Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Feature»Membingkai Harapan Abdullah Syafii Bersama Hasan Tiro


Membingkai Harapan Abdullah Syafii Bersama Hasan Tiro
Zulfurqan | The Globe Journal
Sabtu, 05 November 2016 07:13 WIB

4 Desember 1976 di Halimon, Pidie, Teungku Hasan Muhammad di Tiro (Hasan Tiro), mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Deklarasi ini merupakan wujud kekecewaannya karena “tingkah” tidak adil Indonesia.

Ulahnya itu membuat Indonesia memburunya. Tiga dekade lebih ia terpaksa menetap di Swedia. Hasan Tiro menjelma sebagai sosok fenomenal.

Setelah 30-an tahun memberontak,15 Agustus 2005 GAM dengan Republik Indonesia sepakat berdamai sehingga lahir MoU Helsinki. Salah satu hikmah tsunami 26 Desember 2004. Tragedi yang menelan ratusan ribu nyawa rakyat Aceh.

11 Oktober 2008, pesawat yang ditumpangi Hasan Tiro mendarat di Blang Bintang, Aceh Besar. Lelaki 83 tahun itu disambut bak pahlawan yang kembali dari medan perang.

Kini, sosok Hasan Tiro terbingkai di tengah ruang. Berstelan jas hitam, ia duduk diam. Sorot matanya mengarah ke atas, seperti orang yang tengah menyimak sesuatu. Jari tangan kanan dan kiri bersilangan. Warnanya kebiru-biruan bekas jarum infus. 

Berjarak satu meter dari Hasan Tiro, terpampang jelas wajah Panglima GAM, Tgk Abdullah Sayfii. Ia akrab disapa Tgk Lah. Karisma Tgk Lah terpancar dari dua bola matanya, penuh dengan harapan. Ia begitu dikagumi kalangan GAM.

Tgk Lah dikenal tegas. Tapi sikapnya sopan. Ia disegani musuh-musuhnya.

20 tahun ia memimpin gerilyawan GAM di kawasan Bireuen. Mobilitasnya tidak terdeteksi. Konon katanya ia memiliki ilmu bisa menghilangkan diri. Walaupun tidak pernah berlatih militer di Libya, seperti sejumlah anggota GAM lain, ia termasuk sosok yang sangat diperhitungkan.

Adapun Hasan Tiro menghembuskan nafas terakhirnya pada 3 Juni 2010. Sehari setelah memperoleh status kewarganegaraan Indonesia. Sedangkan Tgk Lah meninggal pada 22 Januari 2002 di Jiem-Jiem, Pidie Jaya, saat penyergapan oleh TNI. Istrinya dan lima anggota GAM turut wafat dalam penyerangan itu.

Pada Pameran dan Kritik Karya Rupa (Pakrikaru) 2 di Museum Aceh. Dua tokoh itu dipertemukan. Adalah Nourman Hidayat, pelukis dua sosok tersebut. 

Ketua DPW Humas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aceh itu mengatakan, keikutsertaannya di Pakrikaru 2 berdasarkan hasil pemilihan oleh pelukis senior di Aceh.

Lukisan Hasan Tiro adalah karya pertamanya. Sehingga, butuh tiga bulan untuk menyelesaikannya. Sedangkan sosok Tgk Lah ia lukis hanya dalam waktu tujuh jam.

“Seorang PKS melukis orang GAM. Terhormat. Harusnya yang melukis orang GAM, bukan PKS. He he he,” tuturnya kepada The Globe Journal beberapa waktu lalu sambil tertawa. 

Sambil duduk santai, Nourman mengatakan, Hasan Tiro dan Tgk Lah memiliki karisma tinggi. Alasan inilah yang membuatnya memilih mereka sebagai objek lukisan. Mimik wajah Hasan Tiro dan Tgk Lah ia peroleh dari foto.

