THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Feature»Harus Ada Daging Dirumah Kita, Tradisi "Uroe Meugang" di Aceh


Harus Ada Daging Dirumah Kita, Tradisi "Uroe Meugang" di Aceh
Firman Hidayat | The Globe Journal
Jum`at, 04 November 2011 00:00 WIB
Tanpa terasa kita sudah merayakan Hari Raya Idul Adha atau lazim disebut sebagai Hari Raya Kurban atau Hari Raya Haji. Seluruh umat Islam melakukan penyembelihan hewan kurban, termasuk kita bersama keluarga kita. Tak dapat berkurban, asalkan daging harus ada dirumah. Kurban adalah bagian dari ibadah pada Hari Raya Idul Adha. Tujuaannya untuk mendekatkan diri dan mencari ridha Allah SWT. 

Di Aceh, ada tradisi “uroe meugang” (red- hari daging) namanya. Tradisi itu kerap dilakukan dua hari sebelum hari raya atau saat menyambut bulan suci ramadhan. Tradisi ini suatu keharusan yang mesti dilakukan. Tak ada uang, “uroe meugang” tetap ada. 

Dua hari sebelum bulan puasa atau hari raya misalnya, penjual dan pedagang daging sapi, kerbau, kambing, sudah bersiap-siap di jauh hari sebelumnya. Pasar-pasar tradisional atau pasar tumpah dipadati penjual daging dan disesaki pembeli. Tradisi ini tidak hanya orang kaya yang merayakannya tapi bagi orang yang tidak mampu juga merayakan “uroe meugang”. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin saat tradisi itu digelar. 

Konon lagi nilai tukar petani ternak menurut data statistik Aceh cenderung selalu tidak membaik. Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Syech Suhaimi sering mengatakan pedagang daging di Aceh itu selalu rugi tidak pernah untung. Sulit bagi petani ternak untuk berkembang di Aceh. Namun tradisi “uruoe meugang” bak hari kemenangan bagi penjual dan pedagang daging di Aceh. 

Data sementara statistik Aceh juga menyebutkan populasi sapi dan kerbau di Aceh sebanyak 589.217 ekor. “Kemungkinan angka itu bisa bertambah tapi tidak terlalu besar,” kata Syech Suhaimi.  Angka yang disajikan statistik Aceh itu jauh berbeda dengan data dari Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh. 

Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, Murtadha Sulaiman pernah mengatakan populasi sapi dan kerbau di Aceh diperkirakan sudah mencapai satu juta ekor lebih. Riciannya ada 700.000 ekor sapi dan 300.000 ekor kerbau yang tersebar di 23 kabupaten kota di Aceh. 

Melihat perkembangan populasi sapi dan kerbau dengan keharusan tradisi “uroe meugang” dalam menyambut hari-hari besar Islam di Aceh bisa dikatakan populasi cenderung berkurang dan juga bisa dikatakan cenderung meningkat. Belum lagi Aceh juga pernah menerima sapi impor Australia (brahman gros) dan sapi bali. 

Ketersediaan sapi dan kerbau di Aceh seharusnya merupakan urusan wajib dijaga dan dipantau oleh Pemerintah Aceh. Jika tidak terkontrol maka populasi sapi dan kerbau berkurang sehingga tradisi “uruo meugang” juga mungkin lenyap secara perlahan. Artinya ketersediaan daging urusan wajib bagi pemerintah dan harus ada di rumah-rumah kita. 

Bagi orang Aceh yang ada dirantau, tradisi “uroe meugang” tidak bisa dilupakan. Kadang sangat menyedihkan jika tradisi ini terlewatkan. Ingat orang tua di kampung, ingat saudara di kampung, sungguh indah merayakan “uruoe meugang” bersama di kampung. "Pulanglah nak, ngak ada uang, ngutang aja dulu, yang penting kita bisa merayakan bersama". Sebuah kalimat pendek orang tua yang sangat rindu anaknya dirantau agar segera pulang, sering kita dengar. 

Tradisi ini sudah sejak zaman kerajaan di Aceh. Saat konflik saja, tradisi ini harus ada. Setiap rumah tercium aroma wangi “bak parfum” tapi masakan daging yang diracik dengan bumbu-bumbu khas Aceh. Wangi semerbak, sedap dirasa dan enak disantap. 

Bagi kita atas nama orang Aceh, “uroe meugang” menjadi tradisi. Meskipun kita jauh, sedapat mungkin walaupun hanya perayaan kecil dengan seekor burung atau ayam kampung, yang pasti tradisi “uroe meugang” urusan harus ada dan urusan wajib dipertahankan. Ini yang bedakan Aceh dengan daerah lainnya. Semoga hingga sampai ke anak cucu kita.






Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close