Masuk pesan singkat melalui SMS tentang peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke-35 yang dipusatkan di Komplek Makam Tgk. Chik Di Tiro, Desa Meureu Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Sabtu (03/12). Tak jauh dari Banda Aceh, hanya berjarak lebih kurang sekitar 30 km. Pagi, Minggu Pukul 08.00 WIB, 4 Desember 2011 kami beranjak menuju lokasi itu.
Karena terbayang para undangan bakal ramai memadati lokasi, untuk menghindari macet dan antrian panjang kami pacu roda dua. Sampai di Jembatan Indrapuri, umbul-umbul Partai Aceh berkibar bak bendera.
Lalu kami masuk ke Desa Meureu. Jalan di perkampungan yang terkadang bikin kesal karena ada “polisi tidur” apalagi ruas jalannya kecil dan sempit.
Sampai disimpang tiga, kami belok ke kanan. Dipersimpangan itu terlihat banyak mobil patroli polisi, berseragam lengkap.
Bertanya dalam hati, ada apa gerangan ? kondisi perkampungan juga relatif sepi. Tekad kami terus berlalu hingga pukul 09.00 WIB tiba di lokasi. Saat itu tamu undangan dan masyarakat masih terlihat sepi.
Syukur belum terlambat. Kamipun turun dari motor dengan menggandeng tas yang berisi Notebook dan Kamera. Langsung saja ditegur petugas keamanan yang fasih berbahasa Aceh. “dari pat awak droeuneh, (red- dari mana kalian),” kata petugas itu. Setelah memperlihatkan ID Card, lalu kami dipersilahkan masuk.
Tampak di sekeliling komplek makam ada juga petugas Kepolisian dengan seragam lengkap sedang berjaga-jaga di pintu gerbang.
Alunan suara zikir dan doa yang dibacakan Tgk. Imum di meunasah komplek makam mengiringi proses peringatan Milad GAM ke 35 tahun ini.
Terasa gerah memang, sampai pukul 10.00 WIB, petinggi KPA dan Partai Aceh itu belum datang juga. Lalu terdengar suara mesin dari atas, oh ternyata sebuah helikopter milik Kepolisian sedang memantau perayaan Milad GAM ke-35 ini. Suara “mesin capung” itu menjadi bisikan hangat pengunjung dan menjadi perhatian khusus bagi masyarakat Desa Meureu, Aceh Besar.
Helikopter itu mondar-mandir tiga kali, jaraknya sangat dekat dan jelas terlihat oleh mata kita, hingga akhirnya berlalu sampai petinggi KPA dan Partai Aceh tiba tepat pukul 10.23 WIB.
Ribuan masyarakat dari seluruh Aceh mulai berdatangan dan memadati komplek Makam Tgk. Chik Di Tiro. Panitia juga terlihat sangat sibuk mengatur hidangan makanan.
Panitia langsung saja membuka acara yang ditunggu-tunggu itu. Sebelum membuka acara, panitia mengajak semua hadirin dan undangan untuk berdiri dengan bacaan zikir dan doa.
Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an mengawali pembukaan Milad GAM itu. Kemudian dilanjutkan dengan laporan dari Ketua Panitia oleh Said Fakhrurazi. Ia melaporkan bahwa perayaan Milad GAM Ke-35 ini tidak dibuat struktur panitia secara khusus dan kegiatan ini murni dari antusias masyarakat yang ingin memmperingati Milad GAM ke 35.
Selanjutnya pemberian santunan kepada 35 orang anak-anak yatim. Menurut protokoler acara, santunan diberikan untuk 35 orang anak yatim karena Milad GAM tahun ini adalah yang ke-35. Zaini Abdullah, Ketua KPA Aceh Besar dan petinggi PA turut memberikan santunan secara simbolis kepada anak-anak yatim tersebut.
Baru kemudian
“Peunutoh” dari mantan Panglima GAM yang kini sebagai Ketua KPA Pusat, Mualim Muzakir Manaf. Pengawalan untuk orang nomor satu di KPA ini sangat rapat hingga diatas mimbar sekalipun tetap lima orang pasukan seragam tentra dan poulisi GAM lengkap.
Intinya pada “Peunutoh” itu Muzakkir Manaf berpesan agar rakyat Aceh harus terus menjaga perdamaian Aceh sampai kapanpun.
Kesempatan yang ditunggu-tunggu. Wali Nanggroe, Malik Mahmud ke atas mimbar dan lima orang pasukan khusus GAM berbaris dibelakangnya.
Pidato Wali Nanggroe lumayan panjang, intisarinya juga sangat berkomitmen jaga perdamaian Aceh.
Setelah itu baru dilanjutkan dengan pembacaan zikir dan doa bersama yang dipandu oleh Tgk. Abu Junaidi di dalam komplek makam yang luasnya hampir 3.000 meter persegi. Proses doa berlangsung khidmat.
Sekira pukul 12.10 WIB, peringatan Milad GAM ke-35 pun berakhir dengan disambangi jamuan makan siang. Selamat ...