
Ia mengakui ada beberapa negara yang tidak mau melanjutkan lagi programnya di Aceh. “Saya tidak ingat, tapi yang saya ingat itu adalah Belanda,” kata Setia Budi. Sedangkan Selandia Baru masih ingin melanjutkan programnya di Aceh.
T. Setia Budi pun tidak bisa menyebutkan alasannya, namun ia mengatakan secara gabungan dalam MDF bahwa Belanda sudah berkomitmen keluar dan tidak mau melanjutkan programnya di Aceh, tapi secara bilateral bahwa Belanda tetap ingin membangun Aceh kedepannya.
Ia mengatakan sebelumnya Belanda sangat besar berkontribusi untuk membangun Aceh Nias selama tergabung dalam Multi Donor Fund (MDF). Uang hibah yang dibantu oleh Pemerintah Belanda berjumlah US$146 juta untuk membangun Aceh dan Nias.
Dari 15 negara yang tergabung dalam MDF, 12 diantaranya berasal dari negara-negara eropa, yaitu Belanda, Inggris, Kanada, Swedia, Norwegia, Denmark, Jerman, Belgia, Finlandia, Amerika Serikat, Selandia Baru dan Irlandia.
Sedangkan tiga lagi merupakan lembaga donor, seperti World Bank, Uni Eropa dan Bank Pembangunan Asia.
Data yang dihimpun The Globe Journal, Irlandia paling sedikit berkontribusi membangun rehab rekon Aceh Nias dengan US$ 1,20 juta. Disusul Selandia Baru sebesar US$8,80 juta.
Sedangkan negara eropa penyumbang dana hibah terbesar untuk Aceh Nias adalah Belanda sebesar US$146,20 juta. Kemudian disusul Inggris dengan US$68,50 juta.
