Logo The Globe Journal - Original
Promosi Pasang Iklan - Nomor HP Riswan
Follow Us on Twitter @theglobejournal | Untuk berita tercepat dan terhangat, ikuti Twitter kami @theglobejournal [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda. []

Breaking
News

Serambi»Feature»Kuala Seumanyam, Sebuah Kampung yang Pernah Hilang


Kuala Seumanyam, Sebuah Kampung yang Pernah Hilang
Muhajir Juli I The Globe Journal
Sabtu, 19 September 2015 01:38 WIB

Hujan deras mengguyur sepanjang perjalanan. Sudah sejak satu jam yang lalu, Zulfikar Muhammad, Direktur Koalisi NGO HAM terus-menerus menyulut rokok buatan begawan industri tembakau asal Surabaya.

Menjadi sopir tunggal dalam perjalanan penuh huja  lebat sepanjang jalan, bukanlah hal mudah. Sesekali Zulfikar harus menghentikan laju kendaraan, hanya untuk sekedar minum kopi, merokok dan kebutuhan lainnya.

bergerak dari Banda Aceh pada Minggu (13/9/2015) menuju Kuala Seumanyam (II) Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, menghabiskan waktu selama 12 jam. Rombongan jurnalis yang dibawa oleh pegiat lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, tiba di Kuala Seumanyam  menjelang pagi.

Sebelum tiba ke Gampong tua peninggalan endatu-kini terperangkap dalam HGU sebuah perusahaan sawit- berbagai “ujian” kerap menyertai rombongan. Mulai dari banjir saat melintasi Tripa, hingga mobil yang tiba-tiba mogok bagian “pergelangan kakinya” di tengah “hutan” sawit.

Nasir Buloh, salah seorang staf Walhi Aceh, di saat-saat seperti itu, selalu mengambil kamera. Menekan tombol on dan kemudian membidik. Hal serupa dia ulangi, ketika kami tidak diizinkan masuk ke Kuala Seumanyam oleh satpam penjaga portal.

“Bapak-bapak harus menghadap pos Brimob di dekat Pabrik Kelapa Sawit (PKS-red). Tidak jauh dari sini. Satu mobil saja. Mobil satu lagi, silahkan tunggu di sini saja,” kata seorang satpam dengan mimik wajah antara gundah dan curiga.

Zulfikar Muhammad segera menuju pos dimaksud. Di sana seorang lelaki bertubuh tambun, dipanggil Danton, sudah menunggu. Ditengah kondisi terbatasnya sinyal salah satu provider mainstream, Nasir mencoba menelpon penghubung di Kuala Seumayam.

Akhirnya rombongan diizinkan masuk, setelah Danton berbicara via telepon dengan Geuchik setempat-dia bicara sambil beranjak menjauhi kami.

***

Kuala Seumanyam hanya menempati wilayah seluas 1,5 hektar. Sebuah pemukiman yang berlokasi ditengah-tengah kepungan perkebunan sawit milik PT. Kalista Alam. Letak satu rumah dengan rumah lainnya berhimpitan. Tidak ada pagar. Pekarangan hanya satu atau dua meter saja. Desa ini tidak memiliki lahan perkuburan. Dulu-sebelum pihak perusahaan sawit berbaik hati- warga di sini harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer untuk menguburkan jenazah ke wilayah Kuala Seumayam lama. Kampung lama itu sendiri, mempunyai lahan artusan hektar, yang kini hampir semuanya masuk dalam HGU yang dikuasai oleh perusahaan sawit.

Jenazah harus dibawa melalui sungai. Tidak ada akses jalan. Apalagi jembatan. Jembatan lama –dibangun dari kayu- tidak bisa lagi dipakai karena meluasnya permukaan air.

Kini, sudah empat jenazah yang dikubur di lahan kecil pemberian perusahaan. Status tanahnya tidak jelas. Warga takut sewaktu-waktu PT akan mengambil kembali dan mereka akan kembali kehilangan martabat.

Hal lainnya, lokasi itu berada di bantaran sungai. “Potensi tergerus banjir besar sekali. Bagaimana jadinya bila kubur orang tua kami kelak dibawa air?,” ujar salah seorang warga.

Ishak, kira-kira berusia 50 tahun. Warga asli Kuala Seumanyam, kepada The Globe Journal bercerita. Awalnya Kuala Seumanyam berada di dekat pantai. Namun pada 2004 terjadi sebuah perang besar antara aparat keamanan dan pejuang kemerdekaan Aceh.

Warga terpojok dan melarikan diri ke hutan-hutan. Entah siapa yang melakukan, akhirnya perkampungan itu dibakar sampai habis. “yang tersisa hanya rumah sekolah dan sebuah meunasah tua,” ujar Ishak.

Pasca kejadian itu, tidak ada yang kembali ke kampung. Semua keluar mencari penghidupan baru.

Pada tahun 2007, Pemerintah daerah masuk membangun rumah. Semua warga Kuala Seumanyam dipanggil pulang. Pembangunan rumah panggung yang dirintis oleh Pemerintah tidak di kampung awal. Namun di areal seluas 1,5 hektar. Tanah itu dibeli dari warga sebuah kampung yang lokasinya ditengah-tengah HGU Kalista Alam.

Walau sudah dibeli dari perseorang oleh Pemerintah, sampai saat ini warga tidak tahu pasti tentang status tanah itu. apakah murni merdeka, ataukah masuk dalam cengkeraman Kalista Alam.

Menurut cerita warga, pastinya mereka tidak menguasai secara pribadi-pribadi tanah dan rumah di sana.

