
JK Dukung Bantuan Langsung Sementara
Eyang Subur Diminta Ikuti Fatwa MUIBelanda-Beberapa pria dan wanita berwajah Asia dan Eropa berjalan santai menuju gedung Clingendael Netherlands Institute. Dari percakapannya diketahui sebagai para peserta "International Human Rights Training”.
Dalam bangunan itu, di sebuah ruangan pertemuan, 5 pria undangan VIP memberikan kata sambutan. Sebagai diplomat resmi, duta besar Bolivia untuk Belanda didaulat untuk berpidato, selanjutnya direktur Clingendael Netherlands Institute, ketua Unpresented Nations and Peoples Organization (UNPO), ketua Netherlands Centre for Indigenous Peoples (NCIV) dan walikota kota Den Haag.
Pagi itu, Rabu (8/8), beberapa perwakilan anggota UNPO mengadakan pelatihan hak asasi manusia (HAM) di bangunan Cligendael Institute, Den Haag, Belanda.
”Saya warga Belanda, Ibu orang Maluku dan Ayah orang Belanda” ujar Sipora Suripatty memperkenalkan diri kepada peserta.
”Saya bekerja di UNPO sebagai sekretaris dalam acara internasional ini” tambahnya sambil membeberkan singkat informasi jika Maluku punya hubungan sejarah panjang dengan Belanda.
Bagi warga Aceh, Papua dan Maluku, nama Belanda memang tidak asing lagi. Bahkan, generasi mereka tidak sedikit bermukim di berbagai pelosok kota di Belanda.
Nama UNPO juga sudah menjadi familar bagi mereka yang dipengasingan. Pelatihan Speakout! 2012 ini adalah even tahunan yang keempat kalinya, tahun ini giliran UNPO memfokuskan pelatihan HAM kepada generasi muda.
Beberapa diantaranya pemudi Zimbabwe representatif dari UNPO Brussel, aktivis untuk Tibet, The Young Assyrians in Australia, Anne Frank House Netherland, Nuria Andreu Spain, Hmong Federation People Assembly, Khmer Krom Cambodia, political advisor for Internatonal Affairs Republic of Kosovo, Swedish Achehnese Association, Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF), serta beberapa mahasiswa asal Jerman dan Belanda kandidat Master jurusan hubungan internasional.
Dari meja melingkar itu, duduk beberapa peserta yang mewakili bangsanya. Setelah mendengarkan pidato giliran semua peserta memberikan pengenalan. Sejurus kemudian, wajah serius mulai terlihat. Beruntung, dengan adanya kemudahan tekhnologi, bagi peserta juga dibenarkan menggunakan konferensi alam maya.
Perwakilan Aceh memamfaatkannya dengan membuka telepon gratis sambungan internet, Skype. Bukan hanya mendengar namun juga dapat melihat langsung melalui kamera tentang pelatihan HAM SpeakOut! 2012, langsung dari Den Haag, Belanda.
Acara seperti ini sebenarnya bisa sebagai batu loncatan untuk membangun jaringan dengan NGO internasional.
”Konsultasi pengalaman kepada negara yang sudah merdeka seperti Kosovo sangat diperlukan” ujar mentor memberikan tips kepada peserta. Hampir serupa dengan diskusi di bangku perkuliahan, peserta lain menimpali dukungannya.
”Pengetahuan yang didapatkan saat ini tidak ditemui dalam bangku persekolahan. Selain itu, ada beberapa hal yang bisa diinformasikan, begitu juga ada hal yang tidak boleh dipublikasikan ke publik” timpal mentor lain saat mengawali diskusi.
Acara di kota Den Haag itu mempunyai arti besar bagi aktivis ASNLF. Setelah sebelumnya sempat "lolos" berhasil memasuki gedung PBB urusan HAM di Jenewa dalam sidang UPR (Universal Periodic Review) akhir Mei lalu, selanjutnya sebulan kemudian memenuhi undangan untuk berdialog dengan sebuah LSM dan lembaga kemanusiaan Internasional di kota dan negara yang sama, kini giliran mendapatkan pelatihan pendidikan HAM tingkat internasional dari Unpresented Nations and Peoples Organization (UNPO). Menyadari akan kelangsungan perjuangan yang panjang, regenerasi untuk mencetak aktivis baru bagi ASNLF sedang dipersiapkan.
Kaderisasi
Bak kata pepatah "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya". Adalah Zainuddin, putra Yusuf Daud sekaligus cucu Almarhun Tgk Daud Husein, mantan panglima pertama GAM. Sama seperti bapak dan kakeknya, Zainuddin mulai fokus membantu perjuangan Aceh saat usia remaja memasuki dewasa.
Bedanya, Zainuddin lahir dan besar di Swedia dan pengetahuannya tentang wawasan Aceh sudah dirasakan cukup untuk diterjunkan kedalam forum yang menyentuh masalah Aceh di luar negeri.
Saat ini, Zainuddin duduk di bangku kuliah semester 3, universitas Stockholm, jurusan ekonomi nasional dan ilmu politik. Dalam even pelatihan HAM yang disponsori oleh UNPO Belanda, baginya ini adalah even pertamanya untuk mulai masuk dalam kancah politik taraf internasional.
Selain selalu menggunakan bahasa Ibunya bahasa Aceh, Zainuddin juga menguasai 3 bahasa aktif lainnya yaitu bahasa Swedia, Inggris dan Spanyol.
"Bahasa Spanyol mulai saya pelajari 7 tahun yang lalu saat duduk di kelas 6 sekolah dasar, kalau bahasa Inggris sudah sejak SMP, bahasa Swedia sejak masuk TK dan bahasa Aceh komunikasi dirumah" jelas Zainuddin saat akhir acara SpeakOut 2012! pada hari pertama.
Kamis, 16 Mei 2013 21:22 WIBPejuang Palestina Tembakan Rudal ke Israel