepang- Mari Make Our Schools More Realize for Disaster’.
Tidak hanya murid saja, para guru dan panitia dari People’s Association on Conscience (PAC) Lost Children Operation (LCO) serta Asian Community Trust (ACT) dalam acara tersebut juga ikut berpartisipasi. Bedanya, mereka tidak memegang balon yang sama seperti para murid. Balon yang mereka lepas adalah karangan balon diikat dengan banner. Balon yang juga disematkan burung bangau dari kertas origami tersebut dilepaskan bersamaan dengan karangan balon bertuliskan doa untuk masyarakat negeri sakura.
“Kegiatan ini adalah bentuk kepedulian Aceh untuk Jepang agar terus bangkit membangun masyarakat yang lebih siaga,” ujar Panitia Pelaksana sekaligus Kepala Divisi Advokasi Pendidikan dan Pelatihan TDMRC Unsyiah, Mukhlis A. Hamid.
“Sebagai umat manusia, jika kita memang peduli terhadap sesama itu maka tidak mengenal suku, bangsa, dan juga agama. Apalagi perhatian bantuan empati masyarakat jepang di Aceh luar biasa. Apalagi sekolah kita ini adalah pusat bencana tsunami,” jelas Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Peukan Bada, Muhardi.
Gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Perfektur Iwate, Jepang pada 11 Maret 2011 lalu diperingati bersama oleh siswa-siswi dari SMP Negeri 1 Peukan Bada, SMP Negeri 5 Banda Aceh, SMP Negeri 11 Banda Aceh, dan SMA 2 Unggul Ali Hasymy. Sebelum melepaskan 500 balon yang dengan burung bangau itu, mereka juga melakukan doa bersama untuk 20.000 orang yang tewas dalam musibah juga masyarakat Negeri Matahari Terbit yang tengah melakukan rekonstruksi.
Tidak hanya berdoa dalam tiga bahasa yaitu Indonesia, Inggris, dan Jepang tersebut, usai acara di tutup, para murid langsung berhamburan menuliskan pesan-pesan mereka untuk anak-anak Jepang. Pesan yang dituliskan pada spanduk berwarna putih itu berisi ajakan untuk terus tersenyum, tetap semangat, dan tidak gampang putus asa.
“Acara ini istimewa. Pesan untuk anak-anak Jangan lemah, tetap semangat, tetap berjuang dan jangan putus sekolah,” harap Siti Nur Zahara (15).
Tidak hanya di spanduk, pesan yang sama juga dituliskan di bunga kertas yang ditancapkan di halaman sekolah. Dalam balutan kimono berwarna biru langit, murid kelas 2-4 SMP Negeri 1 Peukan Bada itu mengatakan bahwa bunga kertas tersebut dibuat anak-anak satu sekolah dan dibantu oleh murid SMA 1 Peukan Bada. Pada kelopak bunga kertas yang dibuat dalam empat warna tersebut terdapat tulisan dalam berbagai bahasa yang isinya adalah ajakan untuk terus bangkit pascamusibah tsunami.
“Ini sebagai solidaritas warga aceh untuk orang jepang. Biar solidaritas kita jangan putus dengan mereka,” tambah Siti.
“Kita berharap dapan memberi semangat juga untuk teman-teman kita di Jepang, anak-anak di Jepang, khususnya yang selamat dari tsunami setahun setahun yang lalu agar dapat berjuang seperti anak-anak di sini. Intinya sangat sederhana sekali, hanya memberikan motivasi semangat untuk keluarga besar jepang,” jelas Mukhlis.
[001]
Selasa, 21 Mei 2013 20:18 WIBPesawat AS Yang Mendarat di Aceh Itu Memang Kesasar