THE GLOBE JOURNAL
PT. THE GLOBE JOURNAL, penerbit Koran Online THE GLOBE JOURNAL bertekad untuk terus melakukan inovasi mengembangkan media yang sangat diminati sejak 2007 ini. Untuk itu kami mencari INVESTOR, SPONSOR, PARTNER untuk bekerjasama dengan tim kami dalam mengembangkan bisnis di sektor media, periklanan, printing, teknologi, dan mice yang sangat potensial. Jika Anda tertarik untuk bekerjasama dengan kami, silahkan kirimkan informasi ketertarikan Anda ke email: e.rxdhi@gmail.com atau Hotline 0819-7390-0730. [] WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL tidak dibenarkan untuk meminta dan/atau menerima apapun dari nara sumber baik dalam bentuk amplop, uang, honor, biaya transportasi, biaya akomodasi, hadiah, dan berbagai bentuk gratifikasi lainnya. [] Jika Anda mempunyai berita atau informasi yang ingin diterbitkan di Koran Online THE GLOBE JOURNAL, silahkan mengirimkankan langsung ke email redaksi@theglobejournal.com atau via fax 0651-7557304. [] LAYANAN PELANGGAN: Jika Anda mengetahui dan memiliki informasi tentang WARTAWAN dan PEWARTA FOTO Koran Online THE GLOBE JOURNAL yang bekerja dengan melanggar Kode Etik Jurnalistik dan/atau mengambil berbagai bentuk gratifikasi dari narasumber, Anda dipersilahkan untuk mengirimkan SMS ke HOTLINE 0819-7390-0730 [] Untuk pemasangan Iklan dan Pariwara serta Kerjasama lainnya dapat langsung disampaikan ke Markerting Koran Online THE GLOBE JOURNAL di Telp 0651-7414556, 7557304 atau HOTLINE 08190-7390-0730. Tim Marketing THE GLOBE JOURNAL akan segera menghubungi Anda untuk tindaklanjutnya. []

Breaking
News

Serambi»Cities»Unsyiah Paparkan Hasil Tiga Penelitian


Unsyiah Paparkan Hasil Tiga Penelitian
Hayatullah Zuboidi | The Globe Journal
Jum`at, 10 Agustus 2012 21:49 WIB

Banda Aceh - Lembaga Pusat Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik (Center for Peace and Conflict Resolution Studies (CPCRS) Unsyiah baru saja selesaikan tiga penelitian.diantaranya Potensi Konflik Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) oleh dr. Safrida, Miskinnya Keterwakilan Perempuan di Partai Politik dan Lembaga legislatif oleh Nursiti, dan Potret Orang Kampung dengan Orang Kampung oleh Nanda Amalia SH M.Hum.

Menurut dr. Safrida sebagai sebuah kebijakan publik, maka JKA memang sesuatu yang sangat membantu dalam penguatan perdamaian di Aceh. Pasalnya program tersebut diperuntukkan bagi semua kalangan, termasuk korban konflik dan mantan kombatan. Program itu juga sangat strategis dan bahkan dijadikan salah satu faktor penting oleh para kandidat dalam pemilukada yang lalu. Itu sebabnya semua calon gubernur mengatakan bahwa jika terpilih, mereka akan melanjutkan program JKA.

Sementara masyarakat menganggap JKA sebagai sebuah solusi cerdas atas ketidakmudahan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan pada masa konflik dan masa-masa setelah persetujuan damai Aceh dicapai. Tetapi pada tahap implementasi, terjadi sejumlah gesekan antara warga masyarakat sebagai pengguna dengan instansi-instansi terkait dari pemerintah sebagai pemberi jasa.

Dalam beberapa kasus terlihat lemahnya koordinasi di kalangan instansi pemerintahan, sehingga terjadi beberapa penolakan pelayanan oleh rumah sakit atau puskesmas. Sementara di kalangan masyarakat sendiri, ada yang belum sepenuhnya memahami secara tepat mengenai JKA tersebut.

"Dari temuan kami di lapangan, tak ada pilihan lain selain bahwa program JKA itu tetap dilanjutkan. Jika dihentikan secara tiba-tiba, atau dana JKA dikurangi, dikhawatirkan masyarakat tak dapat menerimanya. Pihak penyelenggara sendiri perlu meningkatkan koordinasi dan meminimalkan gesekan dengan masyarakat, agar potensi konflik dapat diredam. Program JKA juga sebaiknya diperkuat status hukumnya ke dalam qanun khusus tentang JKA"papar dr. Safrida di Hotel Sultan, Jumat (10/8).

Sementara peneliti lain Nursiti SH M.Hum menemukan fakta tentang minimnya keterwakilan perempuan di partai politik dan lembaga legislatif. Kenyataan ini menyebabkan suara perempuan yang dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah, termasuk penguatan damai, menjadi lemah dan kurang dipedulikan.

Menurut Nursiti, fakta tersebut disebabkan oleh lemahnya komitmen parpol dalam memberikan ruang kepada perempuan di organisasi mereka formal tersebut. Dan proses kaderisasi di dalam tubuh parpol juga berjalan timpang.

"Tetapi perempuan sendiri juga cenderung membatasi diri untuk bergabung dengan parpol. Akhirnya ada parpol yang terpaksa main comot, sehingga kualitas wakil perempuan tadi tidak maksimal,"kata Nursiti.

Dosen FH Unsyiah ini mengusulkan agar parpol melakukan kaderisasi perempuan politik secara lebih terstruktur dan komprehensif di masa mendatang.

Penelitian terakhir dipaparkan oleh Nanda Amalia SH M.Hum, dosen FH Unimal Lhokseumawe, yang memotret relasi orang kampung dengan orang kampus dengan mengambil contoh kasus konflik antara masyarakat Reulet dan Blang Pulo dengan Komunitas Kampus Unimal. Konflik antar dua kelompok itu pernah dimediasi beberapa kali namun selalu gagal, yang mengakibatkan adanya gangguan yang merugikan ke dua pihak. Menurut Nanda, konflik antara lain dipicu oleh lemahnya proses akulturasi antara masyarakat kampung dengan orang kampus.

"Padahal, mereka sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain, tetapi kedua pihak tak memiliki cukup kreativitas untuk membangun hubungan yang lebih konstruktif ," tutur Nanda. (003)






Muhajir Juli
Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi:
Telp. (0651) 741 4556
Fax. (0651) 755 7304
SMS. 0819 739 00 730


Komentar Anda

Terpopuler

Seni dan Budaya

Jalan-Jalan

Berita Foto

«
»
Close