“Hari ini kami kosongkan, besok bisa saja orang lain masuk, tanpa bisa diprotes,” ujar seorang warga.

Dua Harapan Dari Warga

Senin (14/9/2015) Walhi menggelar rapat dengan multi stake holder di rumah Geuchik setempat yang bernama Muhammad. Namun di saat bersamaan banjir sejak semalaman terjadi di seantero wilayah barat Aceh. Termasuk juga di Nagan Raya. Alhasil, yang hadir hanya Koalisi NGO HAM, Walhi, perwakilan Koramil-kelak menjadi kompas bagi kami ketika rombongan terjebak banjir saat berusaha keluar dari Kuala Seumayam- beberapa wartawan serta warga di sana.

Busra, Sekretaris Desa Kuala Seumanyam, mewakili warga menyampaikan dua hal. Pertama ide perluasan wilayah gampong. Kedua kembali ke Kuala Seumayam lama, dengan catatan Pemerintah harus membangun jalan, jembatan dan rumah untuk warga.

“Usulan ini sudah lama kami sampaikan. Termasuk sudah menghadap berbagai stake holder di Nagan Raya. Namun belum berbuah hasil,” terang Busra.

Warga pernah mengajukan ide itu ke pihak perusahaan sawit. Namun saat itu pihak PT Kalista Alam menyebutkan bahwa mereka mau saja memberikan empat atau lima hektar tanah. Namun warga harus membayar biaya ganti rugi. Per batang sawit dihargai Rp 8.000.000. total semua, menurut hitungan warga mencapai 1 milyar rupiah.

“Dari mana kami uang sebanyak itu?,” tambah Busra.

Pada Limbek Menggantungkan Ekonomi

Mayoritas warga Kuala Seumanyam adalah petani. Namun tidak semua orang memiliki lahan. Tanah garapan di Kuala Seumanyam lama kini bersengketa dengan pemilik HGU.

Jaringan Rawa Tripa dan sungai berair hitam menjadi alternatif untuk mencari uang. Hasil utamanya adalah lokan dan ikan lele kampung yang disebut limbek.

“kalau musim hujan dan rawa penuh air, kita bisa panen banyak. Tapi kalau musim kemarau dan rawa mengering, mencari dua ekor pun sulitnya minta ampun,” terang seorang warga.

Geuchik setempat menjadi agen pengumpul limbek. Per kilogram dihargai Rp 40 ribu. Ditangannya, limbek berukuran kecil dibelah dan diasapi. Limbek besar dijual hidup-hidup kepada pembeli dari kota.

Walau Rawa Tripa dikenal sebagai rumah bagi lele alam, namun kini prestasi itu sudah meredup. Hadirnya perkebunan sawit ke kawasan lindung itu, telah membuat ekositem rusak.

Limbek mulai menyusut. Lokan berkurang. Ular berukuran besar kerap muncul ke permukaan air. Banjir, kini sudah menjadi santapan utama warga di sana.

Di Kuala Seumanyam (II-red) setiap rumah memiliki alat perangkap ikan berupa rajutan bambu yang dibuat sedemikian rupa. Namanya dalam bahasa Aceh bube atau bubu dalam bahasa Indonesia.

“Alat tangkap ikan tradisional itu, tidak merusak regenerasi limbek. Hanya ukuran tertentus saja yang terjebak dalam perangkap ini,” kata Mat.

***

Dalam perjalanan pulang, setelah berjam-jam mencari jalan tikus untuk menghindari banjir-walau beberapa kali kami harus mengarungi air deras yang sedang meninggi- minda ini kembali mengenang kondisi Kuala Seumanyam (II) yang nyaris tanpa pembangunan. Tidak ada jalan aspal. Satu-satunya kemerdekaan-mungkin- karena adanya jaringan listrik PLN. Sinyal handpone? Terkadang harus mengikat hp pada tiang tinggi dan kemudian berbicara sambil menghidupkan speaker. Tentu sebuah hal mustahil bagi mereka yang sedang bicara masalah hati.

Ditengah gempuran dana Otsus Aceh 2015 sebesar Rp 7,0 triliun, mereka tidak mempunyai fasilitas yang memadai. Air yang dikonsumsi berasal dari rawa. Di beberapa titik dibangun sumur bor, namun kualitas airnya tidak begitu mengembirakan.

Fasilitas seperti sekolah juga jauh. Sehingga bagi yang keukeuh tinggal di sana, paling hebat mereka hanya mampu sekolah sampai SMP saja.

Generasi usia sekolah di sana juga kerap harus libur, karena ketika banjir datang, bus sekolah tidak bisa masuk ke sana. Sebuah percakapan singkat dengan bocah berbaju merah kembali terlintas.

“kenapa tidak sekolah, Dik,” tanya saya kepada seorang anak kecil yang tidak mau menyebutkan namanya.

“Mobil gak bisa masuk bang. Kan banjir. Tiap banjir saya tidak sekolah,” katanya polos.

Saya juga mencatat hal menarik lainnya. jangan coba-coba bertandang malam-malam ke kampung itu. urusannya pasti akan rumit. Satpam dan aparat keamanan akan mempersulit-bahkan sering pula tidak memberi izin- untuk masuk ke sana.

“Kampung itu benar-benar belum merasakan kemerdekaan RI. Padahal Republik ini sudah berusia 70 tahun,” celetuk Nasir ketika kami kembali bertemu di Banda Aceh, Kamis (17/9/2015). Duh! []

 

 

 






Twitter TGJ 3
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Cities

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close