Panggung politik dunia barat kaget dengan putusan Palestina yang berupaya mencari suaka untuk menduduki kursi PBB. Amerika Serikat yang begitu menganakemaskan Israel gila-gilaan menghadang niat ini. Di bawah kepemimpinan Obama, AS ingin mengeluarkan hak vetonya untuk mencegat Palestina.
Ada hal menarik yang tampil di public selama Palestina mengukuhkan diri ingin menuju kursi PBB. Sejumlah negara anggota PBB berdua hati. Pastinya beberapa anggota PBB yang berada di belahan Timur, khususnya jazirah arab memberikan dukungan penuh untuk Palestina. Salah satunya tentulah Indonesia.
Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa mengatakan pihaknya menggalang dukungan negara-negara yang tergabung dalam Gerakan Non-Blok dan Organisasi Konferensi Islam untuk membantu Palestina menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Posisi Indonesia jelas sangat mendukung upaya Palestina tersebut baik sebagai suatu negara maupun bahkan kita menggalang posisi negara-negara anggota Gerakan Non-Blok misalnya dan juga anggota OKI untuk menyuarakan hal yang sama," kata Marty.
Namun dukungan yang sangat diperlukan Palestina untuk menjadi anggota penuh PBB adalah di tingkat Dewan Keamanan. Palestina harus didukung setidaknya sembilan negara anggota tidak tetap Dewan Keamanan dan tidak boleh diveto oleh anggota manapun. Akan berat jika “warning” AS ternyata benar-benar dilakukan.
Di Bawah Tekanan AS
Sejauh ini Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah menegaskan negaranya yang menjadi salah satu anggota tetap Dewan Keamanan dan menjadi sekutu dekat Israel, akan memveto permohonan Palestina menjadi anggota tetap PBB.
Meski begitu, lanjut Marty, dukungan negara-negara lain tetap diperlukan untuk menjajaki kemungkinan lain yang bisa ditempuh Palestina.
"Kita perlu memastikan bahwa negara-negara anggota Gerakan Non-Blok di Dewan Keamanan PBB menunjukkan sikap yang tegas dan konsisten," kata Menlu lewat sambungan telpon dari New York.
Oleh karena itu, Gerakan Non-Blok dan Komite Palestina mengadakan pertemuan di sela-sela sidang PBB di New York untuk membahas hal tersebut. Negara-negara anggota Non-Blok yang saat ini duduk di Dewan Keamanan PBB adalah India, Kolombia, Libanon, Nigeria, Gabon, dan Afrika Selatan. Anggota tidak tetap lainnya adalah Brasil, Portugal, dan Bosnia-Herzegovina.
Hingga saat ini belum ada jaminan bahwa keenam anggota Non-Blok yang duduk di Dewan Keamanan akan memberikan suara bagi Palestina terutama di tengah tekanan dan lobi berbagai pihak.
Secara formal, negara-negara anggota dalam pertemuan Gerakan Non-Blok di Bali Mei lalu telah diarahkan untuk memberikan pengakuan kepada Palestina dan mendukung upaya Palestina.
"Sangat janggal ketika sebagian besar negara di Timur Tengah ada perubahan ke arah perbaikan justru bangsa Palestina yang telah berpuluhan tahun tidak ada kemajuan, tetap dalam kondisi demikian".
Menurut Marty Natalegawa, bila permohonan keanggotaan Palestina benar-benar mendapat veto Amerika, masih terbuka opsi-opsi lain, misalnya membawa persoalan ini ke Sidang Majelis Umum PBB.
Bila jalur ini ditempuh tentu saja Palestina tidak bisa menjadi anggota penuh karena masalah keanggotaan suatu entitas sebagai negara di PBB mengharuskan adanya rekomendasi dari Dewan Keamanan PBB.
"Sehingga langkah yang ditempuh di Sidang Majelis Umum PBB itu sifatnya tidak untuk menjadi anggota PBB melainkan mungkin sebagai negara peninjau PBB," kata Menlu.
Marty menggambarkan masalah Palestina ini menjadi agenda pembahasan intensif dalam pertemuan-pertemuan formal maupun pertemuan di koridor markas besar PBB dan acapkali diwarnai pendekatan bahkan tekanan untuk meyakinkan pihak lain.
Namun, lanjutnya, pada umumnya anggota PBB sependapat masalah prinsip tidak bisa dikompromikan.
"Apalagi sekarang di kawasan Timur Tengah dan Afrika utara yang semakin berubah dengan adanya yang dinamakan Arab Spring, demokratisasi."
"Sangat janggal ketika sebagian besar negara di Timur Tengah ada perubahan ke arah perbaikan justru bangsa Palestina tidak ada kemajuan, tetap dalam kondisi demikian," tuturnya.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas secara resmi akan mengajukan permohonan Palestina menjadi anggota tetap PBB hari Jumat (23/9) dini hari.
Survey BBC Dukung Palestina
Di lain sisi, jajak pendapat global yang dilakukan BBC memperlihatkan lebih banyak yang mendukung pengakuan PBB atas Palestina sebagai negara merdeka. Di 19 negara yang disurvei, 49% mendukung usulan negara Palestina sebagai anggota PBB sementara 21% menyatakan pemerintah mereka sebaiknya menolak.
Jajak pendapat yang dilakukan BBC dan GlobeScan, menunjukkan dukungan di empat negara yang berpenduduk mayoritas Islam. Kendati demikian, China yang berfaham komunis juga mendukung kebebasan Palestina. Menariknya, warga Amerika justru mendukung keinginan tersebut. Sedikitnya, 45% warga Amerika mendukung resolusi itu dan 36 persen menolaknya.
Di Indonesia, jumlah dukungan untuk Palestina tak lebih dari 51 persen. Jauh dari harapan bahwa tingginya penganut Islam di Indonesia. Dukungan rendah lainnya berasal dari India dengan persentase 32% mendukung serta 25% menolak. Sementara itu, dukungan yang paling kuat tercatat di Mesir, dengan 90% mendukung dan hanya 9% menentang.
Di negara-negara Islam lainnya, Turki mencatat 60% dukungan dan 19% menolak, sementara Pakistan 52% mendukung dengan 12% menolak.
Di tiga negara utama Uni Eropa juga tercatat lebih banyak yang mendukung keanggotaan Palestina di PBB: Prancis (54% mendukung, 20% menentang), Jerman (53% dan 28%) serta Inggris Raya (53% dan 26%). (Yul-BBC)