Nourman memperhatikan secara detil setiap bagian foto yang akan dilukis. Sampai pada warna tangan Hasan Tiro yang nampak kebiru-biruan bekas infus. 

“Sketsa membutuhkan kejujuran,” pungkasnya. 

Menurutnya, setiap tokoh perlu didokumentasikan agar sejarah mereka tidak hilang. Tidak tangung-tanggung, Nourman menggunakan cat berkualitas tinggi pada lukisannya. Satu warna dalam botol kecil seharga Rp 300 ribu, kuasnya Rp 80 ribu. Katanya, lukisan dengan cat berkualitas tinggi, warnanya tidak akan pudar. Bahkan hingga ratusan tahun.

Tokoh lain yang ingin ia lukis seperti Cut Nyak Dhien, Malik Mahmud, serta tokoh di Aceh yang berpengaruh lainnya di Aceh. Bahkan Johan Harmen Rudolf Kohler, jenderal Belanda yang mati ditembak oleh pahlawan Aceh di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada 14 April 1873.

Nourman bertekad meluruskan sejarah Aceh melalui lukisan. Harapannya, ia bisa melukis sosok Cut Nyak Dhien dengan karakter yang sebenarnya. Bukan seorang Cut Nyak tanpa hijab.

Empat bulan ia mengobeservasi dan mewawancarai narasumber tentang sejarah Cut Nyak. Mulai dari karakter Cut Nyak, sampai motif baju yang ia pakai. 

Menurutnya, tanpa observasi, pelukis berisiko melakukan kesalahan menginterpretasikan sejarah seseorang. “Cut Nyak Dhien yang dilukis sekarang, saya yakin bukan dia,” tegas Nourman.

Murizal Hamzah, penulis buku Hasan Tiro: Jalan Panjang Menuju Damai Aceh, berpendapat, Hasan Tiro adalah “orang tua” yang sangat dihormati. Ketika ingin mewawancarai Hasan Tiro, bersama wartawan lain ia menyepakati tidak akan mencium tangannya. 

“Tapi saat bertemu (Hasan Tiro), kami cium tangannya. Kami menganggapnya sebagai orang tua,” pungkas jurnalis yang pernah lama menulis untuk The Globe Journal itu.

Ia menjelaskan, Hasan Tiro berintelektualitas tinggi yang mampu menulis puluhan buku. Hasan Tiro sangat menghargai orang yang sedang menyatakan pendapatnya. Begitu dihormati oleh orang sekelilingnya, Hasan Tiro merupakan sosok yang tegas, serius. 

Tambah Murizal, Hasan Tiro tidak pernah berjumpa dengan Tgk Lah. Namun, Hasan Tiro tetap menjadi panutan bagi Tgk Lah. Hubungan mereka layaknya seorang guru dan murid. 

Haekal Afifa, penerjemah Buku Aceh di Mata Dunia. Ia mengatakan, Hasan Tiro merupakan simbol perjuangan melawan kezaliman penguasa. Meskipun tidak pernah bertemu langsung, Haekal sangat hormat kepadanya. Demi Aceh, Hasan Tiro rela meninggalkan kemewahan. 

“Saat ini, Hasan Tiro dilupakan dan hanya dijadikan komoditi oleh sebagian orang untuk kepentingan politik,” pungkasnya.

Terkait hubungan Hasan Tiro dengan Tgk Lah, ia mengakui belum menemukan dokumen tentang itu.

Selain Hasan Tiro dan Tgk Lah, lukisan lain yang dipamerkan seperti tokoh dunia Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Jackie Chan, Bill Clinton, Kofi Annan, dan sebagainya. Ada juga lukisan yang berkaitan dengan lingkungan.

Pakrikaru 2 juga diikuti oleh Akmal Senja, Razuardi Essex, Suprianto, dan Zul M.S. Kegiatan ini diselenggarakan mulai 29 Oktober sampai 2 November 2016 lalu.

 

 

R1007D






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close