
Ketika Polisi Melawan Eksekusi Hukum Cambuk di Sabang
Fatin - Mikha Berduet Bikin Fans X-Factor Sirik
Duet Fatin-Mikha Siap Bawakan Lagu 'Good Time'Banda Aceh - Berkumpul bersama keluarga saat berbuka dan sahur menjadi tradisi tersendiri di bulan Ramadhan ini. Tidak hanya itu, kebiasaan lain seperti menghabiskan waktu di sore hari sambil mencari berbagai menu untuk berbuka puasa juga bukan lagi hal baru.
Namun, apa jadinya jika menjalankan ibadah di bulan suci dilakukan di negara yang notabene minoritas muslim? The Globe Journal mewawancarai Okvita Mauviza, mahasiswi asal Aceh di Universitas Fukui Jepang, Kamis (2/8).
“Ini puasa pertama di Jepang. Di sini panas. Lebih panas dari di Aceh. Yah, puasa di kalangan orang yang nggak puasa,” ungkapnya saat di wawancarai lewat jejaring sosial.
Vita-sapaannya- mengatakan bahwa di Jepang sedang musim panas, sehingga dia menjalankan ibadah puasa 3 jam lebih lama dari Indonesia. Terlebih, ditempatnya tinggal, hanya dia sendiri yang menjalankan ibadah puasa. “Jadi kalau sahur sama buka ya masak sendiri. Tarawehpun sendiri di asrama,” katanya.
“Beda kalau puasa di Aceh. Di rumah aku sahur ngak pernah masak sendiri. Buka juga bisa rame-rame bareng keluarga,” sambungnya.
Karena sendiri, bagi Vita menu saat sahur sama dengan menu saat berbuka puasa. Vita biasa memasak lebih saat buka puasa, sehingga saat sahur tiba dia tinggal memanaskan kembali lauknya. “Wah menu makannya beda-beda, tergantung mood mau masak apa,” ungkapnya.
Bagi Vita sendiri, tidak ada kendala yang berarti saat menjalankan puasa di Negeri Matahari Terbit itu. Meskipun sedang musim panas, mahasiswi Jurusan Teknik Universitas Fukui tersebut tetap menjalani kegiatan sama seperti bulan-bulan sebelumnya.
Bahkan, dia pernah ditanyai oleh teman-temannya tentang ibadah yang tengah dijalani oleh umat islam tersebut. “Mereka tanya, apa aku nggak makan dan minum satu bulan? Terus tetap ngelakuin kegiatan yang sama seperti sebelumnya? Jadi kenapa kamu nggak mati?” ujar vita sambil menyebut satu-persatu pertanyaan yang dilontarkan teman-teman kepadanya.
Mahasiswi UFSEP (University of Fukui Student Exchange Program) itu mengaku kerap merindukan suasana berpuasa di kampung halaman. Baginya nuansa berpuasa di negeri orang terasa berbeda dengan yang dijalankan di Aceh.
“Lebih enak puasa di Aceh. Di sini sepi. Kangen masa-masa ngabuburit nyari makanan sore-sore,” tuturnya.
