THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Feature»Menikmati Buka Puasa Paling Indonesia di Thailand


Menikmati Buka Puasa Paling Indonesia di Thailand
Nurul Fajri | The Globe Journal
Sabtu, 04 Agustus 2012 14:19 WIB

Banda Aceh- Di Indonesia, terutama Aceh, mencari makanan berbuka puasa tentu sangat mudah. Karena pada bulan Ramadhan, di sepanjang jalan protokol akan terlihat para penjaja makanan. Aneka pengananpun dijual oleh para pedangang, baik pedagang musiman maupun pedangang tetap, di sepanjang ruas jalan. Tersedia berbagai aneka kue-kue khas Ramadhan, minuman untuk berbuka, ataupun makanan berat yang disantap saat berbuka puasa.

Ternyata, untuk mencari makanan halal untuk berbuka puasa yang mayoritas beragama Budha di Negeri Seribu Pagoda bisa dibilang cukup unik. Bagi mahasiswa Aceh yang tengah menempuh pendidikan di negeri ini, mereka haruslah jeli dalam melihat warung makan apakah terdapat tempelan stiker ‘halal’, ‘Allah’, dan ‘Muhammad’.  Cara gampangnya, dengan melihat apakah pemilih warung mengenakan jilbab atau tidak. Itulah pengalaman berpuasa mahasiswa Songkla University, Fardhelyn Hacky di Hatyai, Thailand.

“Tantangan terberat bagi kami adalah menemukan warung makan yang halal. Karena umumnya masyarakat Thailand di Songkhla tidak bisa bebahasa Inggris,” ujarnya saat diwawancarai The Globe Journal, Sabtu (4/8).

"Kalau saya pribadi, saya masak sendiri untuk buka sekaligus untuk sahur. Ada juga beberapa teman yang beli. Jika membeli pun, di sini lumayan gampang menemukan warung muslim," sambungya.

Bagi Mahasiswi Prince of Songkhla University ini, undangan berbuka di Konsulat Republik Indonesialah (KRI) yang paling dia nantikan. KRI terletak di Mueng Songkhla, Ibukota Provinsi Thailand Selatan. Meskipun harus menempuh satu jam perjalanan naik van dari Hatyai untuk sampai di sana, dia mengaku tidak pernah ketinggalan untuk datang memenuhi undangan buka puasa bersama di KRI.

“Saya pikir, kapan lagi bisa menikmati hidangan Indonesia yang enak-enak dan lezat buatan ibu KRI jika bukan saat-saat seperti ini,” tuturnya.

Eqi-panggilan akrabnya- mengaku tidak begitu menyukai makanan Thailand. Terlebih lagi rasa kecap dan saos ala Negeri Gajah Putih tersebut. Sehingga, undangan untuk berbuka puasa yang digelar oleh KRI tersebut menjadi sebuah momen berharga baginya. Apalagi makanan yang disajikan untuk berbuka puasa merupakan makanan khas Indonesia. “Maklumlah, lidah saya lidah lokal bukan lidah internasional,” akunya sambil terkekeh.

“Yang saya sukai saat menerima undangan ini selain bisa bersilaturahmi dengan sesama warga Indonesia di Thailand, sungkeman dengan bapak konsulat, dan juga makanan yang enak-enak ala Indonesia,” sambung Eqi.

Berbagai jenis masakan Indonesia disuguhkan dalam jamuan buka puasa tersebut. Teh manispun menjadi minuman yang selalu tersedia setiap kali acara berbuka. Bahkan, kata Eqi, kali ini ditambah dengan segelas cendol.

Untuk makanan pembuka, Eqi mengatakan mereka disuguhi kue-kue Indonesia dan juga es buah. Kue-kue seperti kolak, tahu isi, kue mangkok, dan rengginang menjadi menu paling Indonesia di sana. Terlebih tahu isi dan rengginang yang langsung habis tak bersisa dalam hitungan menit.

Selepas salat magrib, baru dilanjutkan dengan makan yang berat-berat. “Sabtu lalu ada beragam jenis makanan Indonesia, ada nasi, rendang, capcai, tahu dan tempe bacem, pecel, dan lalap serta sambel. Pokoknya benar-benar Indonesia deh!” sebutnya. 

Semua menu berbuka ala Indonesia ini dimasak oleh ibu-ibu dharma wanita-nya KRI di Songkhla. Mereka dibantu oleh para pekerja perempuan muslim Thailand. Jadi, bagi mahasiswa ilmu keperawatan tersebut, menyantap semua menu dengan berkumpul dan duduk lasehan benar-benar terasa seperti di Indonesia.

“Duh, setiap kali ke KRI, seperti berasa sedang pulang kampung. Tidak sedang di Thailand,” ungkapnya.

Acara buka puasa di KRI Songkhla ini diadakan seminggu sekali, biasanya diadakan pada hari weekend, yaitu Sabtu. Tidak hanya untuk mahasiswa, sebutnya, seluruh masyarakat Indonesia yang ada di Thailand juga diundang oleh pihak konsulat dalam jamuan makan ini. Oleh karena itulah, hajatan ini diadakan seminggu sekali, karna yang datang tentu dalam jumlah banyak. Makanan yang harus disediakan juga dalam jumlah yang banyak.

“Saya kira, bapak-bapak dan ibu-ibu KRI ini sangat mengerti kami, mahasiswa-mahasiswa Indonesia, sehingga sering mengundang kami. Memang hanya seminggu sekali, tapi saya sangat menikmatinya,” jelas Eqi.

Menjalankan ibadah puasa di negeri orang memang punya kesan yang sangat berbeda. Terlebih lagi saat menjalan ibadah di tengah-tengah komunitas non muslim.  "Di sini kan banyak non muslim, jadi bulan Ramadhan seperti bulan biasa aja. Pada bulan Ramadhan bikin rindu kampung halaman," ujarnya.

"Beberapa hari lalu, saya pernah ditanyai oleh dosen saya tentang puasa. dia terkagum-kagum aja plus terkaget-kaget dengan kebiasaan umat muslim. Salat lima waktu,bangun terlalu pagi untuk sahur, menahan lapar untuk lebih kurang 14 jam," jelasnya.






Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close