
Banda Aceh – Direktorat Riset dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Pusat, M. Noor Nugroho mengatakan target inflasi yang ditentukan pemerintah tahun 2012 ini tanpa ada wacana soal kenaikan BBM tahun 2012. “Artinya ada perubahan untuk target inflasi tersebut,” kata M. Noor.
Saat ditemui The Globe Journal, Rabu (28/3) usai memberikan materi dalam pelatihan jurnalis ekonomi yang digagas AJI Banda Aceh dengan Bank Indonesia di Hotel The Pade mengatakan Pemerintah sudah menetapkan target inflasi 2012 mencapai 4,5 persen plus 1 persen, artinya jika inflasi tahun 2012 ini terjadi antara 3,5 persen sampai 5,5 persen berarti sudah sesuai dengan target.
Ia menambahkan tugas Bank Indonesia adalah mengontrol dan menjalankan target tersebut. Antisipasi terhadap inflasi ini dilakukan Bank Indonesia dengan beberapa instrument, yaitu intervensi valas, biro wajib minimum. “Sedangkan BI Rate itu senjata teakhir Bank Indonesia untuk menekan inflasi,” kata M. Noor Nugroho.
Saat ditanya pengaruh kenaikan BBM terhadap target inflasi ini, M. Noor mengatakan target inflasi 2012 ini ditetapkan pemerintah tahun 2011, sehingga pemerintah belum ada wacana menaikkan BBM tahun 2012. “Soal target inflasi ini ada kemungkinan berubah, saya belum tahu kapan,” kata dia menyakinkan.
Menurut Bank Indonesia kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.
Inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.
Selasa, 21 Mei 2013 20:18 WIBPesawat AS Yang Mendarat di Aceh Itu Memang Kesasar